Jakarta, FORTUNE - Starbucks kembali mencuri perhatian melalui Protein Cold Foam, sebuah terobosan yang memungkinkan pelanggan menambahkan hingga 15–18 gram protein ke dalam hampir semua minuman, tanpa mengubah rasa dan teksturnya. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi CEO Brian Niccol untuk memperluas jangkauan Starbucks ke dalam kategori produk yang mendukung gaya hidup sehat.
Niccol memperkenalkan inovasi ini dalam acara Starbucks Leadership Experience di Las Vegas, yang dihadiri oleh lebih dari 14.000 manajer dan karyawan. Ia menyatakan bahwa banyak pelanggan Starbucks—terutama pria usia 20-an, perempuan usia 50-an, hingga mereka yang menjalani pengobatan GLP-1—secara rutin membawa sendiri bubuk protein untuk dicampur ke dalam minuman kopi mereka. “Saya pikir, tunggu dulu—kita bisa membuat pengalaman ini jauh lebih baik untuk mereka,” ujar Niccol, mengutip Fast Company.
Inovasi cold foam berprotein ini lahir dari pengamatan atas tren konsumsi tinggi protein, yang melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir. Sebanyak 61 persen konsumen global meningkatkan asupan protein mereka pada 2024, naik dari 48 persen pada 2019. Fenomena ini dikenal sebagai tren “proteinisasi,” di mana protein ditambahkan ke berbagai produk makanan dan minuman.
Starbucks pun menangkap peluang ini dengan mengembangkan campuran protein tanpa pemanis ke dalam foam—bukan ke dalam kopi secara langsung—untuk menghindari penggumpalan yang umum terjadi dengan bubuk protein.
Tekstur dan rasa dari protein cold foam diklaim dilaporkan nyaris identik dengan cold foam biasa, hanya saja kini memiliki manfaat tambahan berupa kandungan protein tinggi. Varian rasa pisang menjadi menu uji coba pertama, tapi varian cokelat dan bahkan versi tanpa rasa juga sedang dikembangkan untuk peluncuran mendatang. Niccol menyebut inovasi ini sebagai “produk yang akan melesat seperti roket” dan menegaskan bahwa peluncurannya hanya tinggal menghitung bulan.