Jakarta, FORTUNE — Vivere Group menggelar DFL Conference 2026 bertema “The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology” di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/10).
Konferensi ini menyoroti redefinisi fungsi ruang kerja yang kini bergeser dari sekadar lokasi menyelesaikan tugas menjadi pusat kolaborasi, fleksibilitas, dan kesejahteraan pekerja berbasis teknologi.
Transformasi pola kerja memaksa perusahaan mengevaluasi efisiensi investasi propertinya. Kantor modern kini dirancang memfasilitasi kebutuhan budaya organisasi serta karakter para pekerja.
Design Director Studio Yruna, Fayruzka Juanita, menekankan pentingnya pemahaman arah bisnis sebelum merancang fasilitas fisik. Ketidaksesuaian desain dengan budaya organisasi berpotensi mengganggu kinerja perusahaan.
“Perusahaan terkadang hanya melihat kantor itu sebagai tempat orang kerja saja, bukan tempat mereka bisa berkembang, mereka punya potensi apa yang bisa didorong, dan fasilitas apa yang bisa mendorong itu,” ujarnya dalam konferensi pers DFL Conference 2026.
Fayruzka memperkirakan integrasi teknologi dan kecerdasan buatan (AI) akan mendominasi pengembangan kantor dalam lima tahun mendatang. Penerapan sistem pemesanan ruang rapat dan penjadwalan digital terbukti memangkas beban kerja administratif sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan area.
Tren ini sejalan dengan temuan JLL dalam Global Occupancy Planning Benchmark Report 2026. Laporan tersebut mencatat tingkat utilisasi kantor secara global mencapai 56 persen.
Perusahaan global kini memanfaatkan data untuk beralih dari meja kerja permanen menuju ruang bersama. Konsep baru ini memprioritaskan fasilitas seperti focus room, phone booth, hingga ruang rapat berukuran kecil.
Salah satu solusi yang merambah pasar domestik adalah Framery, pod kantor kedap suara yang didistribusikan VIVERE Commercial. Bilik ini dirancang khusus untuk panggilan pribadi, pekerjaan berkonsentrasi tinggi, serta pertemuan terbatas.
President Director Vivere, William Simiadi, menegaskan pergeseran kebutuhan ini menuntut sinergi dari seluruh ekosistem industri. Ekosistem tersebut mencakup desainer, kontraktor, manufaktur, konsultan properti, pemilik gedung, hingga pengguna akhir.
“Perubahan terkait workspace cukup cepat. Kebutuhan dari perusahaan, orang, dan organisasi juga berubah. Kami merasa perlu satu wadah bagaimana kita sama-sama meningkatkan industri ini,” katanya.
Di sisi lain, aspek keberlanjutan dan inklusivitas menjadi perhatian mendasar. Managing Director Designpartners Indonesia, Naila Djatnika, menjelaskan efisiensi energi dapat dicapai lewat pemanfaatan sensor pencahayaan, water filter, serta teknologi blinds penahan panas matahari.
Naila turut menyoroti kemudahan akses bagi pekerja penyandang disabilitas di area kerja.
“Semua area harus bisa ada akses untuk para pemakai kursi roda. Itu dipikirkan juga,” katanya.
Perubahan demografi tenaga kerja juga memengaruhi tata ruang kantor. Head of People and Culture IDN, Audya Medina, menyebut kehadiran Gen Z mendorong penyediaan fasilitas yang memberi nilai tambah bagi pekerja.
Sebagai contoh, IDN menyediakan sleeping room dan area multifungsi yang fleksibel untuk berbagai aktivitas harian karyawan.
“Sleeping room ada karena memang dibutuhkan karyawan. Ada juga ruang multifungsi: bisa untuk makan siang dan aktivitas lain. Namun, semua pemanfaatan ruang harus melihat demografi karyawan dan memberikan value,” ujar Audya.
