Pasokan Energi Terganggu, Bos Aramco Wanti-wanti Risiko Bencana

Jakarta, FORTUNE - CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengingatkan bahwa gangguan terhadap pasokan energi global berpotensi memicu dampak serius bagi berbagai sektor ekonomi dunia. Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah dinilai dapat memicu efek berantai yang luas jika krisis berkepanjangan.
Nasser menekankan bahwa situasi saat ini berada pada titik yang sangat sensitif. Dalam komentarnya kepada analis dan investor pada Selasa pagi, ia menyebut konflik yang melibatkan Iran sebagai "krisis terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan ini."
Ia menjelaskan bahwa gangguan pasokan energi telah memicu dampak berantai yang meluas di berbagai sektor.
"Gangguan tersebut telah menyebabkan reaksi berantai yang parah tidak hanya pada pengiriman dan asuransi, tetapi juga ada efek domino yang drastis pada penerbangan, pertanian, otomotif, dan industri lainnya," ujar Nasser, mengutip Yahoo Finance.
Menurutnya, semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar risiko yang dihadapi pasar energi global.
βAkan ada konsekuensi bencana bagi pasar minyak dunia semakin lama gangguan tersebut berlangsung, dan semakin drastis konsekuensinya bagi ekonomi global," katanya.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Aramco meningkatkan volume pengiriman minyak melalui pipa Timur-Barat yang melintasi Arab Saudi menuju Laut Merah. Jalur ini menjadi salah satu rute alternatif utama untuk menghindari jalur strategis Selat Hormuz.
Nasser mengatakan pipa tersebut memiliki kapasitas hingga 7 juta barel per hari, dan perusahaan menargetkan dapat mencapai kapasitas maksimal itu dalam beberapa hari ke depan. Jika produksi harus dikurangi hingga batas kapasitas pipa tersebut, Aramco juga memperkirakan produksi dapat dipulihkan kembali ke tingkat normal dalam hitungan hari, bukan minggu.
Pernyataan ini memberi sinyal positif bagi pelaku pasar, mengingat sebelumnya terdapat kekhawatiran bahwa penghentian atau pengurangan produksi minyak dapat memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk kembali normal.
Sementara itu, harga minyak masih bergerak volatil di tengah ketidakpastian geopolitik. Kontrak berjangka minyak acuan internasional Brent diperdagangkan sekitar US$87,60 per barel, sedangkan minyak acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$90 per barel.
Kedua kontrak tersebut sempat melonjak di atas US$100 per barel pada Minggu malam setelah serangan AS-Israel terhadap Iran, bahkan menyentuh sekitar US$119 per barel. Namun harga kemudian turun tajam pada Senin setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa konflik dapat segera mereda.
Meski demikian, pernyataan tersebut belum tentu mampu mengatasi hambatan fisik yang menekan pasar energi global. Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, hingga kini masih tertutup bagi lalu lintas kapal tanker.

















