Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Ramalan Elon Musk & Bill Gates Dipatahkan, Kerja 4 Hari Hanya Ilusi

Bill Gates
Bill Gates (commons.wikimedia.org/Kuhlmann /MSC)

Jakarta, FORTUNE - Bill Gates sang miliarder pendiri Microsoft, CEO JPMorgan Jamie Dimon, CEO Nvidia Jensen Huang, hingga Elon Musk dalam beberapa tahun terakhir kompak menyuarakan pandangan serupa: otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) akan mengambil alih tugas-tugas rutin, membebaskan waktu manusia, dan mendorong pekan kerja yang lebih singkat. Gates bahkan sempat melempar gagasan radikal tentang dua hari kerja dalam sepekan.

Namun, Mark Dixon, CEO sekaligus pendiri International Workplace Group (IWG), tak sependapat. Dari pengalamannya memimpin perusahaan penyedia ruang kerja fleksibel terbesar dunia, dengan lebih dari 8 juta pengguna di 122 negara dan melayani 85 persen perusahaan Fortune 500, perhitungan ekonomi justru berbicara sebaliknya. “Semua orang sedang fokus pada produktivitas, jadi itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat,” ujar Dixon, melansir Fortune.com.

Menurutnya, akar persoalannya bukan teknologi, melainkan biaya. Ia menyoroti tekanan ganda yang kini dihadapi dunia usaha, terutama di Amerika Serikat dan Inggris. “Ini soal biaya tenaga kerja,” kata Dixon. Menurutnya, AS dan Inggris sedang mengalami krisis biaya hidup yang signifikan. Pada saat yang sama, perusahaan juga menghadapi krisis biaya operasional.

Ia menegaskan, lonjakan biaya di hampir semua lini memaksa perusahaan bersikap jauh lebih ketat terhadap produktivitas karyawan.

“Semua orang harus mengendalikan biaya tenaga kerja karena hampir semua biaya melonjak drastis. Dan Anda tidak bisa menaikkan harga ke pelanggan, jadi pada akhirnya Anda harus mendapatkan lebih banyak dari orang-orang yang Anda pekerjakan,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, perusahaan dinilai tidak memiliki ruang untuk membayar upah yang sama dengan jam kerja yang lebih sedikit. Selisih biaya pun tak mungkin dibebankan ke konsumen. Akibatnya, waktu yang secara teori ‘dibebaskan’ oleh otomatisasi justru berpotensi diisi oleh tugas-tugas baru, bukan dikembalikan kepada pekerja.

Pandangan Dixon juga bertolak belakang dengan optimisme Silicon Valley soal masa depan kerja. Elon Musk, bos SpaceX, Tesla, dan X, bahkan memprediksi bahwa dalam satu dekade ke depan, kerja akan menjadi sepenuhnya “opsional” dan lebih menyerupai hobi.

Namun bagi Dixon, skenario itu hanya akan terwujud jika dunia benar-benar kehabisan pekerjaan, bukan karena perusahaan mendadak menjadi lebih dermawan. “AI justru akan menciptakan lebih banyak pekerjaan, bukan lebih sedikit,” katanya.

Ia menilai setiap lompatan teknologi besar selalu mengikuti pola yang sama: diawali ketakutan akan penggantian tenaga kerja, lalu berujung pada perluasan peluang baru. “AI akan mempercepat pengembangan perusahaan, sehingga akan ada lebih banyak pekerjaan, hanya saja jenis pekerjaannya berbeda,” kata Dixon.

Menilik ke belakang, ia mengingatkan bahwa ketakutan serupa pernah muncul pada Revolusi Industri abad ke-19, ketika para pekerja tekstil Inggris, yang dikenal sebagai kaum Luddite, menghancurkan mesin otomatis karena khawatir kehilangan mata pencaharian.

“Mereka berkeliling negeri menghancurkan alat tenun untuk menghentikan kemajuan. Tapi lihat hasilnya—itulah yang melahirkan Revolusi Industri,” ujarnya.

Sejarah serupa terulang saat komputer mulai masuk ke kehidupan masyarakat pada 1980-an. Alih-alih memusnahkan profesi, teknologi justru mengubah cara kerja dan menciptakan peran-peran baru, dari penulis yang beralih ke laptop, desainer yang menggunakan perangkat lunak, hingga lahirnya berbagai profesi di sektor teknologi informasi. Rasanya mustahil untuk menghetikan kemajuan, sebab zaman terus bergerak.

Ia pun berpesan kepada generasi muda agar lebih realistis menghadapi masa depan kerja. “Perusahaan akan melakukan apa yang harus mereka lakukan. Dan bagi anak muda, penting untuk memilih jalur karier dengan cermat, menambah keterampilan—termasuk di bidang AI. Apa pun pekerjaannya, Anda harus menguasai teknologi," ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Business

See More

Buka Suara Usai Terima Gugatan, Toba Pulp : Belum Berdampak Material

22 Jan 2026, 19:16 WIBBusiness