Jakarta, FORTUNE - Danantara dikabarkan akan mengumpulkan dana US$1,2 miliar atau setara Rp20 triliun melalui penerbitan Patriot Bond pada semester I-2026.
Dilansir oleh Bloomberg, penjualan obligasi tersebut akan menargetkan pengusaha pada sektor kelapa sawit, juga para elite bisnis yang belum menjadi pembeli Patriot Bond pertama yang dirilis pada 2025.
Bloomberg juga mewartakan bahwa upaya Danantara mencari modal tambahan tersebut ditujukan meningkatkan investasinya di pasar domestik dan internasional.
Sejauh ini, Danantara telah mengumpulkan sekitar US$5 miliar dalam bentuk dividen dari BUMN.
Belum ada perwakilan Danantara yang memberikan komentar atas kabar tersebut.
Pada tahun lalu, Danantara telah mengantongi dana Patriot Bond senilai kurang lebih Rp50 triliun, yang akan dipakai sebagai solusi pendanaan proyek berkelanjutan.
Ada 46 nama taipan yang disebut-sebut resmi terdaftar sebagai investor surat utang dengan total dana Rp51,57 triliun, mengacu pada dokumen yang beredar di media sosial.
Dikutip dari IDN Times, kontribusi tertinggi nama-nama dalam daftar itu mencapai Rp3 triliun, yang mencakup:
Antony Salim (Grup Salim dan DCII);
Prajogo Pangestu (Grup Barito);
Sugianto "Aguan" Kusuma (Agung Sedayu dan Erajaya);
Franky Widjaja (Grup Sinar Mas);
Boy Thohir dan Erwin Soeryadjaya (Grup Adaro dan Saratoga);
Budi Hartono (Grup Djarum);
Low Tuck Kwong (Bayan Resources).
Sebagai konteks, Patriot Bond adalah surat utang perdana yang diterbitkan oleh Danantara. Pemerintah berjanji akan membayar kembali jumlah pokok pinjaman beserta bunga sesuai kesepakatan. Instrumen ini diterbitkan dalam dua seri, yakni jangka tenor lima tahun dan tujuh tahun dengan imbal hasil 2 persen.
Tujuan penerbitan instrumen investasi ini adalah sebagai sumber pendanaan jangka menengah hingga panjang yang stabil. Hasil dananya akan diinvestasikan pada sektor energi, transisi, dan lainnya.
Skema yang dipakai berupa private placement, artinya Patriot Bond tidak ditawarkan secara massal di pasar terbuka.
Instrumen investasi ini ditujukan kepada kelompok investor terpilih, khususnya kelompok usaha.
