Defisit APBN Februari 2026 Tercatat Rp135,7 Triliun, Purbaya Sebut Masih Terkendali

- Defisit APBN hingga akhir Februari 2026 mencapai Rp135,7 triliun atau 0,53 persen dari PDB, masih sesuai dengan koridor desain APBN 2026.
- Pendapatan negara tercatat Rp398 triliun dengan pertumbuhan 12,8 persen YoY, didorong oleh penerimaan perpajakan yang solid sebesar Rp290 triliun.
- Penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp44,9 triliun meski sempat terkontraksi 14,7 persen, namun data terbaru menunjukkan pertumbuhan positif sekitar 7 persen secara tahunan.
Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa defisit APBN hingga akhir Februari 2026 tercatat Rp135,7 triliun atau 0,53 persen dari PDB. Purbaya menegaskan bahwa angka tersebut masih berada dalam Koridor desain APBN 2026.
Ia menjelaskan, defisit tersebut disebabkan oleh desain APBN yang mendorong belanja secara lebih merata sepanjang tahun, sehingga dampak belanja pemerintah terhadap perekonomian lebih terasa.
“Jadi secara keseluruhan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi untuk mendorong ekonomi, serta defisit yang tetap terkendali menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTa yang dikutip secara virtual, Rabu (11/3).
Pendapatan negara yang tercatat sebesar Rp398 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target APBN, dengan pertumbuhan 12,8 persen secara year on year (YoY).
Kinerja tersebut didorong oleh penerimaan perpajakan yang solid. Secara terperinci, penerimaan perpajakan mencapai Rp290 triliun, tumbuh 20,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Di dalamnya, penerimaan pajak mencapai Rp245,1 triliun dengan pertumbuhan yang sangat kuat yaitu 30,4 persen secara keseluruhan,” tuturnya.
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat Rp44,9 triliun atau 13,4 persen dari target. Angka tersebut mengalami kontraksi 14,7 persen, yang dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas dan produksi industri.
“Tapi informasi terakhir data kemarin sudah tumbuh lagi, secara year-on-year untuk cukai itu tumbuhnya sudah 7 persen, jadi kita ke depan masih mengharapkan target dari penerimaan biaya cukai tercapai bahkan mungkin bisa melebihi,” ujarnya.
Purbaya menuturkan, secara keseluruhan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, serta defisit yang terkendali menunjukkan bahwa APBN berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
“Realisasi APBN hingga 28 Februari 2026 menunjukkan kinerja fiskal yang tetap kuat dan terjaga dengan pendapatan negara yang tumbuh positif serta belanja negara yang teraksorasi untuk mendukung aktivitas ekonomi,” katanya.


















