Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Mendag Akan Temui Pelaku Usaha Bahas Dampak Penutupan Selat Hormuz

Mendag Akan Temui Pelaku Usaha Bahas Dampak Penutupan Selat Hormuz
ilustrasi kapal kargo yang mencerminkan aktivitas perdagangan modern di Piraeus (pexels.com/Attie Heunis)
Intinya Sih
5W1H
  • Pertemuan dengan pelaku usaha ditujukan untuk membahas dampak penutupan selat.

  • Pemerintah memetakan peluang pasar baru bagi UMKM melalui program business matching.

  • Kementerian Perdagangan juga mengantisipasi potensi gangguan industri dalam negeri.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, berencana bertemu dengan para pelaku usaha dan eksportir demi membahas dampak gangguan rantai pasok global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz.

Pertemuan tersebut dijadwalkan untuk menggali masukan langsung dari dunia usaha mengenai potensi gangguan perdagangan Indonesia, baik dari sisi ekspor maupun impor.

“Besok kami akan bertemu para eksportir untuk membahas problemnya apa saja. Saya ingin tahu secara teknis, supaya jelas masalahnya di mana,” kata Budi Santoso saat ditemui di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (5/3)

Menurut dia, konflik geopolitik biasanya berdampak langsung pada perdagangan global karena mengganggu rantai pasok internasional. Ketika jalur distribusi terganggu, sejumlah negara bisa mengalami hambatan ekspor maupun impor.

“Kalau krisis geopolitik itu biasanya akan mengubah pola perdagangan. Global supply chain yang terganggu, secara global pasti ada yang ekspornya terhambat, termasuk juga impornya terhambat,” ujarnya.

Namun di sisi lain, Budi menilai kondisi tersebut juga dapat membuka peluang baru bagi Indonesia. Ketika suatu negara tidak mampu memasok pasar tertentu akibat gangguan logistik atau produksi, maka akan muncul ruang bagi pemasok baru untuk mengisi kekosongan tersebut.

“Justru ada celah yang kosong. Ketika sebuah pasar tidak disuplai oleh negara lain, berarti ada peluang bagi kita untuk masuk,” kata dia.

Kementerian Perdagangan pun mulai memetakan pasar-pasar potensial yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha nasional, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Budi menjelaskan UMKM relatif lebih fleksibel dalam menyesuaikan ekspor jangka pendek dibandingkan perusahaan besar yang biasanya memiliki kontrak perdagangan jangka panjang.

“UMKM itu sebenarnya lebih mudah karena banyak yang ekspornya jangka pendek. Kita tinggal lihat pasar mana yang bisa dijalani,” ujarnya.

Melalui program business matching, pemerintah mulai mengarahkan ekspor UMKM ke sejumlah kawasan yang dinilai memiliki peluang akibat gangguan pasokan global, seperti negara-negara di Asia Tenggara dan Afrika.

Ia menyebutkan pada Januari lalu transaksi dari program tersebut sudah mencapai sekitar US$4 juta.

“Sekarang kami sudah memetakan negara-negara seperti Asia Tenggara dan Afrika untuk mengisi kekosongan pasar,” kata Budi.

Meski demikian, pemerintah tetap mengantisipasi potensi gangguan pada sektor industri dalam negeri, terutama yang bergantung pada bahan baku impor.

Produk-produk yang menggunakan bahan baku dari luar negeri dinilai paling rentan terdampak jika jalur perdagangan global terganggu akibat konflik.

“Yang jelas produk-produk yang menggunakan bahan baku impor itu yang perlu kita perhatikan,” ujar Budi.

Ia menambahkan, pemerintah belum dapat menghitung secara pasti potensi penurunan ekspor Indonesia akibat situasi geopolitik tersebut. Kajian awal sudah dilakukan bersama Badan Kebijakan Perdagangan, namun pemerintah masih membutuhkan masukan langsung dari para pelaku usaha.

“Kami belum bisa menghitung sebelum mendapat masukan dari pengusaha. Karena situasinya masih berkembang,” katanya.

Situasi perdagangan global saat ini ikut tertekan akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Ketegangan meningkat setelah serangkaian serangan militer yang saling dibalas antara pihak-pihak tersebut, memicu eskalasi konflik di kawasan Teluk. Situasi ini berdampak pada keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz—jalur laut strategis yang menjadi pintu keluar utama minyak dan berbagai komoditas dari kawasan Teluk Persia menuju pasar global.

Akibat ketegangan militer yang meningkat, sejumlah perusahaan pelayaran dan logistik global mulai menunda atau mengalihkan rute pengiriman. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kenaikan biaya logistik, keterlambatan pengiriman barang, serta gangguan pada pasokan bahan baku industri.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah Indonesia berharap konflik dapat segera mereda agar stabilitas perdagangan global kembali pulih.

“Harapan kita perang ini segera selesai,” kata Budi.

 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in News

See More