Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Minim Pekerja Bersertifikat, Industri Konstruksi Didesak Ubah Pendekatan Manajemen Proyek
ilustrasi pekerja di suatu lokasi konstruksi (pexels.com/Mikael Blomkvist)
  • Industri konstruksi didorong beralih dari manajemen proyek reaktif ke pendekatan pencegahan untuk meningkatkan efisiensi, di tengah kontribusi sektor 9,81 persen terhadap PDB kuartal I-2026.
  • Pasar properti residensial primer masih terkontraksi 2,36 persen secara tahunan pada kuartal II-2026, sementara hanya 7,8 persen dari 8,2 juta pekerja konstruksi bersertifikat.
  • Pengelola proyek diminta mematangkan desain, memperkuat koordinasi lintas disiplin, menyamakan standar kerja, dan memperketat supervisi agar biaya, waktu, serta produktivitas lebih optimal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
kuartal I 2026

BPS mencatat sektor konstruksi menyumbang 9,81 persen terhadap PDB Indonesia.

kuartal II-2026

Penjualan properti residensial di pasar primer mengalami kontraksi 2,36 persen secara tahunan, meski membaik dari kuartal sebelumnya.

Rabu (30/9)

Pernyataan Jean Dee dikutip di Jakarta melalui keterangan tertulis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sektor konstruksi menyumbang 9,81 persen terhadap PDB Indonesia, tetapi efisiensi dan sertifikasi pekerja masih menjadi tantangan.
  • Who?
    Industri konstruksi, pekerja konstruksi, BPS, BI, LPJK, dan Jean Dee terlibat dalam informasi tersebut.
  • Where?
    Indonesia, termasuk pasar properti residensial primer yang dicatat Bank Indonesia.
  • When?
    Kontribusi sektor tercatat pada kuartal I 2026, sedangkan penjualan properti dicatat pada kuartal II-2026.
  • Why?
    Efisiensi diperlukan karena pasar masih menghadapi tekanan, sementara pekerjaan ulang, keterlambatan, dan keputusan terlambat semakin sulit ditanggung.
  • How?
    Melalui desain yang matang, koordinasi lintas disiplin sejak awal, pemahaman standar pekerjaan, dan supervisi selama pelaksanaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sektor konstruksi memberi banyak uang untuk Indonesia, tetapi pekerjanya masih punya tantangan. Dari sekitar 8,2 juta pekerja, baru sedikit yang punya sertifikat resmi. Jean Dee berkata pekerjaan harus direncanakan dengan baik, memakai standar yang jelas, dan diawasi supaya masalah tidak muncul. Sekarang, perusahaan perlu membuat kerja lebih hemat dan rapi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Upaya meningkatkan kompetensi, memperjelas standar kerja, dan memperbaiki project delivery dapat membuat penggunaan waktu, biaya, tenaga, serta sumber daya lebih efektif. Pendekatan pencegahan masalah juga memberi ruang bagi pemilik dan pengelola proyek untuk menjalankan pembangunan secara lebih konsisten, sehingga produktivitas dan efisiensi konstruksi dapat diperkuat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Industri konstruksi nasional didesak menggeser pola manajemen proyek dari sekadar mengatasi masalah menjadi pencegahan guna memicu efisiensi operasional.

Langkah ini dinilai penting mengingat sektor yang menyumbang 9,81 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2026 ini masih dibayangi minimnya sertifikasi tenaga kerja serta tekanan di pasar properti residensial.

Kebutuhan akan efisiensi dan perbaikan cara kerja menjadi makin relevan di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih. Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan properti residensial di pasar primer pada kuartal II-2026 masih mengalami kontraksi 2,36 persen secara tahunan, meskipun angka ini membaik dari kontraksi 25,67 persen pada triwulan sebelumnya.

Dalam situasi tersebut, ruang toleransi bagi industri terhadap keterlambatan, keputusan yang lambat, maupun pekerjaan ulang menjadi sangat terbatas.

Di sisi internal, tantangan efisiensi diperberat oleh masalah kompetensi dan sertifikasi pekerja. Berdasarkan data Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), dari sekitar 8,2 juta pekerja konstruksi di Indonesia, baru 7,8 persen yang mengantongi sertifikat kompetensi formal.

Mayoritas tenaga kerja masih mengandalkan pengalaman praktis di lapangan tanpa melalui pelatihan formal.

"Kalau kita ingin melihat perubahan di tingkat industri, kita harus mulai dari bagaimana proyek direncanakan dan dijalankan. Kompetensi tenaga kerja penting, tetapi kompetensi tidak akan optimal jika orang bekerja tanpa standar yang jelas, koordinasi yang terlambat, atau desain yang belum matang," ujar Construction Project Management dan Project Delivery Specialist, Jean Dee, melalui keterangan tertulis yang dikutip Rabu (30/9).

Menurutnya, peningkatan kualitas industri tidak selalu harus dilakukan dengan mengganti tenaga kerja atau mengadopsi teknologi baru. Langkah awal yang realistis dapat dimulai dengan memastikan seluruh pekerja memahami standar serta cara kerja yang diharapkan.

Atas dasar itu, ia mendorong pergeseran pendekatan project delivery. Pemilik dan pengelola proyek diimbau mematangkan desain sejak awal, membangun koordinasi lintas disiplin, menerapkan standar pekerjaan yang dipahami bersama, serta memperketat supervisi selama pelaksanaan konstruksi.

Penerapan manajemen proyek yang terencana dan konsisten ini diharapkan tidak hanya mengoptimalkan penggunaan sumber daya, biaya, dan waktu pada satu proyek, tetapi juga dapat mendongkrak produktivitas dan efisiensi industri konstruksi Indonesia secara keseluruhan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article