Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Konflik Timur Tengah Memanas, Kemenkeu: Berpotensi Tekan Ekspor

Konflik Timur Tengah Memanas, Kemenkeu: Berpotensi Tekan Ekspor
ilustrasi ekspor (pexels.com/Martin Damboldt)
Intinya Sih
  • Kemenkeu menilai konflik Timur Tengah bisa menekan ekspor nasional akibat pelemahan permintaan global, kenaikan biaya logistik, dan gangguan rantai pasok energi serta volatilitas pasar keuangan.
  • Pemerintah terus memantau risiko geopolitik dan menjaga stabilitas ekonomi dengan mengelola APBN hati-hati agar defisit tetap di bawah 3 persen dari PDB.
  • Langkah mitigasi dilakukan lewat percepatan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing ekspor bernilai tambah, serta diversifikasi mitra dagang melalui perjanjian internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi menekan kinerja ekspor nasional melalui pelemahan permintaan eksternal dan peningkatan biaya logistik.

“Risiko gangguan terhadap rantai pasok global, terutama pasokan energi dan minyak bumi, serta peningkatan volatilitas pasar keuangan global menjadi perhatian utama,” ungkap Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (3/3).

Saat ini, Pemerintah terus memantau risiko global akibat konflik Timur Tengah, khususnya pasca serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 288 Februari 2026 yang diikuti penutupan Selat Hormuz.

“Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi mempengaruhi perekonomian nasional,” ujarnya.

Menurut Febrio, fundamental eksternal Indonesia saat ini tetap baik, tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut.

“APBN akan terus dikelola secara hati-hati, termasuk dengan menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3 persen PDB,” tuturnya.

Lebih lanjut, pemerintah akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menyiapkan upaya mitigasi risiko melalui percepatan keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor bernilai tambah, serta diversifikasi mitra dagang utama melalui perjanjian perdagangan internasional. 

Perjanjian perdagangan internasional tersebut dilakukan untuk memperluas akses pasar dan memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Kinerja Manufaktur Indonesia sendiri melanjutkan tren ekspansif pada Februari 2026. PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,8, dibanding 52,6 pada Januari 2026. Penguatan ini didorong oleh lonjakan permintaan baru yang diimbangi pertumbuhan produksi secara signifikan.

Sementara itu, kinerja perdagangan luar negeri Januari 2026 tetap terjaga. Neraca perdagangan surplus US$0,95 miliar. Surplus ditopang oleh kinerja ekspor yang mencapai US$22,16 miliar, atau tumbuh 3,39 persen, didorong oleh ekspor nonmigas.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in News

See More