Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kopi, Roda, dan Rasa: Revolusi Jago Coffee di Jantung Kota
Dok. Jago Coffee

Jakarta, FORTUNE - Sejak awal kemunculannya, Jago Coffee menyita perhatian karena model bisnisnya yang unik. Penjualan kopi dengan sepeda keliling sebenarnya bukan hal baru. Di Jakarta khususnya, banyak penjual kopi saset menggunakan sepeda yang biasa disebut Starling atau “Starbucks keliling”. Jago Coffee memberikan kebaruan dengan bantuan teknologi. Kini, kopi ala kafe bisa menjangkau konsumen yang lebih luas. “Saya cuma ingin semua orang bisa minum kopi enak,” ujar Yoshua Tanu, CEO dan Co-founder Jago Coffee kepada Fortune Indonesia (15/4).

Yoshua bukan pemain baru dalam lanskap perkopian Tanah Air. Lulusan University of California jurusan Managerial Economics pada 2007 ini telah tertarik pada dunia kopi sejak kuliah. Ia pulang ke Indonesia medio 2010. Bersama tiga teman kuliahnya yang memiliki passion sama, ia kemudian membangun Pandava Coffee di Epicentrum Kuningan.

Usaha pertama itu hanya bertahan empat tahun. “Kami belajar banyak dari bisnis pertama. Dulu, kami kira kalau mau menyaingi Starbucks, ya tinggal bikin versi lokalnya. Tapi cepat sadar itu enggak ada value-nya,” kenangnya. “Jika kita mau melawan, duitnya harus lebih banyak. Kita enggak bisa menang di situ.” Ia kemudian mencari nilai tambah melalui edukasi. “Kami mau mengenalkan specialty coffee ke pasar Indonesia,” ujarnya.

Yoshua dan rekan-rekannya lalu membangun Common Grounds pada 2014, kafe dan roastery yang didirikan dengan modal awal sekitar Rp700 juta—kini menjadi salah satu tolok ukur coffee shop urban di Jakarta. Tak hanya membangun bisnis, kecintaannya pada dunia kopi juga membawanya ke berbagai kompetisi. Ia mencoba peruntungan di Indonesia Barista Championship dan World Barista Championship—dan berhasil menjuarai kejuaraan nasional pada 2014, 2016, dan 2017.

Namun, mimpinya belum selesai. Ia melihat ada gap di antara peminum kopi di Indonesia—dan celah itu harus diisi. Sebab, harga specialty coffee masih terlalu tinggi untuk pasar massal. Yang terjadi, meski Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia, banyak orang belum mampu menikmati kopi bermutu tinggi. “Ini alasan utama kenapa memulai Jago Coffee, karena akses ke specialty coffee masih mahal. Kami ingin membuka akses ke affordability,” katanya.

Menurutnya, hanya 20 persen peminum kopi di Indonesia yang dapat menikmatinya di kedai kopi. Sisanya? 80 persen minum kopi instan di warung atau penjaja kopi keliling. “Lalu bagaimana mereka bisa suka dengan specialty coffee?”

Akhir 2019, gagasan itu perlahan diwujudkan. Nama Jago dipilih sebagai simpul dari dua hal: kopi Jawa yang digunakan untuk meracik minuman dan mobilitas atau “Java Coffee on the Go.” Hingga pada Januari 2020, sepeda kopi pertama Jago Coffee mulai diuji coba—mulai dari kemampuan baterai, produk, hingga pasarnya.

Ada delapan barista menjadi pionir dalam gerakan kopi keliling ini. Mereka menyajikan kopi secara manual di tempat menggunakan peralatan seperti V60 dan kettle listrik. Kemudian, armadanya bertambah menjadi 50 unit. Setiap satu coffee cart, jelasnya, menelan biaya sekitar Rp45 juta. Itu sudah termasuk sepeda listrik, perlengkapan menyeduh, dan pasokan kopi.

Harga secangkir Jago Coffee kala itu dibanderol Rp18.000–Rp20.000 untuk semua varian. Lebih mahal memang dibandingkan kopi Starling, tetapi jauh lebih terjangkau dibandingkan kopi di kafe yang bisa menembus harga dua hingga tiga kali lipat. Penjualan pertama dilakukan di lingkungan perkantoran Menara Standard Chartered dan RDTX Square, Kuningan, Jakarta Selatan. Saat itu, ia memang memilih sales point di gedung perkantoran.

“Di gedung biasanya ada area kecil kosong. Saya bilang, ‘daripada lokasi ini enggak dipakai juga, lo kasih gua sewa murah, hanya butuh sekitar 2x2 meter. Saya taruh sepeda di sana,’” kata penerima Fortune Indonesia 40 Under 40 tahun 2025 ini.

Penjualan berjalan cukup baik dan menyedot banyak pembeli, hingga pandemi menghantam. Penjualan di gedung-gedung mati suri. “Saya pikir ini tamat. Tapi justru dari situ kami belajar: orang tetap mau ngopi, tapi enggak bisa keluar rumah,” katanya. “Saat pandemi, kami masih dianggap sebagai moving vendor. Jadi, masih oke untuk keliling.”

Yoshua kian serius membangun armada penjaja kopi ini, apalagi pada November 2021 Jago Coffee mendapat suntikan dana Rp3,5 miliar pada putaran pendanaan pre-seed. Dari sinilah model keliling Jago Coffee benar-benar terwujud. Pemesanan kopi dilakukan via WhatsApp, sembari menyiapkan aplikasi Jago Apps. “Adanya aplikasi membuat Jago Coffee menjadi mobile café chain pertama di Indonesia yang memberikan layanan kafe dan barista langsung ke depan pintu pelanggannya,” ujarnya.

Para barista kemudian mulai menyusuri perumahan dan kompleks untuk mengantar pesanan ke berbagai wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Ia pun turut terjun ke lapangan, mengemudikan sepeda, dan membaca situasi pasar. “Sekitar 2021, saya coba keliling di daerah Tomang. Pernah di belakang ada mobil, sepeda ini kan enggak bisa kencang, tapi mereka enggak klakson dan sabar menunggu,” ujarnya.

Dari pengalaman itu, ia juga mengetahui bahwa Jago Coffee memberikan kemudahan bagi konsumen. Orang bisa memesan tanpa harus turun dari motor, membayar, dan langsung mendapatkan kopi. Ia juga mengantisipasi aral di jalan dengan berkoordinasi dengan aparat (Satpol PP) untuk mengetahui lokasi terlarang untuk berjualan. Namun, ada persoalan lain. Pandemi ternyata membuat orang menghindari kontak fisik, sementara produk minuman Jago Coffee semuanya dibuat fresh saat barista datang ke lokasi.

“Jadi kami enggak bisa sajikan langsung. Dari sisi model bisnis sudah oke, tapi harus diperbarui soal mobilitas, digitalisasi, dan kualitas produk,” kata Yoshua. Ia mulai memahami bahwa pandemi menciptakan ilusi pasar. Orang membeli lewat aplikasi ojek online karena tidak ada pilihan lain. Namun, ketika pilihan kembali terbuka, orang kembali ke kebiasaan lama: berbelanja dekat rumah, menikmati kopi dari kafe terdekat, tanpa ongkir, tanpa menunggu lama.

“Kami saat ini super hyperlocal. Setiap radius 1 kilometer kami taruh sekitar 50–100 sepeda. Dulu, dengan dua sepeda kami bisa melayani sampai PIK, Lebak Bulus demi customer experience. Tapi itu membantu kami menemukan product market fit,” tuturnya.

Berstrategi dengan teknologi

Yoshua Tanu, CEO dan Co-founder Jago Coffee/Dok. IDN

Tepatnya pada 4 Juli 2022, publik menyaksikan wajah baru Jago Coffee. Logo lamanya—siluet cup sederhana—digantikan oleh logo geometris baru. Perusahaan juga menambah beragam menu, mulai dari minuman kopi, nonkopi, hingga menu yang bersifat musiman (seasonal). Manuver Jago Coffee terus bergulir. Unit sepeda listrik dan para Jagoan juga terus bertambah. Di balik itu, ada peran teknologi yang membuat bisnis menjadi lincah dan canggih. “Salah satu keunggulan kami sebenarnya, we are a tech company,” katanya.

Teknologi tak hanya diadopsi sebagai kanal pemesanan konsumen, tetapi juga mengatur seluruh sistem rantai bisnis kopi (coffee chain). Jago Coffee membangun sistem teknologi internal untuk mengelola operasional, mulai dari manufaktur minuman, logistik, distribusi, hingga layanan pelanggan. Perusahaan bahkan mengembangkan kecerdasan buatan sendiri untuk melacak gangguan, kerusakan, hingga potensi penipuan.

“Jika nanti ada 100.000-an sepeda, tanpa diatur teknologi pasti akan hancur. Tanpa teknologi, kami enggak bisa scale up. Kalau cuma 20 sepeda, saya sendiri bisa tulis manual. Tapi ini sudah ribuan,” ujarnya.

Pendekatan ini mengantarkan mereka pada pendanaan Seri A senilai US$6 juta atau sekitar Rp97,36 miliar, yang dipimpin oleh Intudo Ventures dan BEENEXT Accelerate, serta partisipasi dari ORZON Ventures dan D Global Ventures. Dana tersebut akan digunakan untuk menambah jumlah mobile café menjadi 1.500–2.000 unit, membuka 3.000–4.000 lowongan kerja, serta membangun 25 depot di area Jakarta. Semua ini akan didukung oleh model pembelajaran mesin spasial untuk menentukan lokasi ekspansi yang strategis.

Jago Coffee juga aktif membangun komunitas, mulai dari musik hingga olahraga. Salah satunya melalui kolaborasi dengan DJ Dipha Barus, yang melahirkan “pesta keliling” pertama di Indonesia lewat Jago Pesta atau Jago Party. Inisiatif ini masih berjalan dan dapat dipesan untuk segmen korporasi maupun acara privat melalui aplikasi.

Pada awal 2026, Jago Coffee berhasil mengamankan pendanaan Seri B senilai US$12,5 juta atau sekitar Rp200 miliar. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh BEENEXT, dengan partisipasi lanjutan dari Intudo Ventures dan Orzon Ventures, serta sejumlah investor lainnya. Merujuk pada dokumen regulator yang dilaporkan pada Februari 2026, seperti dikutip dari Dealstreetasia, suntikan dana ini mendorong valuasi pascapendanaan Jago Coffee menjadi sekitar US$46,7 juta. Angka tersebut hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan valuasi sebelumnya yang berada di kisaran US$16 juta.

Dalam putaran ini, BEENEXT Accelerate tercatat sebagai investor utama dengan komitmen sekitar US$7 juta. Sementara itu, Intudo Ventures kembali menambah investasinya dengan kontribusi US$3,5 juta, mencerminkan keyakinan berkelanjutan terhadap model bisnis yang dijalankan Jago Coffee. Selain kedua investor tersebut, sejumlah pihak lain juga ikut berpartisipasi, antara lain Apex Venture Fund VCC, CA Startups Internet Fund IV, Keep Korea Green Impact Fund No. 2, serta Orzon Ventures. Pendanaan Seri B ini menyusul putaran Seri A sebesar US$6 juta yang diperoleh perusahaan pada 2024, yang juga dipimpin oleh Intudo Ventures dan BEENEXT. Dengan tambahan pendanaan terbaru tersebut, total dana yang berhasil dihimpun Jago Coffee kini telah melampaui US$20 juta.

Manajemen Jago Coffee menyatakan bahwa dana baru ini akan dimanfaatkan untuk mempercepat ekspansi bisnis, terutama melalui penambahan jaringan gerobak kopi listrik di berbagai kota di Indonesia. Di samping ekspansi, perusahaan juga berupaya meningkatkan efisiensi unit ekonomi dengan mengoptimalkan model “coffee-on-wheels”, yang dinilai lebih efisien karena mampu menekan biaya sewa yang biasanya tinggi pada gerai konvensional. Sebagian dana lainnya akan dialokasikan untuk penguatan aspek teknologi, termasuk pengembangan sistem pemesanan berbasis aplikasi serta peningkatan rantai pasok guna mendukung skala operasional yang semakin luas.

Dari sisi kinerja, Jago Coffee sempat mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 17 persen pada Desember 2024. Namun demikian, perusahaan juga menghadapi tekanan pada aspek profitabilitas. Pada periode yang sama, kerugian perusahaan dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat seiring tingginya biaya yang muncul dari strategi ekspansi yang agresif.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa meskipun pendapatan terus bertumbuh, perusahaan masih berada dalam fase investasi besar untuk memperluas skala bisnis dan membangun infrastruktur operasional. Pendanaan terbaru ini diharapkan dapat membantu Jago Coffee menyeimbangkan strategi pertumbuhan dengan perbaikan kinerja keuangan dalam jangka menengah.

Editorial Team