IHSG Diproyeksi Melemah, Uji Support 6.200-6.220

- IHSG diproyeksi melemah setelah turun 1,19% ke 6.299, dengan support 6.200–6.220 dan resistance 6.400–6.450; indikator teknikal menunjukkan momentum bearish.
- Sentimen global tertekan kenaikan yield US Treasury, ekspektasi pengetatan The Fed, harga minyak Brent di atas US$105, serta perhatian pada dinamika geopolitik AS–Iran dan Trump–Xi.
- Investor asing mencatat net sell Rp1,42 triliun di pasar reguler; rupiah melemah sekitar Rp17.900 per dolar AS, sementara Kiwoom menilai tekanan bearish IHSG jangka pendek masih dominan.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melemah pada Jumat (25/9), setelah ditutup turun 1,19 persen ke level 6.299 pada Kamis (24/9).
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG berpotensi menguji support 6.200–6.220 setelah kembali ditutup dibwah level 6.300 dengan indikator MACD yang memberikan sinyal bearish momentum dengan resistance terdekat pada 6.400 sampai 6.450.
"Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan indeks bertahan di area support tersebut serta perkembangan geopolitik dan pertemuan para pemimpin negara," kata Reza dalam risetnya.
Sentimen global masih cenderung hawkish, tercermin dari kenaikan US Treasury 10Y ke 5,11 persen, level tertinggi sejak 2007, seiring kuatnya aktivitas ekonomi AS dan meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed. Di sisi lain, harga Brent menembus US$105/barel akibat meningkatnya ketegangan AS–Iran dan ketidakpastian pasokan energi.
Pasar juga mencermati pertemuan Trump–Xi serta perkembangan diplomasi AS–Iran di sela UNGA, yang berpotensi memengaruhi sentimen risiko global.
Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah HRTA, ENRG, dan TEBE.
Lebih lanjut, Kiwoom Sekuritas mencatat, investor asing membukukan net sell di pasar reguler sebesar Rp1,42 triliun, sehingga akumulasi aksi jual bersih secara year to date mencapai Rp104,39 triliun. Aliran dana asing terutama masuk ke ASII, MEDC, COIN, ASLI, dan TINS, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada BMRI, BBRI, TLKM, BUMI, dan ANTM.
Rupiah melemah ke sekitar Rp17.900 per dolar AS, tertekan penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, dan ekspektasi pengetatan The Fed. Secara domestik, tekanan turut berasal dari melemahnya kepercayaan konsumen, perlambatan belanja rumah tangga, serta meningkatnya kekhawatiran fiskal akibat kenaikan harga minyak dan potensi pelebaran defisit anggaran.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, mengatakan, secara teknikal, IHSG ditutup melemah dan masih berada di bawah EMA10, EMA20, serta EMA50, sehingga tekanan bearish jangka pendek masih dominan. IHSG saat ini berada di sekitar Fibonacci retracement 61,8% di 6.290,10, sementara resisten terdekat berada di area 6.377–6.423. RSI (14) berada di 40,09, masih di bawah level 50, menunjukkan momentum bullish belum terbentuk.
Menurutnya, apabila level 6.290 kembali ditembus, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.253–6.219 atau 6.186. "Sebaliknya, rebound perlu mengembalikan IHSG ke atas 6.377–6.423, kemudian 6.451 sebagai resisten berikutnya.
Saham-saham pilihan Kiwoom hari ini adalah AKRA, HRTA, INDF, dan TAPG.











