Jakarta, FORTUNE - Canva mempercepat ekspansi bisnisnya di sektor pemasaran dan kreatif profesional melalui akuisisi dua startup sekaligus, yakni Cavalry dan MangoAI. Langkah ini menegaskan ambisi perusahaan untuk memperluas kapabilitas produk sekaligus memperdalam penetrasi di pasar enterprise.
Cavalry, startup asal Inggris, dikenal mengembangkan teknologi animasi gerak 2D untuk kebutuhan periklanan, pemasaran, gim, hingga seni generatif. Akuisisi ini akan melengkapi Affinity, perangkat lunak kreatif profesional milik Canva yang mencakup pengeditan foto, vektor, dan tata letak.
Affinity sendiri diakuisisi pada 2024 dan telah diperbarui desainnya serta digratiskan untuk seluruh pengguna. Sejak perubahan tersebut, perangkat lunak ini telah diunduh lebih dari lima juta kali.
Dengan masuknya teknologi Cavalry, Canva berupaya menambahkan fitur pengeditan motion untuk melengkapi ekosistem kreatifnya.
“Dengan menghadirkan Cavalry bersama Affinity, kami menutup celah [pengeditan motion] tersebut dan membuka rangkaian profesional lengkap yang mencakup foto, vektor, tata letak, dan kini pengeditan motion,” tulis perusahaan dalam blog resmi.
Alat tersebut menjadi fondasi Creative OS full-stack untuk pekerjaan profesional, sambil tetap mempertahankan kedalaman dan kontrol yang diandalkan para kreator profesional.
Di sisi pemasaran, Canva juga mengambil alih MangoAI, startup yang masih beroperasi secara stealth dan fokus mengembangkan sistem pembelajaran penguatan (reinforcement learning) untuk meningkatkan performa iklan video. Produk awal MangoAI memungkinkan klien membuat, meluncurkan, serta menganalisis kinerja iklan guna mengoptimalkan kampanye berikutnya.
MangoAI didirikan oleh mantan Vice President of Data Science & Engineering di Netflix bersama Vinith Misra, mantan data scientist di Netflix dan Roblox. Pascaakuisisi, Govind akan menjabat sebagai “Chief Algorithms Officer” pertama di Canva, sementara Misra akan memperkuat lini produk pemasaran perusahaan.
Langkah ini melanjutkan strategi ekspansi Canva di sektor marketing technology. Pada Januari 2025, perusahaan mengakuisisi Magicbrief, startup intelijen pemasaran, lalu meluncurkan Canva Grow, alat untuk pembuatan aset dan pengukuran performa kampanye.
Melansir TechCrunch, dalam wawancara di Web Summit Qatar awal bulan ini, Co-founder sekaligus COO Canva Cliff Obrecht mengatakan kepada TechCrunch bahwa Canva Grow menunjukkan performa “sangat baik,” terutama dalam pembuatan konten statis dan distribusinya ke platform Meta.
“Produk ini masih sangat awal, tetapi kami segera akan meluncurkan lebih banyak fitur seputar pembuatan video, yang dapat diterapkan di berbagai platform,” ujar Obrecht.
“Jadi ini masih tahap awal, namun sudah memiliki basis pengguna kecil yang sangat loyal. Banyak merek besar mulai membelanjakan anggaran mereka, dan kami sedang melakukan ekspansi besar-besaran," katanya, menambahkan.
Melalui akuisisi terbaru ini, Canva berupaya memperkuat posisinya sebagai solusi pemasaran terpadu, termasuk dengan memperluas kemampuan pembuatan video dan pengukuran kinerja yang lebih rinci. Hingga akhir 2025, Canva mencatat pendapatan tahunan sebesar US$4 miliar, dengan basis lebih dari 265 juta pengguna dan 31 juta pelanggan berbayar. Ini menunjukkan skala bisnis yang terus bertumbuh di tengah persaingan industri kreatif digital.
