Jakarta, FORTUNE - Persaingan industri otomotif Indonesia kian ramai dengan kedatangan merek-merek asal Cina. Tidak hanya menawarkan harga kompetitif, para pendatang baru tersebut membawa teknologi elektrifikasi, fitur, dan desain yang makin beragam.
Kondisi ini membuat pemain lama, termasuk Daihatsu dan Isuzu, harus mempertajam strategi untuk mempertahankan pangsa pasarnya.
Direktur Marketing & Corporate Function PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Rokky Irvayandi, mengatakan sepanjang 2026 setidaknya terdapat delapan merek baru yang masuk ke Indonesia dengan sekitar 36 model baru. Menurut dia, bertambahnya pemain justru menunjukkan besarnya daya tarik pasar otomotif Indonesia.
“Kami menyadari bahwa setiap brand pasti memiliki target customer-nya masing-masing dan setiap brand akan memiliki strategi bagaimana untuk bisa melayani customer dengan baik,” kata Rokky dalam Astra Media Day 2026 di Menara Astra, Jakarta, Rabu (23/9).
Hingga Agustus 2026, penjualan Daihatsu 97.000 unit, naik 9 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu. Salah satu penopangnya adalah segmen kendaraan dengan harga di bawah Rp300 juta.
Berdasarkan data yang dipaparkan Daihatsu, kendaraan dengan harga di bawah Rp300 juta masih mendominasi pasar dengan kontribusi 49 persen hingga Agustus 2026. Segmen Rp300 juta-500 juta menyumbang 31 persen, sedangkan kendaraan di atas Rp500 juta sekitar 20 persen.
Pada segmen di bawah Rp300 juta tersebut, Daihatsu menguasai 33 persen pangsa pasar. Artinya, strategi Daihatsu bukan semata-mata menghadapi merek Cina dengan mengikuti perang teknologi atau fitur, melainkan mempertahankan relevansi produk bagi konsumen yang membutuhkan kendaraan pertama dengan harga terjangkau.
“Core customer kami adalah di segmen di bawah Rp300 juta. Khususnya untuk core customer, bagi kami mereka sangat berperan untuk motorisasi di Indonesia,” ujar Rokky.
