Astra Otoparts Siap Pasok Komponen hingga Charging Mobil Listrik

- Astra Otoparts memperluas bisnis elektrifikasi dengan mengembangkan komponen untuk kendaraan hybrid dan BEV, mencakup produk umum serta komponen khusus seperti battery case dan sistem pendingin.
- Melalui AOP R&D Centre, perusahaan memproduksi EV charger Altro dan mengoperasikan 70 charging station Astra Otopower hingga Juni 2026, termasuk Ultra Fast Charging 240 kW.
- Pada semester I-2026, laba bersih Astra Otoparts naik 22,6 persen menjadi Rp1,2 triliun, sementara pendapatan bersih tumbuh 13,2 persen menjadi Rp10,9 triliun.
Jakarta, FORTUNE - PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) memperluas perannya dalam ekosistem kendaraan listrik nasional.
Tak hanya mempertahankan bisnis komponen untuk kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE), perseroan kini mengembangkan komponen untuk kendaraan hybrid dan battery electric vehicle (BEV), sekaligus membangun infrastruktur pengisian daya.
Direktur Astra Otoparts, Sophie Handili, mengatakan transformasi industri otomotif menuju elektrifikasi mendorong perusahaan terus menyesuaikan kemampuan manufakturnya.
Astra Otoparts menyiapkan komponen untuk kendaraan roda dua maupun roda empat, baik untuk kebutuhan pasar domestik maupun global.
“Kami terus beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi era elektrifikasi,” kata Sophie dalam Astra Media Day di Menara Astra, Jakarta, Rabu (23/9).
Pada sisi komponen, Astra Otoparts mengembangkan dua kelompok produk. Pada kategori general parts, perseroan memproduksi komponen yang dapat digunakan pada kendaraan ICE maupun kendaraan elektrifikasi.
Produk tersebut adalah auxiliary battery, driveshaft, caliper assembly, hingga wireless charger untuk telepon seluler.
Sementara pada kategori specific parts, perseroan mulai mengembangkan komponen yang secara khusus dibutuhkan kendaraan listrik dan hybrid. Beberapa di antaranya adalah hybrid damper, hose cooling inverter and motor, serta battery case.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi Astra Otoparts menangkap peluang dari perubahan teknologi kendaraan.
Kemampuan riset dan pengembangan produk juga diarahkan agar perusahaan dapat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan produsen kendaraan atau Original Equipment Manufacturer (OEM).
Langkah Astra Otoparts tidak berhenti pada komponen. Perseroan juga masuk lebih jauh ke sisi infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik melalui unit riset dan pengembangan, AOP R&D Centre.
Melalui unit tersebut, Astra Otoparts mengembangkan dan memproduksi mesin EV charger mandiri dengan merek Altro. Perangkat tersebut kemudian diintegrasikan ke jaringan pengisian daya Astra Otopower.
Hingga Juni 2026, Astra Otopower telah mengoperasikan 70 charging station di berbagai lokasi strategis.
Jaringan tersebut mencakup Astra Otoservice, kawasan perkantoran, pusat perbelanjaan hingga rest area. Sejumlah lokasi juga dilengkapi fasilitas Ultra Fast Charging dengan kapasitas daya hingga 240 kilowatt (kW).
“Infrastruktur pengisian daya Astra Otopower merupakan wujud nyata kontribusi kami dalam menyiapkan ekosistem EV yang terintegrasi dan berkesinambungan di Indonesia,” kata Sophie.
Untuk memperkuat keandalan sekaligus memperluas jaringan pengisian daya, Astra Otoparts menjalin kolaborasi dengan PT PLN (Persero), termasuk dalam pengembangan pole mounted charger.
Transformasi menuju elektrifikasi tersebut berlangsung ketika kinerja bisnis Astra Otoparts masih mencatatkan pertumbuhan.
Pada semester I-2026, perseroan membukukan laba bersih konsolidasian Rp1,2 triliun, naik 22,6 persen dibandingkan Rp939 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bersih konsolidasian meningkat 13,2 persen menjadi Rp10,9 triliun dari Rp9,6 triliun pada semester I-2025.
Sementara itu, pendapatan bersih dari segmen manufaktur mencapai Rp5,6 triliun, tumbuh 11,6 persen dibandingkan Rp5 triliun pada periode sama tahun lalu.
Pertumbuhan manufaktur ditopang meningkatnya permintaan komponen dari OEM seiring dengan pertumbuhan pasar kendaraan roda dua dan roda empat.
Pada segmen perdagangan, kinerja ditopang kelengkapan portofolio produk aftermarket, permintaan domestik yang kuat melalui jaringan distribusi dan ritel, serta ekspor yang masih tumbuh.













