Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Menyulap Layar Bekas Menjadi Tas ala Cinema XXI
XXI Screen Bag. (Dok. Cinema XXI)

Jakarta, FORTUNE - PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) secara berkala memperbarui furnitur hingga layar bioskop. Sebagian diolah sehingga tak begitu saja menjadi limbah.

Layar bioskop memerlukan pemeliharaan dan perlakuan khusus demi menjaga kondisinya. Pada periode tertentu, fasilitas itu juga perlu diperbarui. Jangka waktu penggantian layar bioskop bervariasi, tergantung pada penggunaan, perawatan, dan material layar.

Namun, menurut perusahaan manufaktur layar bioskop Galalite Screens, penggantian layar itu perlu dilakukan setiap 7–10 tahun agar film dapat tersaji dengan gambar tajam. Semua pengelola bioskop melakukannya, termasuk Cinema XXI.

Pertanyaannya, akan diapakan layar bekas bioskop setelah proses pembaruan? Apa hanya akan dibuang begitu saja? Menjawab pertanyaan itu, tim keberlanjutan PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk mulai berembuk. Mereka mengumpulkan masukan dari tim internal. Tujuannya sederhana: bagaimana cara memastikan layar-layar bekas itu tak begitu saja menambah limbah di tempat pembuangan akhir (TPA)? Bagaimana mengubah material itu agar memiliki nilai guna baru, sekaligus berdampak positif untuk lingkungan, sosial, juga ekonomi?

Selepas itu, Cinema XXI sampai pada satu kesimpulan: layar-layar itu akan disulap menjadi sebuah tas. “Proses dari konsep, desain, hingga akhirnya tas diproduksi dan dijual membutuhkan waktu lebih dari satu tahun,” kata Corporate Secretary PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk, Indah Tri Wahyuni (24/11). Untungnya pula, para pemangku kepentingan turut menyokong mereka untuk inisiatif terkait XXI Screen Bag itu. “Termasuk jajaran direksi.”

Tas multifungsi bernama XXI Screen Bag itu akhirnya dirilis pada November 2025 sebagai koleksi terbatas yang tersedia di 25 bioskop Cinema XXI di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Dalam inisiatif itu, perseroan mengolah lebih dari 1.000 m2 layar bekas dari berbagai lokasi bioskopnya. Cinema XXI pun menggandeng vendor UMKM yang memiliki mitra perajin di area Jabodetabek untuk memproduksi tas putih bermotif polkadot itu.

“Kami memilih melakukan upcycle karena tetap ingin menjaga bentuk asli layar, tentunya dengan tetap memperhatikan kebersihan, desain, dan fungsi produk yang dibuat,” ujar Indah.

Dari situ, lahirlah sekitar 1.000 buah XXI Screen Bag. Tas-tas itu dijual dalam paket khusus dengan minuman ringan dan popcorn seharga Rp180.000. Dana hasil penjualan tas itu akan disalurkan melalui mitra Cinema XXI: Rumah Faye.

Yayasan filantropi yang didirikan oleh Faye Simanjuntak dan Uli Pandjaitan itu berfokus pada perlindungan anak Indonesia—dari rentetan problem seperti perdagangan manusia, kekerasan, dan eksploitasi. Hasil donasi dari penjualan tas itu akan digunakan Rumah Faye untuk mendukung anak-anak penyintas kekerasan dan perdagangan manusia dalam jangka panjang.

“Yang mencakup beasiswa pendidikan, pelatihan vokasi, serta penguatan usaha kecil kerajinan tangan melalui Happy Craft. Kami percaya, kolaborasi seperti ini dapat membuka jalan bagi para penyintas untuk membangun masa depan yang lebih mandiri dan bermakna,” kata Faye (6/11).

Inisiatif Keberlanjutan XXI 'XXI Screen Bag' adalah satu dari deretan langkah keberlanjutan yang Cinema XXI implementasikan. Sebelum itu, perseroan pun memiliki inisiatif lain dalam hal pengelolaan material operasional terpakai seperti sarung kursi bioskop, juga minyak jelantah dari bisnis makanan-minuman mereka. Perseroan juga mengumpulkan busa bekas kursi dan karpet bioskop. Hasil cacahan busa bioskop itu berpotensi digunakan sebagai bahan isian untuk boneka, bantal, ataupun kasur.

Hingga 31 Maret 2025, Cinema XXI sudah mendaur ulang sekitar 4.500 lembar sarung kursi bioskop mereka menjadi 1.600 bantal serbaguna. Bantal-bantal itu diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti sopir angkutan umum, rumah belajar, dan panti asuhan. Jika program XXI Screen Bag disalurkan melalui Rumah Faye, produksi bantal dari busa kursi bioskop dilakukan bersama Yayasan Merah Putih.

Selain itu, Cinema XXI bekerja sama dengan TUKR (kini menjadi TUKR.ID), perusahaan yang berfokus pada pengumpulan minyak jelantah yang bersertifikat internasional. Sepanjang 2024, 237 bioskop Cinema XXI telah berpartisipasi dalam program pengumpulan minyak jelantah. Total minyak yang dikumpulkan mencapai 138.790,32 kilogram. Cinema XXI menyalurkan minyak jelantah itu kepada TUKR, untuk kemudian diolah menjadi biofuel.

“Strategi kami berfokus pada pengelolaan aset dan liabilitas yang lebih produktif, pengembangan bisnis F&B yang lebih bervariasi, dan implementasi prinsip-prinsip ESG dalam berbagai lini usaha,” kata Indah. “Cinema XXI menjaga alokasi anggaran yang proporsional untuk implementasi inisiatif keberlanjutan.”

Sebagai gambaran, pada 2024, Cinema XXI mengalokasikan dana berjumlah Rp238 miliar untuk CSR di bidang sosial. Di antaranya, program nonton bareng dengan kelompok masyarakat dengan keterbatasan akses ke bioskop, dukungan untuk festival film, penayangan iklan layanan masyarakat dari instansi pemerintahan, serta penyediaan fasilitas pembuatan konten untuk instansi pemerintahan dan rumah produksi lokal. Beberapa festival film yang didukung pada 2024: FFI, Festival Film Bandung, Festival Film Prancis, Alternativa Film Project, Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF).

Ke depan, bagaimana rencana lanjutan dari program dan inisiatif keberlanjutan Cinema XXI? “Kami terbuka dengan inisiatif-inisiatif baru sambil melanjutkan atau memodifikasi dari inisiatif yang sudah pernah dijalankan,” kata Indah.

Editorial Team