Prabowo Instruksikan Airlangga Amankan Masa Depan Industri Tekstil

- Prabowo meminta Airlangga melindungi industri tekstil dari dampak perang dagang global.
- Pemerintah menyetujui pendanaan insentif US$6 miliar untuk modernisasi dan peningkatan daya saing ekspor industri tekstil.
- Target ekspor tekstil meningkat menjadi US$40 miliar dalam 10 tahun.
Jakarta, FORTUNE - Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian serius terhadap keberlanjutan industri tekstil nasional di tengah ketidakpastian global dan memanasnya perang dagang.
Dalam pertemuan yang digelar di Hambalang, Jawa Barat, Minggu (11/1), Prabowo secara khusus meminta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyiapkan langkah strategis untuk mempertahankan sektor tekstil sebagai salah satu tulang punggung industri manufaktur Indonesia.
Airlangga mengungkapkan, sektor tekstil dinilai sebagai industri yang paling terbuka dan rentan terdampak dinamika perdagangan global. Namun, pada saat yang sama, sektor ini justru memiliki peluang besar untuk terus tumbuh karena kebutuhan tekstil bersifat berkelanjutan di hampir seluruh negara.
“Dari hasil studi [kami] Indonesia berpotensi menjadi lima pemain besar tekstil dunia karena dari segi pertumbuhan, sektor tekstil ini selalu akan dibutuhkan,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, dikutip Senin (12/1).
Sebagai tindak lanjut arahan tersebut, Prabowo telah menyetujui tahap awal pembentukan pendanaan insentif untuk melengkapi rantai nilai (value chain) industri tekstil nasional. Kebutuhan pendanaan awal diperkirakan mencapai sekitar US$6 miliar.
Pendanaan ini diarahkan untuk memperkuat hulu hingga hilir industri, termasuk modernisasi mesin, efisiensi produksi, dan peningkatan daya saing ekspor.
Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan langkah lebih struktural dengan rencana membangun ulang BUMN atau Danantara, yang akan secara khusus menangani sektor tekstil. Melalui skema ini, pemerintah menargetkan lonjakan signifikan kinerja industri tekstil nasional dalam satu dekade ke depan.
Nilai ekspor tekstil yang saat ini berkisar US$4 miliar ditargetkan meningkat menjadi US$40 miliar dalam 10 tahun.
Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja pada sektor tekstil diharapkan naik dari sekitar 4 juta orang menjadi 6 juta orang, atau bertambah sekitar 2 juta pekerja.
“Ini bukan hanya soal ekspor, tetapi juga menjaga industri padat karya agar tetap hidup dan mampu menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan,” kata Airlangga.
Di luar tekstil, pemerintah juga mencermati tekanan global terhadap sektor industri elektronik.
Menurut Airlangga, Kemenko Perekonomian telah menjalin komunikasi dengan perusahaan semikonduktor global asal Inggris yang menyatakan minat menjadi mitra strategis Indonesia.
Sejalan dengan itu, pemerintah berencana membentuk BUMN khusus pada bidang semikonduktor, dengan fokus utama penguatan sumber daya manusia.
Industri ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masa depan, mulai dari otomotif, internet of things (IoT), komputer personal, data center, hingga layanan komputasi awan.
Dalam konteks makro, Airlangga menegaskan di tengah ketidakpastian global, fundamental ekonomi Indonesia tetap solid.
Risiko resesi Indonesia dinilai termasuk yang terendah ketimbang negara lain, dengan pertumbuhan ekonomi yang mampu dijaga pada kisaran 5 persen selama tujuh tahun terakhir.
Sepanjang 2025, pemerintah telah menyalurkan stimulus fiskal senilai Rp110,7 triliun, diperkuat dengan berbagai program non-APBN seperti Harbolnas, BINA, dan EPIC Sale.
Memasuki 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen dengan mengandalkan sektor-sektor prioritas, termasuk penguatan industri, UMKM, investasi, dan perdagangan.


















