IHSG Diproyeksikan Menguat Lagi walau Volatilitas Masih Tinggi

- IHSG diproyeksikan melanjutkan penguatan setelah naik 1,56 persen ke 6.186,36, selama bertahan di support 6.120-6.150, dengan target resisten 6.200-6.260 meski volatilitas tinggi.
- Pasar mencermati hasil FOMC The Fed, arah suku bunga global, rupiah, imbal hasil obligasi AS, konflik Timur Tengah, serta rebalancing indeks MSCI dan BEI.
- Sentimen global didukung kinerja Microsoft, optimisme monetisasi AI, serta perlambatan inflasi Core PCE AS; domestik menanti laporan semester I-2026 dan penyesuaian portofolio.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan lanjut menguat pada Jumat (31/7), setelah ditutup naik 1,56 persen ke level 6.186,36.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG berhasil rebound dari area MA20 dan masih bisa naik lagi selama bertahan di atas support 6.120-6.150 dengan target menguji resisten 6.200-6.260.
"Momentum jangka pendek masih cenderung positif meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi," kata Reza dalam riset hariannya.
Pasar akan mencermati respons lanjutan setelah pengumuman hasil FOMC The Fed, terutama terhadap proyeksi arah kebijakan suku bunga dan peluang capital inflow ke emergin markets seperti Indonesia.
Selain itu, perhatian investor juga akan tertuju pada pergerakan rupiah, perkembangan konflik di Timur Tengah, serta berlanjutnya musim rilis laporan keuangan semester-I 2026 yang diperkirakan menjadi katalis utama pergerakan saham.
Saham-saham yang masuk daftar pantauan BRIDS hari ini adalah PADA, BRPT, dan DEWA.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG berhasil mengalami recovery dari MA20 maupun wave 2. Selain itu, pola upward bar terbentuk yang mengindikasikan adanya potensi bullish continuation.
"Berdasarkan indikator, Stochastics K_D masih menunjukkan sinyal negatif, sementara volume mengalami penurunan, namun RSI berpotensi membentuk pola golden cross," kata Nafan.
Pada akhir pekan ini, menurutnya, sentimen terhadap IHSG cenderung positif, meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi karena pasar masih mencermati perkembangan suku bunga global, imbal hasil obligasi AS, maupun depresiasi rupiah, serta persiapan investor menjelang rebalancing indeks MSCI Agustus 2026.
Dari global, para pelaku investor mengapresiasi hasil kinerja keuangan Microsoft yang melampaui ekspektasi sehingga menghidupkan kembali optimisme terhadap tema Artificial Intelligence (AI) yang menjadi pendorong utama US stock market, dimana para pelaku investor mulai percaya bahwa investasi AI dapat menghasilkan monetisasi melalui pertumbuhan pendapatan dan laba.
Sementara itu, akibat kebijakan moneter yang ketat dari The Fed, adapun PDB riil AS kuartal II-2026 tumbuh 1,5 persen, lebih rendah dibanding kuartal I-2026 sebesar 2,1 persen namun perlambatan ini belum mengarah pada resesi karena ekonomi AS masih mencatat pertumbuhan positif.
Selain itu, melunaknya data indikator inflasi favorit The Fed, yakni inflasi Core PCE per Juni yang hanya naik 0,1 persen secara bulanan (turun dari 0,3 persen pada bulan sebelumnya, serta merupakan kenaikan terkecil sejak Maret 2025) atau 3,3 persen secara tahunan (turun dari 3,4 persen YoY pada bulan sebelumnya) memberikan angin segar bagi pasar saham global.
Dari domestik, memasuki akhir Juli ini, transaksi bursa akan diwarnai oleh aksi portfolio adjustment dan penyesuaian arus dana pasif dari para Manajer Investasi menjelang tanggal efektif perombakan konstituen indeks BEI per 3 Agustus 2026. Di sisi lain, ekspektasi terhadap penantian publikasi kinerja keuangan berbagai emiten sepanjang semester I-2026 bisa memberikan peluang aksi bargain hunting pada saham yang memiliki fundamental solid.
Saham-saham yang masuk pantauan Mirae adalah ERAA, KRAS, dan NCKL.











