Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekspor CPO Agustus 2026 Naik 31,83% Ditopang Produksi yang Menguat
Konfrensi Pers Paparan Kinerja Industri Sawit, oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki)
  • Ekspor CPO pada Agustus 2026 meningkat 31,83 persen secara bulanan menjadi 329.000 ton, turut mendorong total ekspor produk sawit.

  • Nilai ekspor produk sawit Agustus mencapai US$4,29 miliar, sedangkan capaian kumulatif Januari–Agustus 2026 mencapai US$27,55 miliar.

  • Konsumsi sawit dalam negeri meningkat, terutama dari biodiesel, sementara volume ekspor hingga akhir tahun diperkirakan sedikit turun karena serapan domestik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Januari–Agustus 2026

Ekspor produk sawit mencapai 23,37 juta ton, sedangkan total produksi CPO dan PKO mencapai 41 juta ton. Nilai ekspor tercatat US$27,55 miliar.

Agustus 2026

Ekspor CPO meningkat menjadi 329.000 ton dan total ekspor produk sawit mencapai 3,59 juta ton. Nilai ekspor produk sawit mencapai US$4,29 miliar.

Jumat (9/10)

Hadi Sugeng Wahyudiono menyampaikan kinerja industri sawit dalam konferensi pers paparan kinerja industri sawit.

semester 2

Penerapan B50 disebut meningkatkan konsumsi produk sawit melalui sektor biodiesel.

per Oktober

Penerapan B50 disebut efektif dan outlook konsumsi biodiesel diperkirakan menjadi 14,7 juta ton.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Ekspor CPO pada Agustus 2026 meningkat 31,83 persen menjadi 329.000 ton, sementara total ekspor produk sawit naik 12,56 persen menjadi 3,59 juta ton.
  • Who?
    Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat kenaikan ekspor tersebut. Sekretaris Jenderal Gapki Hadi Sugeng Wahyudiono menyampaikan penjelasan.
  • Where?
    Perkembangan ekspor, produksi, dan konsumsi produk sawit terjadi di Indonesia.
  • When?
    Peningkatan ekspor tercatat pada Agustus 2026, dengan perbandingan terhadap Juli 2026 dan periode Januari–Agustus 2026.
  • Why?
    Volume ekspor meningkat karena produksi tetap tinggi. Hingga akhir tahun, volume diperkirakan sedikit turun karena serapan konsumsi dalam negeri semakin besar.
  • How?
    Kenaikan ekspor didorong CPO dan produk olahan minyak sawit, sedangkan konsumsi domestik meningkat terutama dari sektor biodiesel setelah penerapan B50.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ekspor CPO Indonesia naik pada Agustus 2026. Gapki mencatat jumlahnya menjadi 329.000 ton. Nilai ekspor produk sawit juga naik menjadi US$4,29 miliar. Produksi sawit masih tinggi, tetapi konsumsi di dalam negeri ikut bertambah, terutama untuk biodiesel. Hadi dari Gapki mengatakan ekspor sampai akhir tahun diperkirakan sedikit turun karena kebutuhan dalam negeri lebih besar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kinerja ekspor sawit menunjukkan penguatan pada Agustus 2026, baik dari sisi volume maupun nilai. Produksi CPO dan PKO secara kumulatif juga tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya. Di dalam negeri, peningkatan konsumsi biodiesel memperlihatkan adanya penyerapan produk sawit melalui penerapan B50, meski konsumsi pangan mengalami penurunan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Ekspor minyak mentah kelapa sawit (CPO) dalam negeri naik seiring kenaikan produksi.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat ekspor untuk CPO pada Agustus 2026 meningkat 31,83 persen menjadi 329.000 ton dari 249.000 ton pada Juli 2026. Kenaikan ini turut mendorong total ekspor produk sawit naik 12,56 persen secara bulanan menjadi 3,59 juta ton.

Selain CPO, kenaikan ekspor juga terjadi pada produk olahan minyak sawit yang naik 15,12 persen menjadi 2,64 juta ton dan olahan minyak inti sawit sebesar 14,58 persen menjadi 113.000 ton.

Sebaliknya, ekspor oleokimia turun 6,74 persen menjadi 501.000 ton, sedangkan ekspor minyak inti sawit mentah atau CPKO merosot 62,54 persen menjadi 3.000 ton.

Secara kumulatif, ekspor produk sawit sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai 23,37 juta ton, naik 2,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 22,70 juta ton.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) GAPKI, Hadi Sugeng Wahyudiono mengatakan, volume ekspor terus meningkat ditopang produksi yang tetap tinggi. Namun, sampai akhir tahun volume ekspor diperkirakan sedikit turun 3,8 persen karena serapan konsumsi dalam negeri semakin besar.

"Saat ini Indonesia adalah produsen terbesar, konsumen terbesar, dan juga eksportir terbesar kelapa sawit," kata dia dalam konfrensi pers paparan kinerja industry sawit, Jumat (9/10).

Dari sisi nilai, ekspor produk sawit pada Agustus 2026 mencapai US$4,29 miliar, meningkat 12,62 persen dibandingkan Juli sebesar US$3,81 miliar.

Secara kumulatif sejak awal tahun hingga Agustus 2026, nilai ekspor produk sawit tercatat US$27,55 miliar, tumbuh 11,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$24,78 miliar. Capaian tersebut ditopang harga CPO yang terus menguat mencapai US$1.140 per ton, naik dari US$1.075 per ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi produksi, pada Agustus 2026 CPO yang diproduksi turun 0,50 persen menjadi 4,88 juta ton dari 4,90 juta ton pada Juli. Produksi minyak inti sawit atau PKO juga turun menjadi 464.000 ton dari 466.000 ton.

Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO per Agustus saja sebesar 5,34 juta ton, turun 0,50 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski turun secara bulanan, total produksi CPO dan PKO sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai 41 juta ton, tumbuh 5,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 39,04 juta ton.

Sementara itu, konsumsi produk sawit di dalam negeri pada Agustus 2026 naik 1,28 persen menjadi 2,30 juta ton dari 2,28 juta ton pada Juli. Kenaikan terutama berasal dari sektor biodiesel yang meningkat 5,03 persen menjadi 1,35 juta ton. Sebaliknya, konsumsi untuk pangan turun 3,79 persen menjadi 775.000 ton.

Hadi menjelaskan minyak sawit tetap bertahan di tengah kondisi perminyakan global yang rentan. Indonesia sendiri telah menerapkan B50 atau solar yang mengandung campuran 50 persen bahan bakar berbasis CPO. Lantaran penerapan program tersebut, konsumsi produk sawit meningkat.

"Outlooknya nanti biodiesel itu akan menjadi 14,7 juta ton. Ini karena penerapan B50 di semester 2 yang efektifnya per Oktober," kata Hadi.

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article