Kadin: BUMN Tekstil Bisa Menjadi Penopang Produksi Dalam Negeri

- Pemerintah berencana membentuk BUMN tekstil demi menyelamatkan industri dari impor murah.
- BUMN tekstil diharapkan dapat menyelesaikan masalah utama industri, meningkatkan efisiensi, dan mengubah wajah industri tekstil.
- Keberhasilan BUMN tekstil diukur dari berkurangnya impor bahan baku, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, dan dukungan terhadap IKM.
Jakarta, FORTUNE - Rencana pemerintah membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus sektor tekstil makin mengerucut. Ini dilakukan sebagai respons atas krisis industri padat karya, termasuk pailitnya raksasa tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex).
Keseriusan pemerintah terlihat dari pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang mengungkap rencana pendanaan jumbo sekitar US$6 miliar (setara Rp100 triliun) melalui BPI Danantara.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menegaskan fokus utama BUMN ini adalah menangani persoalan mendesak pada sektor garmen dan tekstil. Penyelamatan aset ekonomi dan tenaga kerja menjadi prioritas.
“Bagaimanapun, Sritex ini harus kita selamatkan dalam artian kegiatan ekonominya tetap harus berjalan, karena di sana kurang lebih mempekerjakan 10.000 karyawan dan cukup besar kegiatan ekonomi yang dihasilkan,” ujar Prasetyo kepada pers, Senin (19/1).
Merespons wacana tersebut, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin, mengingatkan agar pembentukan BUMN tekstil tidak terjebak menjadi sekadar proyek bisnis negara. Menurutnya, intervensi negara harus menyasar akar masalah: inefisiensi dan ketergantungan impor.
“Masalah utama industri tekstil kita adalah serbuan impor yang membuat produk dalam negeri kalah harga. Dengan skala besar dan dukungan negara, BUMN tekstil bisa menjadi penopang produksi dalam negeri, menjaga pasokan bahan baku lokal, sekaligus menekan biaya produksi melalui efisiensi energi dan teknologi,” ujar Saleh dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/1).
Mantan Menteri Perindustrian ini menekankan, strategi BUMN sebaiknya difokuskan pada sektor hulu (upstream) dan intermediate—seperti produksi serat sintetis, benang, dan kain—bukan memproduksi pakaian jadi massal yang rentan perang harga.
Ketersediaan bahan baku lokal yang murah akan menjadi "oksigen" bagi industri hilir dan industri kecil menengah (IKM).
“Kalau bahan baku dalam negeri kuat dan tersedia dengan harga kompetitif, industri hilir akan ikut bernapas,” katanya.
Selain itu, Saleh menyoroti mahalnya biaya energi sebagai faktor utama yang menggerus daya saing pabrik lokal. Ia berharap BUMN baru ini mampu menghadirkan struktur biaya energi lebih efisien.
“Selama ini pabrik kita kalah bukan karena tidak bisa produksi, tapi karena listrik dan gas mahal. Kalau BUMN tekstil bisa menghadirkan biaya energi yang lebih terkendali dan berkelanjutan, daya saing akan meningkat,” ujarnya.
Saleh optimistis, jika dikelola dengan teknologi modern dan strategi yang tepat, stigma sunset industry pada sektor tekstil bisa dipatahkan. Ia mendorong BUMN juga masuk ke segmen tekstil khusus (medis, otomotif) yang bernilai tambah tinggi.
“Keberhasilan BUMN tekstil adalah ketika industri ini tidak mati, tetapi bertransformasi—lebih efisien, modern, dan tahan terhadap guncangan impor dan tekanan global,” ujar Saleh.
















