Jakarta, FORTUNE - Starbucks bersiap melakukan ekspansi global setelah menutup ratusan gerai berkinerja rendah pada 2025. Melansir Financial Times, perusahaan kopi asal Seattle itu berencana membuka ribuan gerai baru di berbagai negara, sekaligus mengembalikan fokus pada pengalaman kafe sebagai ruang untuk berlama-lama, di tengah maraknya layanan drive-through dan pemesanan digital.
Dalam paparan kepada investor, Chief Financial Officer Starbucks, Cathy Smith, menyebut perusahaan menargetkan penambahan lebih dari 2.000 gerai secara global pada tahun fiskal 2028. Jumlah ini lebih dari tiga kali lipat rencana pembukaan gerai pada tahun berjalan dan menandai kembalinya fase pertumbuhan setelah penutupan ratusan gerai pada September lalu.
Ekspansi juga difokuskan di Amerika Serikat. Chief Operating Officer Starbucks, Mike Grams, mengatakan perusahaan berencana membangun 400 gerai baru yang dikelola langsung pada 2028, serta mempertimbangkan pembukaan hingga 5.000 gerai tambahan setelahnya. Lokasi pengembangan terutama berada di wilayah tengah, selatan, dan timur laut AS—kawasan yang kini menghadapi persaingan ketat dari jaringan kopi berbasis drive-through seperti 7 Brew dan Dutch Bros.
Di tengah kompetisi tersebut, Starbucks kembali menegaskan konsep kedai kopi sebagai third place, ruang antara rumah dan tempat kerja untuk berkumpul dan bersosialisasi. Niccol menyebut lebih dari 60 persen pelanggan Starbucks masih datang langsung ke kafe untuk memesan minuman mereka. “Kafe kami adalah pembeda utama kami,” ujarnya, dalam keterangan di laman starbucks.com, Kamis (29/1).
“Itu menciptakan efek halo… Jika Anda masuk ke sebuah tempat dan tidak ada orang yang duduk, atau suasananya terasa hambar, Anda tidak akan merasa nyaman dengan apa yang baru saja Anda pesan," katanya, menambahkan.
Ke depan, Starbucks akan mengembangkan gerai dengan pendekatan omnichannel yang melayani drive-through, pemesanan aplikasi, pengantaran, dan layanan di dalam kafe, kecuali di area perkotaan tertentu. Selain itu, perusahaan memperkenalkan format bangunan baru bernama Ristretto, berukuran lebih kecil namun tetap menyediakan area duduk dan bar kopi. Menurut Smith, desain ini ditujukan untuk memangkas biaya pembangunan rata-rata sekitar seperlima.
Saat ini Starbucks mengoperasikan hampir 23.000 gerai di luar Amerika Serikat dan menyebut jumlah tersebut berpotensi meningkat hingga sekitar 40.000 lokasi. Kontributor terbesar ekspansi diproyeksikan berasal dari Tiongkok, dengan rencana penambahan 15.000–20.000 gerai dari sekitar 8.000 yang telah beroperasi.
Pada November lalu, Starbucks juga menyepakati penjualan saham mayoritas bisnisnya di Tiongkok kepada Boyu Capital. Transaksi tersebut akan membuat 90 persen gerai Starbucks di luar negeri dijalankan oleh mitra lisensi, meningkat dari 55 persen saat ini, menurut Chief Executive Starbucks International Brady Brewer.
Untuk pertama kalinya sejak Niccol menjabat pada akhir 2024, manajemen menyampaikan panduan jangka panjang dengan target pertumbuhan pendapatan minimal 5 persen pada 2028, di mana dua hingga tiga poin persentase diharapkan berasal dari pembukaan gerai baru. Starbucks juga memproyeksikan margin laba operasional sebesar 13,5–15 persen, dibandingkan margin 9 persen yang dibukukan pada kuartal pertama tahun ini.
