Alasan Shell Jadi Pemimpin Pasar Global Pelumas 20 Tahun Terakhir

- Shell Lubricants mempertahankan posisi pemasok pelumas global terbesar selama 20 tahun, sekaligus memimpin kategori otomotif konsumen, otomotif komersial, dan industri menurut laporan Kline & Company.
- Shell mengembangkan pelumas sintetis, layanan diagnostik prediktif, cairan kendaraan listrik, serta pendingin imersi pusat data untuk menjawab kebutuhan industri dan teknologi baru.
- Indonesia menjadi pasar pertumbuhan utama Shell, didukung pabrik pelumas dan manufaktur gemuk di Marunda untuk melayani kebutuhan kendaraan pribadi, transportasi komersial, dan sektor industri.
Jakarta, FORTUNE – Shell Lubricants kembali mempertahankan posisi sebagai pemasok pelumas global dengan penjualan terbesar di dunia untuk ke-20 kalinya. Pencapaian tersebut tercantum dalam laporan terbaru Kline & Company, Global Lubricants: Market Analysis and Assessment, yang mencakup pasar utama pelumas dunia beserta berbagai segmen, produk, dan formulasinya.
Dalam laporan tersebut, Shell mempertahankan posisi sebagai pemasok terkemuka untuk pelumas dan fluida otomotif maupun industri. Perusahaan juga menempati peringkat pertama dalam tiga kategori utama yang dipantau Kline, yakni otomotif konsumen (consumer automotive), otomotif komersial (commercial automotive), dan industri (industrial).
Global Executive Vice President Shell Lubricants, Jason Wong, mengatakan posisi tersebut tidak hanya mencerminkan keberlanjutan kinerja perusahaan, tetapi juga konsistensi dalam mengembangkan bisnis dan memenuhi kebutuhan pelanggan selama dua dekade.
“Selama 20 tahun terakhir, berbagai inovasi kami telah membantu meningkatkan kinerja pengendara sehari-hari, sektor-sektor industri yang vital, hingga mesin Formula 1. Kami bangga dapat mendukung kemajuan dunia melalui merek, teknologi, dan sumber daya manusia kami. Kini, fokus kami tertuju pada masa depan, memastikan kami terus memainkan peran terdepan dalam menyediakan solusi pelumas dan cairan untuk menjawab kebutuhan masa depan," ujarnya dalam Media Roundtable Shell, “The Kline & Company’s Report”, di Shell Lubricants Oil Blending Plant (LOBP), Marunda, Rabu (16/9).
Selama dua dekade terakhir, Shell mengembangkan sejumlah teknologi pelumas untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pelumas mesin sintetis dengan viskositas rendah yang ditujukan untuk membantu efisiensi bahan bakar dan mempertahankan nilai kendaraan, hingga layanan diagnostik cairan prediktif bagi sektor industri untuk membantu menekan total biaya kepemilikan (total cost of ownership).
Perkembangan kebutuhan industri juga membuat bisnis pelumas bergerak melampaui fungsi dasar untuk mengurangi gesekan dan panas pada mesin. Pelumas kini turut dikembangkan untuk mendukung teknologi baru, termasuk kendaraan listrik dan infrastruktur pusat data.
Shell saat ini memiliki jaringan global yang terdiri dari 31 pabrik pelumas (lubricant oil blending plants) serta lebih dari 300 ilmuwan penelitian dan pengembangan (research & development atau R&D). Kapabilitas tersebut digunakan untuk mengembangkan solusi yang menyesuaikan perubahan kebutuhan industri.
Salah satunya adalah pengembangan cairan khusus untuk pendinginan imersi pusat data (data centre immersion cooling fluids) di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi untuk kecerdasan artifisial (artificial intelligence atau AI). Shell juga mengembangkan cairan termal untuk kendaraan listrik (electric vehicle atau EV), serta cairan pendingin yang dapat terurai secara hayati (biodegradable coolants) untuk infrastruktur kelistrikan.

Fasilitas manufaktur jadi pendorong
Di Indonesia, bisnis pelumas Shell telah memasuki dekade ketiga. President Director & Managing Director Lubricants Shell Indonesia Andri Pratiwa mengatakan Indonesia menjadi salah satu pasar pertumbuhan utama bagi bisnis pelumas Shell secara global.
"Dengan kapabilitas manufaktur Pabrik Pelumas dan Pabrik Manufaktur Gemuk di Marunda serta didukung oleh talenta terbaik Indonesia dan tim ahli Shell, Indonesia menjadi salah satu pasar pertumbuhan utama bisnis pelumas Shell secara global. Ke depan, kami akan terus berinovasi dengan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pasar domestik guna menghadirkan solusi serta layanan pelumasan bagi para pelanggan," katanya.
Menurut Andri, pasar pelumas domestik mencakup beragam kebutuhan, mulai dari kendaraan pribadi, transportasi komersial, hingga sektor industri. Keberadaan fasilitas manufaktur di Marunda menjadi bagian dari upaya Shell melayani pasar tersebut sekaligus menopang pengembangan bisnisnya di Indonesia.
Sementara itu, VP of Energy Kline & Company Annie Jarquin mengatakan perkembangan industri pelumas selama dua dekade terakhir turut membentuk posisi perusahaan di pasar global. Menurut dia, posisi Shell merupakan hasil dari konsistensi dan kemampuan beradaptasi perusahaan dengan perubahan kebutuhan pasar, sembari mempertahankan jangkauan globalnya.
Perkembangan teknologi tersebut menunjukkan bahwa industri pelumas ikut bergerak mengikuti perubahan struktur kebutuhan energi dan industri. Dari kendaraan konvensional hingga EV, serta dari mesin industri hingga pusat data, kebutuhan terhadap fluida dengan fungsi yang semakin spesifik membuka ruang baru bagi perusahaan pelumas untuk mengembangkan produk dan layanan.



















