Airlangga Ungkap Risiko Resesi RI di Bawah 5%, Lebih Rendah dari AS

- Airlangga Hartarto menyebut risiko resesi Indonesia di bawah 5%, lebih rendah dari Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada berkat fundamental ekonomi yang kuat.
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,11% dengan target 5,4% pada 2026; inflasi stabil di 3,48%, dan neraca perdagangan surplus selama 70 bulan berturut-turut.
- Lembaga internasional seperti IMF, ADB, dan JP Morgan menilai prospek ekonomi Indonesia positif dengan defisit fiskal terjaga serta ketahanan tinggi terhadap guncangan global.
Jakarta, FORTUNE - Pemerintah mengklaim bahwa risiko resesi Indonesia tetap rendah di tengah ketidakpastian global, bahkan berada di bawah 5 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sejumlah lembaga internasional menilai probabilitas resesi Indonesia masih terjaga rendah berkat fundamental ekonomi yang kuat.
“Di tengah tantangan ekonomi global, walaupun perang belum selesai, Indonesia memiliki resiliensi yang kuat dan ruang untuk tumbuh tetap tinggi,” ujarnya di Jakarta, Senin (27/4).
Menurutnya, ketahanan ekonomi Indonesia ditopang oleh berbagai indikator makro yang solid. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,11 persen pada tahun lalu, dengan target 5,4 persen pada 2026 dan proyeksi kuartal I 2026 yang bisa mencapai setidaknya 5,5 persen.
Selain itu, inflasi berada di level 3,48 persen per Maret 2026, indeks keyakinan konsumen masih tinggi di 122,9, serta neraca perdagangan mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut.
Dari sisi eksternal, Airlangga juga mengatakan bahwa kinerja ekspor tetap terjaga meski menghadapi dinamika perdagangan global, termasuk kebijakan tarif dari Amerika Serikat.
Sementara itu, konsumsi domestik yang berkontribusi sekitar 54 persen terhadap PDB juga menjadi penopang utama ekonomi. Rasio perdagangan terhadap PDB tercatat 42 persen, dengan utang luar negeri sebesar 29,9 persen dari PDB.
Di pasar keuangan, kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) didominasi investor domestik hingga 87,4 persen, sementara porsi investor asing hanya 12,6 persen.
Airlangga mengatakan, sejumlah lembaga internasional juga memberikan penilaian positif terhadap prospek ekonomi Indonesia. IMF menyebut Indonesia sebagai salah satu bright spot di Asia dengan sinergi fiskal dan moneter yang kuat serta defisit terjaga di bawah 3 persen.
ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen, sementara FTSE Russell mempertahankan status pasar modal Indonesia. Selain itu, JP Morgan Asset Management menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ketahanan tinggi terhadap guncangan energi global.


















