Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ini Daftar Sektor Penyumbang Pajak Terbanyak per April 2026
ilustrasi pajak (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)
  • Pemerintah mencatat penerimaan pajak Rp646,3 triliun hingga April 2026, setara 27,4% target APBN dan tumbuh 16,1% dibanding tahun lalu.

  • Sektor perdagangan jadi penyumbang pajak terbesar Rp161 triliun atau 24,9%, diikuti industri pengolahan Rp145,3 triliun dan pertambangan Rp56,7 triliun.

  • Jenis pajak terbesar berasal dari PPN dan PPnBM senilai Rp221,2 triliun yang tumbuh 40,2%.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE — Setelah pemerintah mencatat penerimaan pajak sebesar Rp646,3 triliun hingga April 2026, daftar sektor penyumbang pajak terbanyak di Indonesia menjadi perhatian.

Nilai penerimaan pajak tersebut setara 27,4 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun dan tumbuh 16,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pertumbuhan penerimaan pajak tahun ini menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pajaknya sendiri tumbuhnya 16 persen ya, dan kita akan dorong terus ke 20 persen,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta di Jakarta, dikutip Kamis (21/5).

Daftar sektor penyumbang pajak terbanyak didominasi perdagangan

Berdasarkan sektor usaha, penerimaan pajak terbesar berasal dari sektor perdagangan. Hingga 30 April 2026, setoran pajak dari sektor ini tercatat mencapai Rp161 triliun atau berkontribusi 24,9 persen terhadap total penerimaan pajak.

Secara neto, penerimaan pajak sektor perdagangan tumbuh 47,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut ditopang perdagangan bahan bakar minyak (BBM).

Purbaya menilai kenaikan penerimaan dari sektor perdagangan masih sejalan dengan aktivitas konsumsi masyarakat.

“Perdagangan tumbuh 16,2 persen. Jadi masih ada yang beli tuh,” ujarnya.

Kinerja perdagangan daring juga disebut salah satu faktor yang menopang pertumbuhan setoran pajak sektor ini, terutama karena transaksi e-commerce terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Industri pengolahan jadi kontributor pajak terbesar kedua

Kontributor terbesar berikutnya berasal dari sektor industri pengolahan. Penerimaan pajak dari sektor tersebut mencapai Rp145,3 triliun atau setara 22,5 persen dari total penerimaan pajak nasional.

Secara tahunan, sektor industri pengolahan tumbuh 8,4 persen. Purbaya menyebut pertumbuhan ini didorong subsektor industri minyak kelapa sawit yang mencatat peningkatan profitabilitas.

Industri pengolahan masih menjadi salah satu tulang punggung penerimaan negara karena memiliki basis usaha yang luas, mulai dari makanan dan minuman hingga industri berbasis komoditas.

Pertambangan dan konstruksi ikut menopang penerimaan pajak

Setoran pajak dari sektor pertambangan tercatat sebesar Rp56,7 triliun dengan kontribusi 8,8 persen terhadap total penerimaan pajak hingga April 2026.

Penerimaan dari sektor ini tumbuh 6,8 persen secara neto, ditopang subsektor pertambangan minyak dan gas bumi. Menurut Purbaya, pergerakan harga komoditas global masih memengaruhi penerimaan sektor tersebut.

“Pertambangan juga walaupun ribut-ribut masih tumbuh juga mungkin karena harga dunia yang bagus,” kata Purbaya.

Sementara itu, sektor konstruksi dan real estat menyumbang Rp24,2 triliun atau sekitar 3,7 persen dari total penerimaan pajak. Pertumbuhannya tercatat lebih terbatas, yakni 0,8 persen.

Menurut Purbaya, subsektor real estate milik sendiri masih menjadi penopang utama penerimaan pajak dari sektor tersebut. Ia juga menilai peningkatan penjualan semen berpotensi mendorong pertumbuhan sektor konstruksi.

“Tapi saya pikir kalau dari penjualan semen karena naik kencang ya. Ini pasti bentar lagi naik,” ujarnya.

PPN dan PPnBM jadi penyumbang penerimaan pajak terbesar

Jika dilihat berdasarkan jenis pajaknya, penerimaan terbesar berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Hingga April 2026, penerimaan dari dua jenis pajak tersebut mencapai Rp221,2 triliun, tumbuh 40,2 persen secara tahunan.

Selanjutnya, penerimaan dari Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan deposito PPh Badan tercatat sebesar Rp135,2 triliun dengan pertumbuhan 5,1 persen.

PPh orang pribadi dan PPh Pasal 21 juga meningkat signifikan menjadi Rp101,1 triliun atau tumbuh 25,1 persen. Adapun PPh final, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 26 mencapai Rp109,1 triliun dengan pertumbuhan 9,8 persen.

Di sisi lain, penerimaan pajak lainnya tercatat Rp79,7 triliun atau mengalami kontraksi 12 persen.

Purbaya menyatakan pertumbuhan penerimaan dari pajak konsumsi dan pajak penghasilan menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih berjalan.

“Berarti kan kuat. Padahal di luar banyak yang bilang daya beli sedang hancur. Ini yang bikin saya bingung sebetulnya. Tapi ini yang kita lihat, bukan perasaan saya, ini data yang berbunyi seperti ini,” ujarnya.

Selain pajak, pemerintah juga mencatat penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp100,6 triliun atau 29,9 persen dari target APBN. Sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp171,3 triliun atau 37,3 persen dari target tahun ini.

FAQ seputar sektor penyumbang pajak terbanyak

Berapa realisasi penerimaan pajak hingga April 2026?

Penerimaan pajak tercatat sebesar Rp646,3 triliun hingga akhir April 2026.

Pajak jenis apa yang penerimaannya paling besar?

Penerimaan terbesar berasal dari PPN dan PPnBM. Kedua jenis pajak ini tumbuh tinggi.

Penyumbang pajak terbesar dari sektor apa?

Sektor perdagangan menjadi penyumbang terbesar dengan setoran Rp161 triliun.

Berapa kontribusi sektor industri pengolahan terhadap pajak?

Industri pengolahan menyumbang Rp145,3 triliun atau 22,5 persen dari total penerimaan pajak.

Industri mana yang membayar pajak paling banyak?

Industri yang membayar pajak paling banyak di Indonesia saat ini adalah sektor perdagangan berdasarkan data penerimaan pajak hingga April 2026.

Editorial Team