Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Manufaktur April Masih Ekspansi, Tapi Optimisme Pelaku Usaha Turun

Manufaktur April Masih Ekspansi, Tapi Optimisme Pelaku Usaha Turun
ilustrasi pekerja pabrik manufaktur (vecteezy.com/MALAY CHANDRA DAS)
Intinya Sih
  • Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2026 mencapai 51,75, menandakan sektor manufaktur masih ekspansif meski melambat dibanding bulan dan tahun sebelumnya.

  • Dari 23 subsektor industri, 19 masih ekspansif dengan kontribusi besar terhadap PDB, sementara subsektor tekstil, kimia, minuman, dan logam mengalami tekanan akibat gejolak global.

  • Optimisme pelaku usaha menurun dengan hanya 70,1 persen yang yakin kondisi enam bulan ke depan membaik, seiring turunnya pesanan baru dan produksi serta meningkatnya stok persediaan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan kinerja sektor manufaktur Indonesia pada April 2026 masih mencatatkan ekspansi, meski lajunya mulai melambat di tengah tekanan global. Hal ini tecermin pada Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang menggapai level 51,75 atau masih di atas ambang ekspansi. Namun, angka tersebut turun tipis dibandingkan dengan Maret 2026 yang sebesar 51,86 dan juga lebih rendah dibandingkan April tahun lalu yang mencapai 51,90.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menegaskan IKI merupakan cerminan langsung dari kondisi riil yang dihadapi pelaku industri.

“IKI ini merupakan suara industri yang kami himpun. Jadi apa yang disampaikan dalam IKI ini benar-benar adalah suara industri,” kata dia dalam acara perilisan data IKI di kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (29/4).

Ia menjelaskan, meskipun masih berada dalam fase ekspansi, sektor manufaktur pada April 2026 mengalami perlambatan.

“Industri pengolahan pada April 2026 ini masih ekspansi, meski melambat sebesar 0,11 poin dibandingkan dengan Maret,” kata Febri.

Secara sektoral, mayoritas industri masih menunjukkan pertumbuhan. Dari 23 subsektor yang dianalisis, 19 berada dalam fase ekspansi, sementara tujuh lainnya mengalami kontraksi. Subsektor yang ekspansif bahkan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian.

“Subsektor yang mengalami ekspansi memiliki kontribusi sebesar 78,9 persen terhadap PDB industri pengolahan,” ujarnya.

Kinerja tertinggi dicatatkan oleh industri pengolahan tembakau serta industri kertas dan barang dari kertas. Sementara itu, sejumlah subsektor mengalami tekanan, di antaranya industri tekstil, industri kimia, industri minuman, hingga industri logam dan alat angkut lainnya.

Menurut Febri, kondisi ini tidak terlepas dari dampak gejolak global, termasuk krisis energi akibat dinamika geopolitik.

“Kami melihat dampak krisis energi karena gejolak geopolitik memang berdampak pada subsektor tertentu, seperti industri kimia dan beberapa industri hilir lainnya, termasuk tekstil,” ujarnya.

Dari sisi komponen pembentuk IKI, perlambatan terlihat pada indikator pesanan baru dan produksi. Nilai IKI untuk pesanan baru turun menjadi 51,43, sementara produksi melemah ke level 51,34.

Sebaliknya, indikator persediaan justru meningkat menjadi 53,13, yang mengindikasikan adanya kenaikan stok di tengah permintaan yang mulai melambat.

Jika dilihat dari orientasi pasar, industri yang berorientasi ekspor masih mengalami ekspansi dengan IKI 52,28, meski melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara itu, industri yang berorientasi domestik justru mengalami peningkatan dengan IKI 50,90.

“Ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih cukup kuat menopang industri di tengah tekanan global,” kata Febri.

Meski demikian, kondisi usaha secara umum menunjukkan tanda pelemahan. Sebanyak 72,5 persen responden menyatakan kegiatan usahanya membaik atau stabil, dengan perincian 30,8 persen membaik dan 41,7 persen stabil. Namun, proporsi pelaku usaha yang menyatakan kondisi usahanya menurun meningkat menjadi 27,6 persen.

Lebih lanjut, tingkat optimisme pelaku usaha untuk enam bulan ke depan juga mengalami penurunan.

“Tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya enam bulan ke depan sebesar 70,1 persen, ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Febri.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Related Articles

See More