Itama Ranoraya (IRRA) Bidik Perluasan Jaringan Alkes di 2026, Ini Caranya

- PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) menetapkan laba bersih 2025 sebesar Rp65,53 miliar untuk memperkuat modal kerja dan mendukung ekspansi bisnis di sektor alat kesehatan.
- Perusahaan menyiapkan tiga strategi utama: perluasan jaringan distribusi, penguatan portofolio produk lewat kemitraan baru, serta fokus pada penjualan Alat Kesehatan Dalam Negeri dan teknologi medis inovatif.
- Kinerja keuangan IRRA tumbuh solid dengan penjualan Rp1,1 triliun naik 12,55%, laba bersih meningkat 23,03%, serta relokasi kantor pusat ke ITS Tower Jakarta Selatan demi efisiensi operasional.
Jakarta, FORTUNE - PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan pada Jumat (5/6). Dalam rapat ini ditetapkan penggunaan laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp65,53 miliar untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi bisnis.
Dari jumlah tersebut, Rp64,53 miliar ditetapkan sebagai laba ditahan yang akan sepenuhnya digunakan sebagai modal kerja perseroan sedangkan Rp1 miliar sisanya dialokasikan sebagai dana cadangan.
Direktur Utama PT Itama Ranoraya Tbk, Heru Firdausi Syarif mengatakan, modal kerja tahun ini akan digunakan untuk memperkuat ekspansi di bidang kesehatan melalui tiga strategi utama.
Pertama, pada aspek opersasional. IRRA akan fokus peningkatan kapasitas penjualan melalui perluasan jaringan distribusi di berbagai daerah. Kedua, strategi penguatan portfolio produk yang dilakukan melalui perluasan kerja sama dengan pihak swasta maupun lembaga pemerintah, hingga membangun kemitraan dengan prinsipal baru.
Ketiga, melalui pendekatan komersial, di mana perseroan memfokuskan bisnis pada penjualan produk Alat Kesehatan Dalam Negeri (AKD) milik grup perusahaan sebagai langkah substitusi impor, pengembangan teknologi medis seperti minimally invasive surgery, serta berpartisipasi dalam program kesehatan nasional.
"Dana modal kerja ini dipersiapkan untuk memperkuat likuiditas operasional, membiayai rencana pengembangan bisnis strategis, serta mendukung kegiatan ekspansi perseroan di tahun-tahun mendatang," ujarnya dalam siaran pers, Senin (8/6).
Pada tahun lalu, IRRA membukukan penjualan bersih tercatat mencapai Rp1,1 triliun, meningkat 12,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan pendapatan tersebut ditopang oleh efisiensi operasional dan optimalisasi rantai pasok yang dijalankan secara konsisten. Hasilnya, laba bersih perseroan tumbuh 23,03 persen secara tahunan menjadi Rp65,53 miliar dari Rp53,3 miliar pada tahun sebelumnya.
Perbaikan profitabilitas juga tercermin dari kenaikan net profit margin menjadi 5,96 persen. Pada saat yang sama, posisi keuangan perseroan semakin kuat dengan total aset yang mencapai Rp2,43 triliun.
Dari sisi kontribusi bisnis, segmen Diagnostik In Vitro menjadi kontributor terbesar dengan penjualan mencapai Rp693,48 miliar. Kemudian disusul segmen Alat Kesehatan Elektromedik Steril yang menyumbang Rp347,94 miliar.
Sementara itu, segmen alat kesehatan non-elektromedik sebesar Rp52,88 miliar, dan produk kesehatan penunjang lainnya berkontribusi Rp5,91 miliar.
Sejak awal 2026 permintaan terhadap alat kesehatan steril dan alat deteksi penyakit masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung optimisme perseroan dalam mencapai target bisnis tahun berjalan.
"Kondisi industri saat ini menuntut kami untuk bergerak lebih cepat. Melalui strategi ini, manajemen ingin memastikan perseroan tidak hanya responsif terhadap peluang baru, tetapi juga memiliki pondasi operasional yang siap menghadapi kebutuhan di lapangan," ujarnya.
Selain menyetujui penggunaan laba bersih, RUPST juga mengesahkan perpindahan alamat kantor pusat perseroan. Relokasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih dinamis dan selaras dengan kebutuhan pengembangan bisnis.

















