DSSA Bakal Dorong Segmen EBT dan Teknologi di 2026

- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) fokus ke segmen EBT dan teknologi di 2026.
- DSSA akan mempercepat transisi ke energi baru terbarukan melalui proyek panas bumi dan panel surya, serta investasi di infrastruktur teknologi.
- Pendapatan non batu bara DSSA diperkirakan meningkat signifikan, didukung oleh peringkat kredit idAA stabil dari PEFINDO.
Jakarta, FORTUNE - PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memperkuat fokus tahun ini ke segmen lain di luar batu bara, seperti energi baru terbarukan (EBT), hingga infrastuktur digital dan teknologi.
Manajemen DSSA menyampaikan strategi ini ditempuh seiring dengan dinamika industri energi global yang bertransisi menuju emisi rendah karbon dan pesatnya pertumbuhan infrastruktur digital di Indonesia
"Strategi perseroan telah berselaras dengan kondisi industri dan dinamika pasar saat ini. Meskipun batu bara masih memiliki peran yang dominan, perseroan terus beradaptasi dengan volatilitas harga komoditas dengan meningkatkan efisiensi produksi dan kontrol biaya," jelas manajemen DSSA dalam keterbukaan informasi, Rabu (12/1).
Untuk transisi EBT, DSSA akan mempercepat transisinya melalui entitas anak yang menangani proyek-proyek panas bumi di wilayah Cipanas, Cisolok, dan Nage dengan total kapasitas mencapai 140 MW dan memiliki target commercial operation date pada tahun 2029.
Selain itu perseroan juga mengembangkan energi Surya, yakni pabrik panel surya 1-2 GWp/tahun di KEK Kendal serta solusi rooftop PV.
Sementara di infrastuktur teknologi, perseroan akan memperluas layanan broadband, pusat data, serta investasi strategis di perusahaan teknologi dan start up untuk memperkuat ekosistem digital.
"Ekspansi ke teknologi dan layanan digital sejalan dengan pertumbuhan penetrasi internet, meningkatnya kebutuhan pusat data, dan akselerasi transformasi digital lintas sector," katanya.
Pada bisnis digital, perseroan menargetkan penggabungan usaha PT Eka Mas Republik dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk untuk mendapatkan skala bisnis yang lebih besar.
Manajemen DSSA mengatakan, pendapatan non batu bara akan meningkat signifikan didukung oleh peringkat kredit idAA stabil dari PEFINDO, mencerminkan profil keuangan kuat dan diversifikasi portfolio.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, DSSA membukukan penurunan pendapatan usaha ebesar 9,95 persen menjadi US$2,02 miliar, dan laba turun 37,48 persen menjadi US$275,11 juta. Pelemahan kinerja tersebut utamanya disebabkan segmen batu bara.
Sepanjang tahun lalu, harga dan volume batu bara mencatat kan tren penurunan. Oleh sebab itu, tahun ini perusahaan memutuskan untuk mendiversifikasi usaha dan fokus menjajaki segmen EBT serta teknologi.
DSSA juga menjalankan agenda efisiensi untuk menjaga dan meningkatkan profitabilitas. Salah satu langkahnya melalui transformasi elektrifikasi pada biaya operasional pertambangan yang sedang berjalan, dengan memanfaatkan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) untuk kendaraan operasional, alat berat seperti ekskavator, hingga armada kontraktor dan vendor hauling.
Untuk mendukung efisiensi tersebut, perseroan melalui entitas anak telah mulai menyiapkan infrastruktur pendukung, termasuk pembangunan stasiun pengisian daya, serta melakukan uji coba kesiapan infrastruktur dan ketersediaan armada kendaraan listrik.
Langkah ini diproyeksikan menghasilkan penghematan biaya pada periode 2026–2029, dengan estimasi efisiensi berkisar antara US$40,7 per ton hingga US$2,0 per ton

















