Jakarta, FORTUNE - Emiten Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) membukukan pendapatan usaha sebesar US$1,77 miliar pada semester I 2026, tumbuh 34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$1,32 miliar. Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti kenaikan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 79,6 persen menjadi US$174,4 juta.
Presiden Direktur DSSA, L. Krisnan Cahya mengatakan kinerja tersebut ditopang strategi diversifikasi bisnis, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap data, konektivitas, dan teknologi kecerdasan artifisial (AI).
“Pertumbuhan kebutuhan data, konektivitas, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial menjadi pendorong utama pengembangan bisnis digital kami,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (2/10).
Menurutnya, DSSA terus memperkuat infrastruktur digital yang mencakup jaringan serat optik, pusat data, hingga solusi berbasis AI. Di saat yang sama, perseroan mempertahankan bisnis energi sebagai salah satu penopang pertumbuhan.
Berdasarkan segmen bisnis, pada semester I 2026, bisnis energi yang mencakup pertambangan dan perdagangan batu bara masih menjadi kontributor terbesar pendapatan DSSA. Segmen tersebut membukukan pendapatan US$1,53 miliar, naik 29,8 persen secara tahunan.
Sementara itu, segmen teknologi dan infrastruktur digital mencatat pertumbuhan lebih tinggi yakni mencapai US$182,2 juta atau melonjak 89,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
DSSA menyebut arus kas dari bisnis energi memberikan ruang bagi perseroan untuk mengembangkan bisnis energi terbarukan dan infrastruktur digital. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi digital dan pemanfaatan AI meningkatkan kebutuhan terhadap konektivitas, pusat data, serta pasokan energi yang andal.
Di sektor energi terbarukan, DSSA melalui PT Daya Mas Bumi Sentosa, perusahaan patungan dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, mengembangkan wilayah kerja panas bumi yang sebagian besar berada di luar Pulau Jawa. Perseroan juga mengembangkan produksi sel dan modul surya dalam negeri melalui PT Trina Mas Agra Indonesia.
Pada bisnis digital, MoraRepublic memperluas jaringan fiber to the home hingga 186 kota dan kabupaten setelah proses penggabungan usaha. Perseroan juga mengembangkan layanan MyRepublic Air berbasis fixed wireless access (FWA) untuk menjangkau wilayah yang belum terlayani jaringan kabel.
Layanan tersebut menyasar kota lapis kedua dan ketiga di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara, dengan harga mulai Rp100.000 per bulan.
Integrasi jaringan tulang punggung, termasuk Palapa Ring Paket Barat dan Timur, dengan jaringan hingga rumah pelanggan membuat MoraRepublic memiliki jaringan konektivitas dari hulu hingga hilir.
