Cove: Minat Konversi Aset ke Co-living Naik 40% di Tengah Lesu Properti
- Minat pemilik aset untuk mengonversi properti menjadi co-living naik 40% YoY, di tengah penurunan penjualan rumah dan tekanan biaya pembangunan sektor properti nasional.
- Sekitar 70% permintaan konsultasi pembangunan co-living berasal dari pemilik aset perorangan yang ingin mengoptimalkan lahan kosong atau ruko agar lebih produktif dan menghasilkan pendapatan stabil.
- Jakarta mencatat permintaan konversi aset tertinggi, terutama di kawasan Cipete dan Setiabudi, dengan tingkat hunian proyek co-living seperti Cove Dra House tetap di atas 80% meski pasar properti melambat.
Jakarta, FORTUNE – Perlambatan industri properti di Indonesia ternyata tidak sepenuhnya menekan seluruh segmen bisnis. Di tengah penurunan penjualan rumah dan meningkatnya tekanan biaya pembangunan, model hunian co-living justru menunjukkan tren yang berlawanan. Penyedia hunian modern, Cove, mencatat minat pemilik aset untuk mengonversi propertinya menjadi co-living meningkat 40 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), menandakan segmen ini masih dipandang menarik sebagai instrumen investasi.
Tekanan terhadap sektor properti dipicu ketidakpastian makroekonomi, mulai dari fluktuasi nilai tukar rupiah hingga dinamika geopolitik global yang mendorong kenaikan harga bahan baku. Di saat yang sama, daya beli masyarakat juga melemah. Data Bank Indonesia menunjukkan penjualan rumah pada kuartal I 2026 turun 25,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, Cove melihat kondisi tersebut justru memunculkan minat baru dari pemilik aset yang ingin mengoptimalkan properti mereka melalui model co-living.
"Cove meluncurkan layanan konsultasi pembangunan co-living setelah melihat banyaknya pemilik aset yang tertarik dengan ketangguhan lini bisnis ini, namun belum berpengalaman untuk memulai. Mereka tahu bahwa hunian tetap menjadi kebutuhan primer, dan fleksibilitas komitmen finansial yang ditawarkan co-living sangat relevan dengan daya beli masyarakat saat ini," ujar Rizky Kusumo, Country Director of Investment Cove, dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7).
Ia menambahkan, bahkan di tengah kondisi industri yang cukup pesimis, Cove justru mencatatkan penambahan hampir 1.000 kamar co-living di Indonesia pada semester I 2026, dengan rata-rata occupancy rate sebesar 85 persen.
Pemilik aset perorangan mendominasi
Kenaikan minat investasi co-living tidak hanya datang dari perusahaan besar. Cove mencatat sekitar 70 persen permintaan konsultasi pembangunan co-living berasal dari pemilik aset perorangan, terutama mereka yang memiliki tanah kosong yang sebelumnya hanya disimpan sebagai aset keluarga.
Fenomena tersebut menunjukkan semakin banyak individu yang memilih mengaktifkan aset menganggur agar menghasilkan pendapatan dibandingkan mempertahankannya tanpa produktivitas atau menjualnya.
Selain pemilik lahan kosong, permintaan juga datang dari pemilik ruko yang sudah tidak lagi memberikan imbal hasil optimal. Mereka melihat konversi menjadi co-living sebagai alternatif investasi yang menawarkan arus kas lebih stabil dibandingkan bisnis komersial lain yang lebih rentan terhadap perubahan tren maupun musim.
Menurut Cove, pembangunan co-living dapat dimulai di atas lahan sekitar 200 meter persegi. Namun, sebagian besar calon investor berkonsultasi mengenai pengembangan lahan seluas 800–1.000 meter persegi agar dapat dilengkapi fasilitas tambahan maupun area parkir yang lebih luas. Tidak sedikit pula pemilik lahan berukuran lebih dari 1.500 meter persegi yang ingin mengembangkan konsep mixed-use, yakni menggabungkan co-living dengan jenis usaha lain dalam satu kawasan. Model tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi masing-masing bisnis.
Dari sisi operasional, mayoritas investor memilih konsep hybrid, yaitu menggabungkan penyewaan kamar harian dan bulanan. Skema ini dianggap lebih tangguh dibandingkan rumah kos konvensional karena mampu menyasar dua segmen pasar sekaligus, yakni wisatawan maupun penyewa jangka panjang.
Jakarta jadi magnet investasi
Di antara berbagai kota yang dilayani Cove, Jakarta dan Surabaya menjadi wilayah dengan permintaan konsultasi konversi aset tertinggi. Namun, Jakarta masih mendominasi dengan jumlah permintaan sekitar 200 persen lebih tinggi dibandingkan Surabaya.
Tingginya minat di ibu kota ditopang kebutuhan pekerja Jabodetabek yang ingin tinggal lebih dekat dengan lokasi kerja sehingga dapat memangkas waktu perjalanan harian. Sementara itu, Surabaya menjadi pasar potensial karena menjadi tujuan pekerja sekaligus mahasiswa dari berbagai daerah.
Di Jakarta sendiri, kawasan Cipete dan Setiabudi menjadi dua lokasi yang paling banyak dilirik investor. Dalam setahun terakhir, kedua wilayah tersebut mencatat penambahan sekitar 200–300 kamar kos dan co-living dengan tingkat okupansi yang tetap terjaga meski industri properti sedang melambat.
Salah satu proyek yang lahir melalui layanan konsultasi Cove adalah Cove Dra House di Menteng. Properti yang dibangun di atas lahan kosong dan selesai pada 2025 itu hingga kini mampu mempertahankan tingkat hunian di atas 80 persen.
Melihat tren tersebut, Cove menilai co-living masih memiliki prospek pertumbuhan yang kuat. Selain menjawab kebutuhan hunian masyarakat urban, model bisnis ini juga dinilai mampu menjadi solusi bagi pemilik aset yang ingin mengoptimalkan lahan atau bangunan tidak produktif di tengah kondisi pasar properti yang masih penuh tantangan.





















