Bisnis Non-Tambang DSSA Makin Moncer, Sumbang 7,6 Persen Pendapatan

- DSSA mempercepat transformasi bisnis non-tambang dengan kontribusi segmen digital dan teknologi naik menjadi 7,6% dari total pendapatan 2025, meski pendapatan konsolidasi turun akibat normalisasi harga batu bara.
- Perusahaan fokus pada percepatan digitalisasi, investasi energi baru terbarukan, serta penguatan infrastruktur digital melalui merger MyRepublic–Moratelindo menjadi MoraRepublic dan pembangunan Metro Data Center di Jakarta.
- DSSA juga memperluas portofolio energi hijau lewat pabrik sel surya 1 GW di Kendal dan proyek panas bumi 440 MW, sambil menjalankan elektrifikasi alat tambang menuju target emisi nol bersih 2028–2029.
Jakarta, FORTUNE — PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mempercepat transformasi bisnis di luar sektor pertambangan. Hal ini tecermin pada kontribusi segmen infrastruktur digital dan teknologi yang meningkat 7,6 persen terhadap total pendapatan perseroan pada 2025, naik dari 4,8 persen pada tahun sebelumnya.
Perkembangan itu menjadi salah satu sorotan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Paparan Publik Tahunan 2026 yang digelar DSSA di Jakarta, Selasa (9/6). Di tengah normalisasi harga batu bara global yang menekan pendapatan konsolidasi sebesar 7,5 persen menjadi US$2,79 miliar pada 2025.
Presiden Direktur DSSA, Krisnan Cahya, mengatakan perusahaan saat ini berfokus mempercepat transformasi digital sekaligus memperbesar investasi pada sektor energi baru dan terbarukan (EBT) serta infrastruktur digital.
“Fokus kami saat ini adalah mengakselerasi digitalisasi operasional guna memperkuat dan mengoptimalkan kinerja produksi di seluruh lini. Di saat yang sama, kami terus mengakselerasi investasi pada sektor energi baru terbarukan dan memperkokoh infrastruktur digital dan teknologi guna mendorong pertumbuhan yang lebih progresif,” ujar Krisnan dalam keterangannya, Rabu (10/6).
Menurut dia, diversifikasi bisnis yang makin kuat menjadi fondasi utama DSSA untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang di tengah volatilitas pasar komoditas.
Meski pendapatan terkoreksi, kinerja operasional sektor pertambangan masih menunjukkan pertumbuhan. Produksi batu bara DSSA sepanjang 2025 mencapai 57,2 juta ton atau naik 7,7 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara volume penjualan meningkat 4,4 persen secara tahunan menjadi 56,7 juta ton.
Pendapatan segmen infrastruktur digital dan teknologi melonjak 47 persen secara tahunan seiring ekspansi jaringan yang agresif. Jumlah homepass meningkat 64,1 persen menjadi 10,5 juta, sedangkan jumlah pelanggan bertumbuh lebih dari dua kali lipat atau 102,9 persen menjadi 1,9 juta pelanggan.
Pencapaian tersebut memperkuat posisi bisnis digital sebagai salah satu pilar pertumbuhan baru bagi DSSA di luar sektor batu bara.
Transformasi bisnis non-tambang juga ditandai oleh sejumlah aksi korporasi strategis.
Pada sektor digital, DSSA merampungkan merger antara PT Eka Mas Republik (MyRepublic) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk (MoraRepublic), yang efektif secara hukum pada 22 April 2026.
Penggabungan tersebut melahirkan entitas dengan jaringan kabel serat optik lebih dari 116.000 kilometer dan memperkuat posisi MoraRepublic sebagai pemain fiber to the home (FTTH) terbesar kedua di Indonesia.
Selain itu, DSSA bersama KIRA SG One Pte. Ltd. tengah mempercepat pembangunan Metro Data Center (SMX01) di kawasan pusat bisnis Jakarta. Fasilitas yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV-2026 itu akan memiliki kapasitas IT Load sebesar 18 MW dan dirancang memenuhi kebutuhan pusat data berstandar internasional.
Pada sektor energi hijau, perseroan juga memperluas portofolio bisnis melalui sejumlah proyek strategis. Salah satunya adalah peresmian fasilitas manufaktur sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas 1 gigawatt (GW) per tahun di Kendal.
DSSA juga menjalin kemitraan dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, anak usaha First Gen Corporation dari Filipina, untuk mengembangkan proyek panas bumi dengan potensi kapasitas awal mencapai 440 megawatt (MW) di enam wilayah strategis Indonesia.
Sementara dari sisi pengoperasian tambang, anak usaha DSSA, PT Borneo Indobara (BIB), meluncurkan program elektrifikasi alat tambang yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia.
Hingga Mei 2026, program tersebut telah mengoperasikan 176 unit kendaraan listrik dan hybrid sebagai bagian dari target mencapai emisi nol bersih (net zero emission) pada periode 2028–2029.














