Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Daftar Saham LQ45 yang Undervalued, Ini 5 Emitennya

4 min read
Daftar Saham LQ45 yang Undervalued, Ini 5 Emitennya
ilustrasi saham (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)
  • IHSG melemah sepanjang 2026, menekan saham besar LQ45; valuasi dinilai melalui PER dan PBV, bukan sekadar harga saham per lembar.

  • Lima saham LQ45 dengan PER di bawah 15,64 kali dan PBV di bawah 1 kali ialah AADI, ADRO, ASII, BBNI, serta BBTN.

  • Status undervalued berasal dari penyaringan rasio valuasi dan tidak menjamin harga naik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tren pelemahan sepanjang 2026. Kondisi tersebut turut menekan sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk konstituen LQ45.

Melansir Bursa Efek Indonesia (BEI), LQ45 adalah indeks yang mengukur kinerja harga 45 saham dengan likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar free float besar, serta didukung fundamental dan kepatuhan perusahaan yang baik.

Di tengah tekanan pasar, valuasi menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat apakah harga saham relatif rendah terhadap kinerja fundamentalnya. Saham dengan harga per lembar yang rendah belum tentu undervalued.

Untuk melihat valuasi, investor dapat menggunakan Price to Earnings Ratio (PER), yang membandingkan harga saham dengan laba. Serta Price to Book Value (PBV), yang membandingkan harga saham dengan nilai bukunya.

  1. Daftar saham LQ45 yang undervalued

    Berdasarkan IDX Company Fact Sheet LQ45 February-July 2026, terdapat lima saham LQ45 yang memiliki PER di bawah rata-rata pasar 15,64 kali dan PBV di bawah 1 kali. Rasio tersebut dapat menjadi indikator awal untuk menyaring saham dengan valuasi relatif rendah, tetapi tidak otomatis menunjukkan saham tersebut undervalued.

  2. 1. AADI

    Berdasarkan IDX Company Fact Sheet LQ45 February–July 2026, Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) memiliki PER 4,52 kali dan PBV 0,93 kali. PER tersebut berada di bawah rata-rata sektor energi sebesar 18,14 kali dan juga di bawah rata-rata pasar 15,64 kali.

    AADI mencatat ROE 20,69 persen, tertinggi di antara lima saham dalam daftar ini. Berdasarkan data per 30 September 2025, perusahaan membukukan laba bersih Rp10,93 triliun dengan pendapatan Rp60,24 triliun.

  3. 2. ADRO

    Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) tercatat memiliki PER 6,89 kali dan PBV 0,75 kali. Kedua indikator tersebut berada di bawah angka yang digunakan sebagai pembanding dalam data sektor energi.

    Perusahaan mencatat ROE 10,95 persen dan ROA 8,56 persen. Pada periode yang sama, ADRO membukukan laba bersih Rp5,55 triliun dari pendapatan Rp22,50 triliun. Rasio debt to equity ratio (DER) tercatat 0,28 kali.

  4. 3. ASII

    Astra International Tbk (ASII) memiliki PER 7,87 kali dan PBV 0,89 kali. PER ASII berada di bawah rata-rata sektor industrials sebesar 14,39 kali dan rata-rata pasar 15,64 kali.

    Data IDX Company Fact Sheet mencatat ROE ASII sebesar 11,28 persen. Perusahaan juga membukukan laba bersih Rp30,11 triliun dengan pendapatan Rp243,61 triliun pada periode yang digunakan dalam data tersebut.

  5. 4. BBNI

    Sesuai IDX Company Fact Sheet LQ45 February–July 2026, Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat PER 8,26 kali dan PBV 0,98 kali. Dengan PBV masih di bawah 1 kali, harga saham berada di bawah nilai buku berdasarkan indikator tersebut.

    PER BBNI juga berada di bawah rata-rata sektor keuangan sebesar 13,84 kali. Dari sisi profitabilitas, BBNI mencatat ROE 11,81 persen dan laba bersih Rp15,23 triliun pada periode per 30 September 2025.

  6. 5. BBTN

    Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) tercatat memiliki PER 5,35 kali dan PBV 0,50 kali. Angka tersebut menunjukkan harga saham berada di bawah nilai buku perusahaan berdasarkan indikator PBV.

    Dari sisi profitabilitas, BBTN mencatat return on equity (ROE) 9,31 persen. Dalam data per 30 September 2025, perusahaan membukukan laba bersih Rp2,30 triliun dengan total aset Rp510,86 triliun.

  7. Perbedaan valuasi dalam LQ45

    Masuknya suatu saham ke dalam indeks LQ45 tidak otomatis berarti saham tersebut memiliki valuasi rendah. Data IDX Company Fact Sheet juga menunjukkan adanya perbedaan rasio valuasi yang cukup lebar antar-konstituen.

    Sebagai pembanding, Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tercatat memiliki PER 465,77 kali dan PBV 79,17 kali dalam data yang digunakan. Sementara itu, saham seperti BMRI dan BBRI memiliki PER masing-masing 8,74 kali dan 10,34 kali, tetapi PBV-nya sudah berada di atas 1 kali.

    Dengan demikian, daftar saham LQ45 yang undervalued dalam artikel ini merujuk pada penyaringan berdasarkan PER dan PBV, bukan penilaian bahwa harga saham tersebut pasti akan naik. Investor tetap perlu melihat kinerja laba, profitabilitas, struktur utang, serta kondisi sektor masing-masing emiten ketika membaca data valuasi.

    Sanggahan: Artikel ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca menjual, menahan atau membeli produk dari sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

    FAQ seputar daftar saham LQ45 yang undervalued

    Apa itu saham undervalued?

    Saham undervalued adalah saham yang berdasarkan indikator tertentu diperdagangkan di bawah nilai yang menjadi pembanding fundamentalnya.

    Saham LQ45 mana yang memiliki PBV terendah dalam daftar ini?

    BBTN memiliki PBV terendah sebesar 0,50 kali.

    Saham mana yang memiliki PER terendah?

    AADI memiliki PER terendah dalam daftar dengan angka 4,52 kali.

    Apa indikator yang digunakan untuk menyaring saham dalam artikel ini?

    Penyaringan menggunakan PER di bawah rata-rata pasar atau sektornya serta PBV di bawah 1 kali.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More