Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ilustrasi seorang karyawan duduk di meja kerja dengan tumpukan dokumen tambahan.
Ilustrasi seorang karyawan duduk di meja kerja dengan tumpukan dokumen tambahan. (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Jakarta, FORTUNE - Ekonomi global diperkirakan kehilangan produktivitas hingga US$1 triliun per tahun akibat stres, depresi, dan kecemasan di tempat kerja. Angka tersebut tercantum dalam laporan bersama World Health Organization (WHO) dan International Labour Organization (ILO), yang menyoroti dampak kesehatan mental terhadap kinerja tenaga kerja lintas sektor.

Gambaran serupa muncul dalam laporan Gallup State of the Global Workplace. Sebanyak 41 persen karyawan di dunia melaporkan tingkat stres harian yang tinggi, sementara unit bisnis dengan keterlibatan tenaga kerja rendah mengalami penurunan produktivitas hingga 21 persen. Gallup juga mencatat potensi ekonomi sebesar US$9,6 triliun yang dapat tercapai jika tenaga kerja benar-benar terlibat penuh di tempat kerja.

Tekanan tidak hanya dirasakan pekerja operasional. DDI Global Leadership Forecast menunjukkan fenomena leadership burnout yang meningkat. Sebanyak 72 persen pemimpin mengaku merasa “habis” di akhir hari kerja, naik dari 60 persen pada 2020, dan memicu risiko eksodus talenta kepemimpinan terbesar dalam satu dekade terakhir.

Di Indonesia, kondisi serupa tercermin dalam laporan Health on Demand dari Mercer Marsh Benefits. Sekitar 45 persen karyawan mengaku tetap bekerja meski kondisi mental tidak optimal, sebuah praktik yang justru menurunkan output riil. Pada saat yang sama, data BPJS Ketenagakerjaan dan Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 462.241 kasus kecelakaan kerja sepanjang 2024, dengan mayoritas terjadi pada segmen yang rentan terhadap kelelahan operasional.

Melihat hal ini, Dist Prof Dr. Tegar Septyan Hidayat, Distinguished Professor bidang manajemen inovasi dan teknologi sekaligus Chairman B3C Global dan TEG Institute, mengatakan Indonesia sedang menghadapi silent crisis. "Di permukaan, laporan operasional mungkin terlihat hijau, namun di baliknya terjadi krisis dalam diam, mulai dari operator mesin yang kelelahan di lantai produksi hingga eksekutif yang mengalami kelelahan dalam mengambil keputusan,” ujarnya, dalam keterangan kepada Fortune Indonesia, Senin (26/1).

Dia menambahkan, merespons kondisi tersebut, perlu ada sistem pengelolaan tenaga kerja yang lebih komprehensif. Sebagai contoh, B3C Global memperkenalkan pendekatan berbasis teknologi bernama GameTwin. Pendekatan ini beroperasi sebagai bagian dari ekosistem Game As Reality (GAR) yang dikombinasikan dengan human digital twin untuk mendorong produktivitas dengan cara yang gameful karena berbasis misi, tantangan, dan penghargaan virtual.

Dengan kata lain, sistem menggabungkan psikologi, kesehatan, kecerdasan buatan, dan elemen gim interaktif untuk memantau beban kognitif, stres, serta kelelahan mikro secara real-time melalui sensor non-invasif. Pendekatan ini juga dilengkapi simulator kepemimpinan dengan skenario adaptif yang menyesuaikan tingkat kesulitan berdasarkan kondisi kognitif pengguna.

Sebagai gambaran, menurut hasil pilot internal B3C Global di sejumlah simulasi industri, penerapan sistem pemantauan real-time dikaitkan dengan penurunan risiko kelelahan, stres, dan masalah ergonomi hingga 50 persen di lingkungan manufaktur. Simulator tersebut juga disebut membantu pemulihan kognitif pemimpin, sehingga pengambilan keputusan di bawah tekanan menjadi lebih jernih.

“Pada individu dan organisasi, sistem dapat memberitahu Anda apa yang terjadi dan bagaimana memanajenya sebelum terjadi burnout,” ujar Dr. Tegar. Temuan ini menguatkan pandangan bahwa tantangan produktivitas global tidak semata soal efisiensi mesin, melainkan juga kemampuan organisasi menjaga kapasitas dan ketahanan sumber daya manusianya.

Denga kata lain, bagi para pemimpin organisasi, sistem pemantauan bukan sekadar alat untuk memahami persoalan kesehatan mental. Namun, menjadi strategi pertahanan aset paling berharga perusahaan, yaitu kondisi sumber daya manusia yang paripurna.

Editorial Team