Pabrik Bioetanol Pertamina dan Toyota Ditargetkan Beroperasi pada 2028

Pemerintah menggandeng Pertamina NRE dan Toyota untuk membangun pabrik bioetanol terintegrasi di Lampung yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV-2028 dengan kapasitas 60.000 KL per tahun.
Lampung dipilih karena memiliki bahan baku melimpah, infrastruktur memadai, serta posisi strategis untuk memasok kebutuhan energi Sumatera dan sebagian Jawa.
Proyek ini mencakup pengembangan ekosistem ekonomi baru berbasis bioetanol, melibatkan petani hingga sektor logistik, serta membuka peluang transfer teknologi dan penguatan SDM nasional.
Jakarta, FORTUNE – Pemerintah mempercepat pengembangan industri bioetanol nasional dengan menggandeng PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Salah satu proyek yang kini disiapkan adalah pembangunan pabrik bioetanol terintegrasi di Lampung yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2028.
Proyek tersebut menjadi bagian dari strategi hilirisasi dan transisi energi nasional untuk memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya domestik. Tahap komersial proyek direncanakan dimulai pada kuartal III-2027 dengan pembangunan fasilitas bioetanol berkapasitas 60.000 kiloliter (KL) per tahun yang memanfaatkan berbagai sumber bahan baku atau multi-feedstock.
Komitmen pengembangan proyek ditegaskan melalui penandatanganan deklarasi bersama bertajuk Collaboration in Establishing Bioethanol Ecosystem Development in Lampung Province yang melibatkan Pemerintah Provinsi Lampung, PNRE, TMMIN, dan PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI).
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, mengatakan Lampung dipilih sebagai lokasi awal pengembangan ekosistem bioetanol nasional karena memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku dan dukungan infrastruktur.
“Selain itu, posisinya sangat strategis karena dapat memasok kebutuhan Sumatra dan sebagian Jawa yang merupakan pusat konsumsi energi terbesar di Indonesia. Karena itu, kami menetapkan Lampung sebagai lokasi awal pengembangan ekosistem bioetanol nasional,” kata Todotua dalam keterangannya, Rabu (10/6).
Menurutnya, proyek ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang melibatkan petani, industri pendukung, hingga sektor logistik.
Pengembangan bioetanol di Lampung merupakan tindak lanjut dari pertemuan pemerintah dengan Toyota Motor Corporation dan kunjungan ke fasilitas riset milik Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (raBit) di Fukushima, Jepang. Kerja sama tersebut membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan industri bioetanol nasional.
Dalam kunjungan lapangan ke Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan, pemerintah bersama para mitra proyek meninjau sejumlah lokasi yang diproyeksikan menjadi kawasan bioetanol terintegrasi. Hasil peninjauan menunjukkan Lampung memiliki pasokan bahan baku yang melimpah, mulai dari molases tebu, tanaman sorgum, hingga limbah biomassa.
Keunggulan tersebut memungkinkan pengembangan bioetanol generasi pertama maupun generasi kedua (second generation bioethanol) yang dinilai lebih berkelanjutan karena memanfaatkan limbah pertanian dan biomassa.
Pada tahap awal, proyek percontohan akan mencakup penanaman sorgum varietas Enryu seluas 10 hektare serta pembangunan fasilitas bioetanol berkapasitas 60 KL per tahun. Setelah itu, proyek akan memasuki tahap komersial dengan pengembangan perkebunan sorgum seluas 6.000 hektare dan pembangunan pabrik berkapasitas 60.000 KL per tahun.
Sebagai tindak lanjut, para pihak akan mempercepat pelaksanaan studi kelayakan bersama (joint feasibility study), penyusunan desain proyek, pengembangan budidaya sorgum percontohan, serta finalisasi skema pembiayaan dan kemitraan strategis.
“Yang ingin kita bangun bukan hanya pabrik, tetapi ekosistem ekonomi. Feedstock ada di sini, logistik ada di sini, masyarakat agrikulturnya juga ada di sini. Tinggal kita maksimalkan. Karena itu mari kita mulai saja. Yang penting proyek ini berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, petani, industri pendukung, serta memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Todotua.

















