Airlangga Klaim Ketergantungan RI pada Selat Hormuz Hanya 20%

Airlangga Hartarto menyebut ketergantungan Indonesia pada pasokan energi dari Selat Hormuz hanya sekitar 20%, jauh lebih rendah dibandingkan sebagian besar negara Asia lainnya.
Rendahnya ketergantungan ini memperkuat ketahanan energi nasional di tengah risiko global, karena bauran energi Indonesia didominasi batu bara dan gas domestik.
Laporan J.P. Morgan menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dalam ketahanan terhadap guncangan energi global, berkat produksi batu bara dan gas bumi yang signifikan.
Jakarta, FORTUNE - Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah, khususnya melalui Selat Hormuz, tercatat relatif rendah dibandingkan negara-negara Asia lainnya, yakni hanya sekitar 20 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, sebagian besar negara Asia memiliki ketergantungan tinggi terhadap kawasan tersebut. Temuan tersebut berasal dari forum Asia Zero Emission Community (AZEC) yang dipimpin oleh Perdana Menteri Jepang Sanae Takaicihi dan dihadiri kurang lebih 12 negara.
"70% negara Asia sangat bergantung kepada Middle East, kepada Selat Hormuz. Namun Indonesia tidak," ujar Airlangga di Jakarta, Senin (27/4).
Menurut Airlangga, rendahnya ketergantungan ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global, termasuk risiko gangguan pasokan energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
“Indonesia relatif menjaga ketahanan energi karena sebagian besar energy mix untuk listrik berbasis batu bara dan gas,” katanya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan laporan Eye on the Market yang diterbitkan J.P. Morgan Asset Management bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026. JP Morgan menetapkan Indonesia sebagai peringkat kedua dunia atas negara yang paling tahan terhadap guncangan energi global.
Ketahanan energi Indonesia ditopang terutama oleh kontribusi signifikan produksi batu bara domestik yang memenuhi sekitar 48 persen konsumsi energi akhir nasional, gas bumi domestik 22 persen, serta energi terbarukan 7 persen.
Dalam laporan tersebut, J.P. Morgan secara eksplisit mengelompokkan Indonesia bersama Tiongkok, India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina sebagai kelompok negara yang memperoleh manfaat substansial dari produksi batu bara domestik pada periode guncangan energi.
Indonesia juga dinilai memiliki tingkat eksposur langsung yang sangat rendah terhadap jalur distribusi energi global yang sedang menjadi sorotan.
Impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total konsumsi energi primer nasional. Angka ini jauh di bawah negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan (33 persen), Taiwan dan Thailand (27 persen), serta Singapura (26 persen).

















