Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Melalui Jaringan Fiber Optik, Ini Strategi Transformasi Bisnis Telkom
Gedung TelkomGroup (dok. Telkom)
  • Telkom fokus pada konsolidasi jaringan fiber optic nasional untuk mengatasi inefisiensi industri dan memperkuat kedaulatan digital Indonesia di tengah percepatan ekonomi digital.

  • Konsolidasi infrastruktur dinilai mampu menekan biaya hingga 40 persen, membuka peluang inovasi, serta menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi masa depan seperti 5G dan IoT.

  • Melalui pembentukan InfraCo dan integrasi IndiHome ke Telkomsel, Telkom menjalankan transformasi bisnis besar yang menekankan efisiensi, model open access, serta dukungan pemerintah untuk standardisasi nasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    PT Telkom Indonesia menjalankan strategi transformasi bisnis dengan konsolidasi jaringan fiber optic nasional untuk meningkatkan efisiensi industri dan memperkuat fondasi kedaulatan digital Indonesia.
  • Who?
    Langkah ini dipimpin oleh PT Telkom Indonesia melalui Chief Strategy Officer, Seno Soemadji, bersama tim manajemen yang mengarahkan pembentukan entitas InfraCo dan integrasi layanan ServCo (FMC).
  • Where?
    Kegiatan dan kebijakan strategis ini berpusat di Jakarta serta mencakup infrastruktur digital di seluruh wilayah Indonesia.
  • When?
    Transformasi bisnis dan konsolidasi infrastruktur sedang berlangsung pada tahun 2024 sebagai bagian dari langkah jangka panjang Telkom dalam restrukturisasi industri telekomunikasi nasional.
  • Why?
    Konsolidasi dilakukan untuk mengatasi inefisiensi akibat fragmentasi pasar, menekan duplikasi aset, serta mendukung pengembangan teknologi seperti 5G dan Internet of Things (IoT).
  • How?
    Telkom memisahkan fokus bisnis menjadi ServCo dan InfraCo, mengintegrasikan IndiHome ke Telkomsel, serta membuka peluang kerja sama wholesale bagi operator lain melalui model open access dan neutral carrier.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, Fortune - PT Telkom Indonesia menentukan langkah strategis untuk memfokuskan bisnis infrastruktur digital nasional melalui konsolidasi jaringan serat optic (fiber optic). Strategi ini krusial untuk mengurai inefisiensi industri sekaligus memperkuat fondasi kedaulatan digital Indonesia.

Peran infrastruktur fiber optic semakin vital di tengah percepatan ekonomi digital saat ini. Bukan sekadar jaringan pendukung, fiber optic kini menjadi tulang punggung utama bagi konektivitas, komputasi awan (cloud), hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Chief Strategy Officer Telkom, Seno Soemadji menekankan bahwa posisi strategis tersebut menempatkan infrastruktur digital sebagai bagian dari kepentingan nasional.

“Kedaulatan digital berbicara terhadap kemampuan bangsa untuk menentukan strategi, implementasi, dan operasional infrastruktur digital untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada bangsa,” ujarnya.

Namun, di balik urgensi tersebut, ia menjelaskan, industri telekomunikasi nasional menghadapi potensi inefisiensi akibat fragmentasi pasar yang tinggi. Dengan lebih dari seribu penyedia layanan internet (ISP), kompetisi yang kian ketat justru berpotensi memicu duplikasi aset dan berdampak pada kualitas layanan.

Untuk itu, Seno menggarisbawahi tantangan utama industri ini bukan terletak pada ketersediaan investasi, melainkan pada alokasi yang berpotensi tumpang tindih dan belum merata.

Infrastruktur sebagai solusi strategis

Chief Strategy Officer Telkom, Seno Soemadji. (Dok. Telkom)

Dampak lain dari kondisi tersebut juga terlihat pada aspek tata kota. Menurut Seno, keberadaan jaringan kabel yang belum tertata optimal berdampak pada estetika kota dan berpotensi memengaruhi aspek keamanan publik, sekaligus menjadi tantangan bagi implementasi konsep smart city yang memerlukan keteraturan infrastruktur bawah tanah.

Dalam perspektif bisnis jangka panjang, Seno melihat konsolidasi infrastruktur sebagai solusi strategis. Pendekatan ini diyakini mampu menciptakan efisiensi biaya sekaligus membuka ruang inovasi.

Menurut Seno, berbagi infrastruktur pasif seperti ducting dan tiang dapat memangkas biaya pembangunan hingga 30–40 persen. Efisiensi ini memberi ruang bagi penyedia layanan untuk mengalihkan investasi untuk inovasi layanan di lapisan atas (service layer) atau ekspansi ke daerah pelosok.

“Konsolidasi infrastruktur menawarkan solusi konkret. Dalam kalkulasi bisnis jangka panjang, langkah ini menawarkan penciptaan nilai industri (industry value creation) yang signifikan,” ujarnya.

Selain itu, ia mengatakan, konsolidasi juga menjadi enabler penting bagi pengembangan teknologi masa depan seperti 5G dan Internet of Things (IoT), yang membutuhkan densitas jaringan yang masih dengan biaya backhaul yang kompetitif.

Transformasi bisnis Telkom

Carut-marut infrastruktur serat optik. (Dok. Telkom)

Menjawab tantangan tersebut, Telkom menjalankan transformasi fundamental dengan memisahkan fokus bisnis, antara lain Fokus ServCo (FMC), pembentukan InfraCo, dan melakukan “unlocking value”.

Dalam Fokus ServCo (FMC), Seno mengatakan, Telkom mengintegrasi IndiHome ke Telkomsel, yang memungkinkan entitas layanan untuk fokus 100 persen pada pengalaman pelanggan dan konvergensi layanan tanpa terbebani kompleksitas fisik jaringan.

Adapun pada pembentukan InfraCo, perseroan mengonsolidasi aset fiber optic dan jaringan akses ke dalam entitas khusus untuk menciptakan network excellence. Telkom juga mengubah aset fiber dari cost center menjadi revenue generator dalam hal melakukan unlocking value. InfraCo pun dipersiapkan beroperasi netral, membuka peluang wholesale bagi operator lain, mirip dengan kesuksesan IPO Mitratel di sektor menara.

“Langkah Telkom ini adalah sinyal kuat. Konsolidasi oleh pemain utama berpotensi mendorong pemain menengah dan kecil untuk melakukan penyesuaian strategi guna meningkatkan efisiensi operasional,” kata Seno.

Seno mengatakan, model ini sejalan dengan hal yang diterapkan berbagai negara, yang mengarah pada pemisahan antara pemilik infrastruktur dan penyedia layanan, atau dikenal sebagai model open access dan neutral carrier. Praktik ini terbukti meningkatkan efisiensi industri serta mempercepat inovasi dan penetrasi layanan broadband.

Peran penting pemerintah

Gedung Telkom (dok. Telkom)

Meski hal-hal tersebut merupakan langkah awal, Seno menilai dukungan pemerintah tetap diperlukan. Insentif fiskal, seperti keringanan pajak bagi perusahaan yang melakukan merger atau berbagi infrastruktur, dapat mendukung konsolidasi industri. Selain itu, penetapan standar nasional menjadi kunci.

Ke depan, kompetisi industri diharapkan tidak lagi bertumpu pada kepemilikan infrastruktur fisik, tetapi pada kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan.

“Pemerintah juga berperan penting untuk memastikan siapa yang memberikan layanan terbaik di atas infrastruktur yang sama,” ujar Seno.

Dengan strategi konsolidasi dan transformasi bisnis yang dijalankan, dapat dikatakan, Telkom memosisikan diri sebagai penggerak utama penataan ulang industri fiber optic nasional.

Upaya ini diharapkan mampu mengubah lanskap infrastruktur yang semrawut menjadi sistem yang terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan. Pada akhirnya, langkah tersebut menjadi fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital sekaligus mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. (WEB)

Editorial Team