Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Lampaui Target, Produksi Listrik Panas Bumi PGEO Capai 4.114 GWh

3 min read
Lampaui Target, Produksi Listrik Panas Bumi PGEO Capai 4.114 GWh
Dok. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE)
  • PGE mencetak rekor produksi listrik panas bumi 4.114 GWh pada Januari–September 2026, atau 108,22% dari target dan tumbuh 9,8% dibanding periode sama 2025.
  • Keandalan operasi mendukung capaian: EAF kumulatif 98,51% melampaui rencana 92,20%, sementara EFOR 0,21% di bawah batas 1,48%; Kamojang menjadi kontributor terbesar.
  • Pendapatan semester I-2026 naik 15,48% menjadi US$79,61 juta; PGE melanjutkan proyek ekspansi untuk menargetkan kapasitas 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) dari wilayah kerja yang dikelola sendiri (own operation) selama Januari–September 2026. Capaian tersebut menjadi rekor produksi tertinggi perusahaan untuk periode sembilan bulan dan melampaui target yang telah ditetapkan.

Produksi itu mencapai 108,22 persen dari target sebesar 3.801 GWh. Dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025, ketika produksi tercatat 3.747 GWh, realisasi tersebut tumbuh sekitar 9,8 persen.

Pencapaian ini didukung upaya perusahaan mempertahankan keandalan operasional sekaligus mengoptimalkan pengelolaan aset panas bumi. Direktur Utama PGE Ahmad Yani menegaskan, perusahaan tetap berkomitmen mengembangkan bisnis dengan menerapkan tata kelola yang baik, transparansi, serta kepatuhan terhadap regulasi.

“Rekor produksi ini menjadi pijakan yang kuat bagi kami. Kami optimistis dapat terus tumbuh secara disiplin, sehingga keunggulan operasional PGE memberi manfaat bagi pemegang saham, masyarakat, dan ketahanan energi Indonesia,” kata Ahmad Yani dalam keterangannya di Jakarta, Senin (19/10).

Pada kuartal IV-2026, PGE akan memprioritaskan keandalan pembangkit untuk menopang pencapaian target produksi tahunan yang dipatok sekitar 5.255 GWh. “Melalui pengelolaan aset yang optimal dan pengembangan proyek strategis, Perseroan terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi Indonesia,” ujarnya.

Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, mengatakan rekor produksi tersebut merupakan hasil dari kedisiplinan dalam pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit. Upaya optimalisasi produksi serta kesiapan pasokan uap di berbagai wilayah kerja juga menjadi faktor pendukung, beberapa strategi mencakup upaya menjaga keandalan listrik panas bumi, mengelola reservoir, kesiapan pembangkit, dan eksekusi pemeliharaan yang semakin efisien.

"Dengan begitu, kami terus menghadirkan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan untuk menunjang ketahanan energi nasional,” katanya.

Menurut Andi, capaian produksi tersebut berjalan seiring dengan terjaganya tingkat keandalan pembangkit. Hingga September 2026, Equivalent Availability Factor (EAF) kumulatif mencapai 98,51 persen, melampaui rencana sebesar 92,20 persen.

Adapun Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) tercatat 0,21 persen. Angka tersebut berada di bawah batas yang direncanakan, yakni 1,48 persen. Dari lima area operasi yang dikelola perusahaan, Kamojang menghasilkan listrik sebesar 1.438 GWh atau 118,77 persen dari target. Area ini berkontribusi sekitar 35 persen terhadap total produksi PGE.

Area Lumut Balai mencatat produksi 702 GWh, setara dengan 115,84 persen dari target. Pencapaian tersebut ditopang oleh tingginya permintaan listrik serta kesiapan pasokan uap dan pembangkit.

Sementara itu, Lahendong membukukan produksi 658 GWh atau 106,44 persen dari target. Tingginya penyerapan listrik dari unit pembangkit yang beroperasi turut mendukung realisasi tersebut.

Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, menyatakan, pencapaian operasional perusahaan turut memperkuat fundamental keuangan. Pada semester I-2026, PGE mencatat pendapatan sebesar US$79,61 juta, naik 15,48 persen. Ia menegaskan, fundamental PGE tetap kuat. Produksi tumbuh di atas target, laba meningkat dua digit, dan neraca sehat.

"Ke depan, kami terus memperluas akses terhadap pembiayaan berbiaya kompetitif. Beberapa proyek strategis kami telah masuk dalam Green Book Bappenas 2026," ujar Fransetya. Menurutnya, hal tersebut membuka peluang pendanaan konsesional (concessional financing) dari lembaga pembiayaan internasional dengan biaya modal lebih rendah, yang diharapkan meningkatkan keekonomian proyek dan daya saing investasi.

Ia menambahkan, strategi keuangan PGE tidak hanya berfokus pada upaya memperoleh pendanaan, tetapi juga pada pengelolaan komposisi modal perusahaan. Menurutnya, PGE juga mengoptimalkan struktur permodalan dengan menjaga keseimbangan antara ekuitas dan utang serta profil kredit yang kuat. Dengan begitu, kami terus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemegang saham dan investor.

Untuk menjaga pertumbuhan bisnis, PGE meneruskan optimalisasi aset yang telah beroperasi, memperluas kapasitas, serta menjajaki sumber pendapatan baru. Pengembangan proyek perusahaan antara lain mencakup Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8. Melalui berbagai proyek tersebut, PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028, kemudian meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More