Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
ilustrasi internet
ilustrasi internet (vecteezy.com/Napong Rattanaraktiya)

Intinya sih...

  • Penetrasi fixed broadband di Indonesia masih rendah, hanya 4,82 per 100 penduduk.

  • MyRepublic Indonesia mengembangkan layanan Fixed Wireless Access (FWA) untuk wilayah luar Pulau Jawa.

  • DSSA mengembangkan jaringan data center yang tersebar di berbagai kota di Indonesia melalui platform SM+.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia terus menunjukkan momentum, ditopang oleh meningkatnya adopsi layanan daring di sektor pendidikan, perdagangan, hingga layanan publik. Namun, di balik lonjakan aktivitas digital tersebut, ada tantangan mendasar yang kerap luput dari sorotan, yaitu kesiapan dan pemerataan infrastruktur digital.

Penetrasi fixed broadband di Indonesia masih relatif rendah. Jumlah pelanggan internet tetap tercatat sekitar 4,82 per 100 penduduk, jauh di bawah rata-rata global 19,44 per 100 penduduk menurut data dari situs theglobaleconomy.com. Sementara itu, We Are Social & Meltwater mencatat tingkat penggunaan internet nasional berada di 78,3 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Malaysia (97,7 persen) dan Thailand (94,3 persen) dan menunjukkan bahwa tantangan pemerataan akses digital di Indonesia masih signifikan, baik dari sisi kualitas maupun ketersediaan infrastruktur.

Di saat yang sama, kebutuhan akan kapasitas data dan layanan digital yang andal terus meningkat seiring meluasnya penggunaan cloud, kecerdasan buatan, dan platform digital di sektor publik maupun swasta.

Kondisi ini mendorong sebagian pelaku industri untuk kembali menaruh perhatian pada fondasi—bagaimana konektivitas dan infrastruktur data dibangun secara paralel agar pertumbuhan digital tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi.

Salah satu contoh pendekatan tersebut terlihat dari pengembangan layanan internet rumah yang dipadukan dengan infrastruktur data lokal. Di satu sisi, konektivitas broadband dibutuhkan untuk memastikan masyarakat dapat terhubung secara stabil dengan layanan digital. Di sisi lain, pusat data yang tersebar menjadi kunci agar layanan tersebut dapat berjalan dengan andal, aman, dan efisien.

Pendekatan dua lapis tersebut mencerminkan strategi integrasi vertikal yang semakin relevan dalam pengembangan infrastruktur digital. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten dengan portofolio energi dan infrastruktur digital, membangun eksposur pada dua segmen kunci secara bersamaan: konektivitas pengguna akhir dan infrastruktur pengolahan data. 

Melalui MyRepublic Indonesia di layanan broadband serta jaringan data center SM+, DSSA berada pada titik hulu dan hilir ekosistem digital—menghubungkan permintaan konektivitas dengan kapasitas komputasi yang dibutuhkan untuk menopang layanan digital berskala besar. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya efisiensi operasional dan ketahanan bisnis yang lebih tinggi, seiring meningkatnya ketergantungan aktivitas ekonomi terhadap konektivitas dan data.

Menjawab kesenjangan akses konektivitas

MyRepublic memiliki infrastruktur yang mendukung pencapaian tersebut. (Dok. MyRepublic)

Internet rumah semakin dipandang sebagai infrastruktur dasar bagi produktivitas masyarakat dan aktivitas ekonomi digital. Namun, perluasan layanan fixed broadband masih menghadapi kendala struktural, mulai dari tantangan geografis hingga tingginya biaya pembangunan jaringan fisik, khususnya di wilayah luar Pulau Jawa.

Dalam konteks tersebut, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melalui MyRepublic Indonesia mengadopsi pendekatan teknologi yang lebih adaptif. Selain memperluas jaringan fiber-to-the-home (FTTH) di 162 kota dan kabupaten, MyRepublic memanfaatkan spektrum 1,4 GHz untuk mengembangkan layanan Fixed Wireless Access (FWA) di wilayah Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi. Spektrum ini memungkinkan jangkauan yang lebih luas dengan kebutuhan infrastruktur fisik yang relatif lebih efisien, menjadikannya solusi yang relevan untuk area dengan kepadatan penduduk dan kondisi geografis yang beragam.

Pendekatan kombinasi antara jaringan fiber dan FWA ini mencerminkan upaya untuk menutup kesenjangan akses konektivitas secara lebih terukur. “Dengan konektivitas yang lebih stabil dan terjangkau, masyarakat di berbagai daerah memiliki peluang lebih besar untuk mengakses pendidikan digital, layanan publik berbasis teknologi, serta berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi digital—faktor yang semakin krusial bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan inklusi digital nasional,” ujar Direktur PT DSSA, David Audy pada keterangannya yang diterima, (4/2).

Data center dan fondasi layanan digital

Jaringan data center SM+ DSSA yang berada pada titik hulu dan hilir ekosistem digital. (dok. DSSA)

Di balik konektivitas, infrastruktur data memegang peran yang tidak kalah penting. Pertumbuhan layanan cloud, analitik data, dan kecerdasan buatan mendorong kebutuhan akan pusat data yang andal, berstandar tinggi, dan berlokasi dekat dengan pengguna.

Melalui platform SM+, DSSA mengembangkan jaringan data center yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Salah satu fasilitas strategis di kawasan pusat bisnis Jakarta direncanakan mulai beroperasi pada kuartal II 2026, dengan kapasitas awal 18 MW, yang dapat ditingkatkan hingga 60 MW. Kehadiran pusat data yang lebih dekat dengan pusat aktivitas ekonomi ini membantu menurunkan latensi, meningkatkan keandalan layanan digital, serta mendukung operasional sektor-sektor strategis seperti keuangan, teknologi, dan layanan publik.

Pengembangan fasilitas berstandar tinggi tersebut mencerminkan bagaimana infrastruktur data diposisikan sebagai penopang skala ekonomi digital nasional—dengan dampak turunan berupa penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing, serta tumbuhnya ekosistem teknologi di dalam negeri.

Dalam peta pembangunan ekonomi digital, infrastruktur sering kali berada di lapisan yang tidak langsung terlihat oleh pengguna akhir. Namun, justru pada lapisan inilah daya tahan dan inklusivitas transformasi digital ditentukan. Ketersediaan konektivitas yang andal serta infrastruktur data yang memadai menjadi prasyarat agar adopsi teknologi dapat berjalan secara berkelanjutan—bukan hanya di pusat-pusat ekonomi, tetapi juga di wilayah dengan tantangan struktural yang lebih besar.

“Infrastruktur digital memiliki peran yang melampaui aspek teknis semata. Konektivitas dan infrastruktur data adalah fondasi bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital. Ketika fondasi ini dibangun secara konsisten dan merata, dampaknya akan terasa pada produktivitas, kualitas layanan, dan kesejahteraan masyarakat,” tambah David.

Dengan mengintegrasikan pengembangan konektivitas dan data center, pendekatan ini mencerminkan bagaimana infrastruktur—yang sering kali tidak terlihat oleh pengguna akhir—justru menjadi penentu utama keberhasilan transformasi digital nasional. (WEB)

Editorial Team