Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Dukung Green Mining, PLN Siap Pasok Listrik Hijau ke Industri Tambang

Dukung Green Mining, PLN Siap Pasok Listrik Hijau ke Industri Tambang
PT PLN (Persero) melakukan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) dan Memorandum of Understanding (MoU) Integrated Business Solution dengan sejumlah perusahaan batu bara untuk mendukung elektrifikasi operasional tambang. (dok. PLN)
Intinya Sih
5W1H
  • PLN menandatangani PJBTL dan MoU dengan sejumlah perusahaan tambang untuk memasok listrik hijau, mendukung elektrifikasi operasional tambang sebagai bagian dari strategi green mining nasional.
  • Elektrifikasi alat berat dinilai mampu menekan emisi dan menghemat biaya operasional hingga Rp2 miliar per unit per tahun, sejalan dengan target Net Zero Emissions Indonesia 2060.
  • Kolaborasi PLN dengan industri tambang memperkuat efisiensi energi, ketahanan nasional, serta membuka peluang pengelolaan aset kelistrikan pascatambang melalui layanan terintegrasi berbasis energi bersih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - PT PLN (Persero) memperkuat perannya dalam mendorong transformasi sektor pertambangan melalui penyediaan listrik berbasis energi yang lebih bersih. Komitmen ini diwujudkan lewat penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) dan Memorandum of Understanding (MoU) Integrated Business Solution dengan sejumlah perusahaan batu bara untuk mendukung elektrifikasi operasional tambang.

Kerja sama tersebut mencakup suplai listrik ke beberapa perusahaan tambang, antara lain PT Trubaindo Coal Mining (30 MVA), PT Sembada Makmur Sejahtera (55 MVA), PT Marga Bara Jaya (35 MVA), PT Maruwai Coal (71 MVA), PT Makmur Sejahtera Wisesa (106 MVA), serta PT Berau Coal (29 MVA). Selain itu, melalui skema Integrated Business Solution, PLN juga menggandeng mitra seperti PT Masmindo Dwi Area, PT Maruwai Coal, dan PT Sembada Makmur Sejahtera dalam pembangunan instalasi hingga desain rekayasa sistem kelistrikan.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi PLN dalam mendukung implementasi green mining, yakni penggunaan energi listrik untuk menggantikan bahan bakar fosil dalam operasional tambang, khususnya pada alat berat.

Koordinator Konservasi Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ari Hendrawanto, menekankan bahwa elektrifikasi alat berat merupakan faktor kunci dalam menekan emisi di sektor pertambangan, sejalan dengan target Net Zero Emissions (NZE) Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.

"Strategi pengurangan emisi dilakukan melalui berbagai pendekatan, seperti pengurangan produksi, substitusi energi ke sumber lain seperti biomassa, serta peningkatan efisiensi dan elektrifikasi. Elektrifikasi alat berat menjadi salah satu solusi utama, mengingat konsumsi energi terbesar berada pada kegiatan pengangkutan dan pemindahan material," ujar Ari dalam Focus Group Discussion Powering The Future of Green Mining di Jakarta, Rabu (15/4).

Ari menambahkan bahwa transisi ini juga menawarkan manfaat ekonomi yang signifikan. Perbandingan antara harga diesel dan tarif listrik menunjukkan potensi penghematan biaya operasional hingga Rp2 miliar per tahun untuk setiap unit alat berat.

Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menilai pengembangan green mining tidak hanya relevan dari sisi lingkungan, tetapi juga strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

"Pengembangan green mining di sektor pertambangan menjadi salah satu solusi strategis untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus memastikan keberlanjutan industri batu bara ke depan," ujar Adi.

Elektrifikasi Operasional Jadi Kunci Efisiensi dan Daya Saing

1000798982.jpg
PT PLN (Persero) melakukan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) dan Memorandum of Understanding (MoU) Integrated Business Solution dengan sejumlah perusahaan batu bara untuk mendukung elektrifikasi operasional tambang. (dok. PLN)

PLN menegaskan kesiapan untuk mendukung kebutuhan energi sektor tambang melalui layanan yang terintegrasi dan disesuaikan dengan karakteristik operasional industri. Forum kolaborasi ini juga dimanfaatkan untuk mengidentifikasi potensi pertumbuhan permintaan listrik di sektor tambang serta merumuskan strategi pengelolaan aset kelistrikan pascatambang.

"Forum ini menjadi momentum untuk mengidentifikasi potensi pertumbuhan demand listrik sektor tambang, menentukan batas optimal layanan PLN, serta merumuskan strategi pengelolaan aset kelistrikan pasca umur tambang," papar Adi.

Dari sisi operasional, Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati, mengungkapkan bahwa konsumsi energi terbesar berada pada tahap pengangkutan hasil tambang.

"Oleh karena itu, pemanfaatan energi bersih berbasis listrik pada proses hauling ini menjadi salah satu langkah konkret untuk bagaimana kita meningkatkan efisiensi operasional sekaligus juga menurunkan emisi," ujar Dini.

Kolaborasi ini turut mendapat respons positif dari pelaku industri. Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Priyadi, menilai sinergi antara PLN dan produsen batu bara dapat menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dalam mendukung transisi energi.

"Nah ini adalah kesempatan yang baik, baik bagi kita produsen batu bara maupun PLN sebagai penyedia strumnya. Supaya ini terjadi simbiosis mutualisme yang paling menguntungkan," imbuh Priyadi.

Dukungan juga datang dari sisi pengguna. PT Borneo Indobara sebagai salah satu pelanggan PLN menyebut elektrifikasi sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus fluktuasi harga energi.

“Elektrifikasi PT Borneo Indobara merupakan langkah strategis menuju pertambangan hijau untuk merespons ancaman perubahan iklim dan tren kenaikan harga bahan bakar. Transisi ini didukung oleh pembangunan infrastruktur kelistrikan secara masif bersama PLN guna mengoperasikan berbagai alat berat listrik serta stasiun pengisian daya bagi 700 unit truk listrik,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi ini, PLN mempertegas posisinya sebagai enabler dalam transisi energi industri, sekaligus membuka peluang efisiensi biaya dan pengurangan emisi dalam skala besar di sektor pertambangan. (WEB)

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ridho Fauzan
EditorRidho Fauzan
Follow Us

Latest in Business

See More