Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Kenaikan Harga Minyak Picu Risiko Lonjakan Harga Tiket Pesawat

Kenaikan Harga Minyak Picu Risiko Lonjakan Harga Tiket Pesawat
Airbus A380 pesawat penumpang berbadan lebar. Shutterstock/vaalaa
Intinya Sih
  • Harga bahan bakar pesawat melonjak lebih dari 80 persen akibat gangguan pasokan dari kawasan Teluk setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, memicu risiko kenaikan harga tiket.
  • Maskapai seperti Wizz Air dan United Airlines memperkirakan dampak besar pada laba karena biaya bahan bakar meningkat, sementara beberapa maskapai Eropa terlindungi lewat strategi hedging.
  • Saham maskapai Asia turun hingga lebih dari 10 persen akibat lonjakan harga minyak dan penutupan ruang udara Timur Tengah yang menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Lonjakan tajam harga bahan bakar pesawat berpotensi mendorong kenaikan harga tiket pesawat menjelang musim liburan musim panas hingga memicu pembatalan penerbangan, menurut sejumlah analis.

Kenaikan harga ini terjadi setelah gangguan pasokan bahan bakar dari kawasan Teluk menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Akibatnya, harga avtur melonjak lebih dari 80 persen.

Kawasan Teluk merupakan salah satu sumber utama bahan bakar penerbangan dunia dan menyumbang sekitar 50 persen impor bahan bakar pesawat di Eropa. Sebagian besar pasokan tersebut dikirim melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang kini ditutup.

Dilansir dari BBC, salah satu maskapai Eropa, Wizz Air, memperkirakan konflik tersebut akan memangkas laba tahunannya sekitar 50 juta euro karena kenaikan biaya bahan bakar.

Sementara itu, CEO maskapai AS United Airlines, Scott Kirby, mengatakan kenaikan harga bahan bakar kemungkinan akan berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan dan bisa segera memicu kenaikan harga tiket.

Sebelum konflik terjadi, harga bahan bakar pesawat di wilayah Eropa barat laut berada di kisaran US$830 per ton, tapi kini melonjak hingga lebih dari US$1.500 per ton, level tertinggi sejak 2022 atau pasca-invasi Rusia ke Ukraina.

Lonjakan ini juga mencerminkan peran penting kilang minyak di Timur Tengah dalam memasok bahan bakar pesawat. Salah satunya adalah Kilang Al-Zour di Kuwait, yang menyumbang sekitar 10 persen impor bahan bakar pesawat Eropa, menurut data Energy Intelligence.

Bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya terbesar bagi maskapai, dengan kontribusi mencapai 20 hingga 40 persen dari total biaya operasional.

Untuk mengurangi risiko lonjakan harga, sebagian maskapai menggunakan strategi hedging, yaitu kontrak keuangan untuk mengunci harga bahan bakar dalam jangka waktu tertentu. Strategi ini digunakan sejumlah maskapai antara lain British Airways, Virgin Atlantic, EasyJet, dan Ryanair.

Namun sejumlah maskapai besar di Amerika Serikat tidak menggunakan strategi tersebut secara agresif sehingga lebih rentan terhadap lonjakan harga bahan bakar dalam jangka pendek.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings telah memperingatkan bahwa maskapai kemungkinan akan terdampak kenaikan harga bahan bakar. Meski begitu, banyak maskapai di kawasan EMEA (Eropa, Timur Tengah, dan Afrika) biasanya telah mengamankan sekitar 50 hingga lebih dari 80 persen kebutuhan bahan bakar mereka untuk tiga bulan ke depan melalui kontrak lindung nilai.

Seorang juru bicara EasyJet mengatakan maskapai tersebut saat ini belum terdampak langsung oleh kenaikan harga bahan bakar pesawat.

Sebelumnya, CEO Ryanair, Michael O'Leary, juga menyatakan perusahaannya telah mengamankan pasokan bahan bakar melalui kontrak lindung nilai (hedging).

“Hal itu tidak akan mempengaruhi biaya operasional kami maupun tarif murah yang kami tawarkan,” ujarnya dikutip dari BBC, Senin (9/3).

Namun, menurut James Noel-Beswick, kepala komoditas di perusahaan intelijen pasar Sparta Commodities, potensi kekurangan fisik bahan bakar pesawat tetap dapat menimbulkan masalah besar bagi industri penerbangan.

Ia menjelaskan bahwa meskipun maskapai telah melakukan hedging atau memiliki kontrak jangka panjang dengan kilang di Asia, pasokan bahan bakar dari kawasan tersebut juga bisa terdampak karena kilang Asia menerima lebih sedikit minyak mentah dari kawasan Teluk.

“Jika kondisi ini berlanjut, produksi bahan bakar bisa berkurang dan maskapai akan berlomba mencari pasokan dari sumber lain,” katanya.

Noel-Beswick memperingatkan tekanan pasokan ini dapat segera berdampak pada perjalanan udara.

“Dalam hitungan minggu kita bisa melihat pembatalan atau penundaan penerbangan karena kekurangan bahan bakar pesawat,” ujarnya.

Ia juga memperkirakan harga tiket pesawat berpotensi naik menjelang musim liburan musim panas.

Pakar perjalanan independen Jane Hawkes mengungkapkan hal senada. Lonjakan harga bahan bakar pesawat kemungkinan akan mendorong kenaikan tarif penerbangan.

“Maskapai biasanya memasukkan biaya bahan bakar dalam perhitungan harga tiket. Jika harga bahan bakar tetap tinggi, tarif penerbangan kemungkinan akan naik menjelang musim liburan,” katanya.

Namun, hal ini tak berlaku bagi penumpang yang sudah membeli tiket jauh hari sebelumnya. “Ketika seseorang memesan tiket pesawat, harga yang dibayarkan seharusnya menjadi harga final dan harus dihormati oleh maskapai,” ujarnya.

Saham Maskapai Tertekan

Sementara itu, saham-saham maskapai penerbangan di Asia turun tajam pada Senin (9/3) setelah harga minyak melonjak akibat memanasnya konflik Timur Tengah, pasca serangan Amerika Serikat serta Israel terhadap Iran. Kondisi ini menambah tekanan bagi industri penerbangan yang sudah menghadapi keterbatasan ruang udara di kawasan Timur Tengah.

Dilansir dari Reuters harga minyak naik sekitar 20 persen pada awal perdagangan Senin, mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dan pengiriman energi akibat konflik di kawasan tersebut.

Situasi keamanan juga memicu kekacauan perjalanan. Banyak penumpang yang terjebak di Timur Tengah harus mengeluarkan biaya besar untuk meninggalkan kawasan tersebut, mulai dari pembelian tiket mendadak, perjalanan darat ke bandara di negara lain, hingga penerbangan yang dikawal jet tempur demi keamanan.

Sebagian besar ruang udara di kawasan Timur Tengah masih ditutup karena ancaman rudal dan drone. Akibatnya, sebagian pelancong memilih menggunakan jet pribadi, sementara penerbangan komersial terbatas kesulitan mengevakuasi puluhan ribu penumpang.

Data dari Cirium menunjukkan, ada lebih dari 37.000 penerbangan ke dan dari Timur Tengah dibatalkan sejak konflik dimulai pada 28 Februari hingga 8 Maret.

Analis penerbangan independen yang berbasis di Singapura, Brendan Sobie, mengatakan industri maskapai sebenarnya sudah menghadapi tantangan sebelum konflik terjadi, seperti ketidakpastian ekonomi dan politik serta gangguan rantai pasok.

“Sekarang tingkat ketidakpastian itu semakin tinggi,” ujarnya.

Akibat situasi tersebut, saham sejumlah maskapai Asia anjlok antara 4 hingga lebih dari 10 persen, termasuk Qantas Airways, Air New Zealand, Cathay Pacific, Japan Airlines, dan Korean Air.

Saham maskapai India seperti IndiGo dan SpiceJet juga turun masing-masing 7,5 dan 5,6 persen.

Ketua Association of Asia Pacific Airlines, Subhas Menon, mengatakan kenaikan harga minyak mentah sebesar 20 persen bisa membuat harga bahan bakar jet meningkat lebih tinggi lagi, karena pasokannya lebih terbatas.

Selain biaya bahan bakar, maskapai juga menghadapi tantangan operasional karena banyak ruang udara ditutup. Maskapai harus mengubah rute penerbangan, membawa bahan bakar ekstra, atau melakukan pemberhentian tambahan untuk pengisian bahan bakar.

Share
Topics
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .
Follow Us

Latest in Business

See More