Jakarta, FORTUNE - Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan kendaraan listrik mendorong pertumbuhan industri semikonduktor di Asia Pasifik. Tren ini juga mendorong perusahaan memperluas manufaktur dan memperkuat ketahanan rantai pasok.
Laporan Federal Express Corporation (FedEx) bersama Frost & Sullivan bertajuk From AI to EVs: How APAC Semiconductors Drive the Global Innovation Map mencatat, Asia Pasifik menyumbang sekitar 58 persen pendapatan industri semikonduktor global.
Survei FedEx dalam ajang SEMICON Taiwan 2026 menunjukkan, 35 persen responden berencana memperluas kegiatan manufaktur ke pasar lain di Asia Pasifik dalam tiga tahun mendatang. Sebanyak 25 persen lainnya berencana menambah atau mendiversifikasi sumber pengadaan di kawasan tersebut maupun pasar global.
Langkah ini mencerminkan upaya perusahaan memperluas pilihan lokasi produksi dan sumber pasokan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu. Presiden untuk Kawasan Asia Pasifik, FedEx, Salil Chari, mengatakan perkembangan inovasi dalam sepuluh tahun ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi semikonduktor, tetapi juga oleh kekuatan dan ketahanan rantai pasok yang mendukung AI dan infrastruktur digital.
“Seiring dengan percepatan investasi di infrastruktur AI, perusahaan kini harus mengelola rantai pasok yang kian kompleks, yang mencakup semikonduktor, server, perangkat jaringan, sistem pendingin, serta komponen teknologi canggih di berbagai pasar. Ketahanan, visibilitas, dan fleksibilitas rantai pasok kini menjadi keunggulan strategis," kataanya.
Ia menambahkan, melalui jaringan yang luas di Asia Pasifik, jangkauan global, dan layanan logistik khusus, FedEx membantu pelanggan menghubungkan berbagai bagian penting dalam rantai pasok tersebut agar inovasi dapat bergerak lebih cepat dari lokasi produksi hingga pusat data.
Laporan tersebut mengidentifikasi AI dan komputasi berkinerja tinggi sebagai pendorong utama permintaan semikonduktor. Lebih dari 2.000 pusat data baru diperkirakan dibangun secara global pada 2026–2035. Peningkatan investasi infrastruktur AI turut mendorong kebutuhan server berkapasitas tinggi, perangkat jaringan, sistem pendingin, dan solusi penyediaan daya. Komponen tersebut kerap melewati beberapa lokasi manufaktur, perakitan, dan pengujian sebelum digunakan di pusat data berbagai negara.
Proses lintas negara ini membuat rantai pasok semakin kompleks. Perusahaan pun membutuhkan logistik yang menjamin ketepatan waktu pengiriman, kemudahan pelacakan, dan kelancaran distribusi barang bernilai tinggi.
Selain AI, permintaan semikonduktor meningkat seiring penggunaan kendaraan listrik yang membutuhkan lebih banyak cip dibandingkan kendaraan konvensional. Pertumbuhan teknologi 5G, Internet of Things (IoT), elektronik konsumen, perangkat medis, dan otomasi industri turut menopang kebutuhan tersebut.
