Produksi dan Konsumsi CPO Meningkat, Stok Menurun pada Awal 2026

Produksi CPO dan PKO Indonesia pada Februari 2026 naik 5,04 persen dari bulan sebelumnya.
Konsumsi domestik meningkat 9,55 persen menjadi 2,3 juta ton pada Februari 2026.
Ekspor produk sawit melonjak hingga 33,96 persen secara tahunan dengan nilai US$7,05 miliar.
Jakarta, FORTUNE - Industri kelapa sawit nasional mencatatkan kinerja gemilang pada pembukaan tahun. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan lonjakan signifikan angka produksi, konsumsi domestik, hingga nilai ekspor. Meski demikian, tingginya serapan pasar menyebabkan tingkat persediaan minyak sawit di dalam negeri justru mengalami penyusutan dibandingkan dengan periode sama tahun silam.
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, menyatakan kurva produksi crude palm oil (CPO) terus merangkak naik secara positif. Kenaikan ini menjadi angin segar bagi stabilitas pasokan bahan baku industri nasional.
“Produksi CPO bulan Februari 2026 mencapai 5.015 ribu ton, naik 4,96 persen dari bulan sebelumnya 4,778 ribu ton. Produksi PKO bulan Februari juga naik menjadi 485.000 ton dari 458.000 ton di bulan Januari,” kata Mukti dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/4).
Secara kumulatif, total produksi CPO dan PKO sepanjang Februari 2026 menyentuh 5,5 juta ton.
“Sehingga total produksi CPO+PKO Februari 2026 mencapai 5.500 ribu ton, lebih besar 5,04 persen dari bulan sebelumnya 5,23 juta ton,” ujarnya.
Jika menilik secara tahunan, total produksi 2026 melesat ke level 10,73 juta ton, atau tumbuh 28,94 persen ketimbang periode 2025 yang sebesar 8,32 juta ton.
Di pasar mancanegara, pengapalan produk sawit Indonesia kian menunjukkan taringnya. Nilai ekspor hingga Februari 2026 mencapai US$7,05 miliar. Angka ini membubung 28,88 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu sebesar US$5,47 miliar.
Pencapaian ini ditopang oleh perbaikan harga global yang rata-rata bertengger pada level US$1.306 per ton (CIF Rotterdam).
Volume ekspor pada Februari 2026 mencapai 3,29 juta ton, meningkat dari posisi Januari yang sebesar 3,08 juta ton. Peningkatan serapan terutama datang dari negara mitra utama seperti Cina, Malaysia, Uni Eropa, India, Amerika Serikat, dan Timur Tengah.
Namun, volume pengiriman ke Pakistan, Afrika, Bangladesh, dan Rusia dilaporkan mengalami kontraksi.
Dari sisi konsumsi domestik, pasar dalam negeri menyerap 2,3 juta ton pada Februari 2026, naik 9,55 persen dari bulan sebelumnya. Sektor pangan menjadi motor utama dengan serapan 986.000 ton.
“Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi pangan yang naik menjadi 986.000 ton atau 16,55 persen dari bulan sebelumnya sebesar 846.000 ton,” ujar Mukti.
Sementara itu, konsumsi untuk program biodiesel naik menjadi 1,14 juta ton. Sebaliknya, sektor oleokimia menunjukkan kelesuan dengan penurunan serapan 7,89 persen menjadi 175.000 ton.
Tingginya aktivitas ekspor dan konsumsi dalam negeri ini akhirnya memberi tekanan pada level stok nasional. Persediaan minyak sawit pada akhir Februari 2026 menyusut ke angka 2,02 juta ton. Posisi ini lebih rendah jika dibandingkan stok pada periode yang sama pada 2025 yang sempat mencapai 2,25 juta ton. Â

















