Jakarta, FORTUNE – Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia terus menunjukkan momentum, ditopang oleh meningkatnya adopsi layanan daring di sektor pendidikan, perdagangan, hingga layanan publik. Namun, di balik lonjakan aktivitas digital tersebut, ada tantangan mendasar yang kerap luput dari sorotan, yaitu kesiapan dan pemerataan infrastruktur digital.
Penetrasi fixed broadband di Indonesia masih relatif rendah. Jumlah pelanggan internet tetap tercatat sekitar 4,82 per 100 penduduk, jauh di bawah rata-rata global 19,44 per 100 penduduk menurut data dari situs theglobaleconomy.com. Sementara itu, We Are Social & Meltwater mencatat tingkat penggunaan internet nasional berada di 78,3 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Malaysia (97,7 persen) dan Thailand (94,3 persen) dan menunjukkan bahwa tantangan pemerataan akses digital di Indonesia masih signifikan, baik dari sisi kualitas maupun ketersediaan infrastruktur.
Di saat yang sama, kebutuhan akan kapasitas data dan layanan digital yang andal terus meningkat seiring meluasnya penggunaan cloud, kecerdasan buatan, dan platform digital di sektor publik maupun swasta.
Kondisi ini mendorong sebagian pelaku industri untuk kembali menaruh perhatian pada fondasi—bagaimana konektivitas dan infrastruktur data dibangun secara paralel agar pertumbuhan digital tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi.
Salah satu contoh pendekatan tersebut terlihat dari pengembangan layanan internet rumah yang dipadukan dengan infrastruktur data lokal. Di satu sisi, konektivitas broadband dibutuhkan untuk memastikan masyarakat dapat terhubung secara stabil dengan layanan digital. Di sisi lain, pusat data yang tersebar menjadi kunci agar layanan tersebut dapat berjalan dengan andal, aman, dan efisien.
Pendekatan dua lapis tersebut mencerminkan strategi integrasi vertikal yang semakin relevan dalam pengembangan infrastruktur digital. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten dengan portofolio energi dan infrastruktur digital, membangun eksposur pada dua segmen kunci secara bersamaan: konektivitas pengguna akhir dan infrastruktur pengolahan data.
Melalui MyRepublic Indonesia di layanan broadband serta jaringan data center SM+, DSSA berada pada titik hulu dan hilir ekosistem digital—menghubungkan permintaan konektivitas dengan kapasitas komputasi yang dibutuhkan untuk menopang layanan digital berskala besar. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya efisiensi operasional dan ketahanan bisnis yang lebih tinggi, seiring meningkatnya ketergantungan aktivitas ekonomi terhadap konektivitas dan data.
