Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Purbaya Bidik US$1 Miliar dari Panda Bonds, Yakin Diburu Investor

Purbaya Bidik US$1 Miliar dari Panda Bonds, Yakin Diburu Investor
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers, Selasa (21/7). Dok Tangkapan Layar Youtube Kementerian Keuangan
Intinya Sih
  • Pemerintah Indonesia akan menerbitkan Panda Bonds senilai US$1 miliar di pasar obligasi Cina pada 23 Juli 2025 sebagai langkah awal menjajaki sumber pembiayaan baru.
  • Purbaya Yudhi Sadewa optimistis minat investor tinggi berkat peringkat kredit AAA/Stable dari Lianhe Credit Rating yang mencerminkan kekuatan ekonomi dan stabilitas APBN Indonesia.
  • Bank of China ditunjuk sebagai lead underwriter, didukung sejumlah bank besar Cina lainnya, menandakan antusiasme tinggi terhadap surat utang Indonesia dan peluang penerbitan lanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersiap memasuki pasar obligasi Cina melalui penerbitan Panda Bonds yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 23 Juli 2025. Pada penerbitan perdana ini, pemerintah membidik penghimpunan dana sebesar US$1 miliar dan optimistis instrumen tersebut akan mendapat sambutan kuat dari investor.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan target tersebut sengaja dipatok konservatif karena penerbitan Panda Bonds menjadi langkah awal pemerintah menjajaki pasar obligasi domestik Cina. Meski demikian, ia memperkirakan minat investor akan jauh lebih besar daripada nilai yang ditawarkan.

“Targetnya 1 miliar dolar, karena ini pasar baru, kita jajaki dulu, walaupun mungkin bid-nya gede sekali. Cuma kita batasi 1 miliar dolar,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA edisi Juni 2026, Selasa (21/7).

Menurut Purbaya, optimisme tersebut didukung oleh peringkat kredit AAA/Stable yang diberikan Lianhe Credit Rating pada 1 Juli 2026. Penilaian itu, kata dia, mencerminkan kepercayaan terhadap kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta fundamental ekonomi Indonesia.

“Pertimbangan mereka kenapa memberikan AAA? Ekonomi tetap kuat di atas 6 persen, fundamental ekonomi solid, didukung skala ekonomi terbesar di Asia Tenggara,” ujar Purbaya.

Ia juga menilai Indonesia memiliki kemampuan menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global sehingga tetap menarik bagi investor internasional. “Terutama terhadap guncangan eksternal, kita memang jago. Ada gonjang-ganjing kita tetap kuat kan? Orang Indonesia saja yang enggak percaya, sangkanya saya nipu angkanya. Enggak, kita enggak pernah nipu angka,” ujar dia.

Apabila penerbitan perdana mendapat respons sesuai harapan, pemerintah membuka peluang kembali menawarkan Panda Bonds dalam nominal yang lebih besar beberapa bulan mendatang. “Nanti kalau perlu, beberapa bulan kita isu lagi dalam jumlah yang lebih besar,” kata Purbaya.

Dalam proses penerbitannya, pemerintah menunjuk Bank of China (BOC) sebagai lead underwriter sekaligus lead bookrunner. Sementara Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), China International Trust & Investment Corporation (CITIC), China International Capital Corporation Limited (CICC), dan DBS bertindak sebagai joint underwriters dan joint bookrunners. Selain itu, Agricultural Bank of China (ABC), China Construction Bank (CCB), dan China Exim Bank (CEXIM) turut bergabung sebagai co-managers dalam transaksi tersebut.

Purbaya mengatakan keterlibatan sejumlah lembaga keuangan besar di Cina menunjukkan tingginya minat terhadap surat utang Indonesia. Bahkan, beberapa institusi yang bergabung sebagai co-manager disebut telah menyampaikan keinginan untuk mengambil peran yang lebih besar pada penerbitan berikutnya. “Ini semuanya gede, yang ikut co-manager, karena mereka terlambat masuk, mereka bilang ke depan mereka akan menjadi, entah jadi Underwriter juga ya. Jadi, respons dari Cina terhadap surat utang kita amat bagus,” kata Purbaya.

Penerbitan Panda Bonds ini menjadi salah satu upaya pemerintah memperluas basis investor sekaligus mendiversifikasi sumber pembiayaan negara. Dengan memanfaatkan pasar obligasi Cina yang besar, pemerintah berharap dapat memperoleh alternatif pendanaan yang kompetitif untuk mendukung kebutuhan pembiayaan APBN di masa mendatang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More