United Tractors Bidik Tambang Emas Doup Berproduksi Mulai 2029

- United Tractors menargetkan tambang emas Doup milik Arafura Surya Alam mulai berproduksi dan menjual emas pada 2029, setelah diakuisisi pada Februari 2026.
- Pada 2026-2028, UNTR fokus menyelesaikan perizinan, studi kelayakan, amdal, pembangunan fasilitas pengolahan, desain teknis, serta pembebasan lahan bertahap di area konsesi.
- Hingga Juli 2026, penjualan setara emas UNTR turun 78% menjadi 32.000 ons; laba bersih semester I turun 48% menjadi Rp4,3 triliun dan pendapatan turun 15% menjadi Rp58 triliun.
Jakarta, FORTUNE - PT United Tractors Tbk (UNTR) memproyeksikan tambang emas Arafura Surya Alam (ASA) atau Doup mulai berproduksi dan menjual emas pada 2029.
Presiden Direktur United Tractors, Iwan Hadiantoro mengatakan tambang tersebut diakuisisi pada Februari 2026 ini, sehingga masih terdapat sejumlah tahapan sebelum dapat berproduksi.
"Fokus kami pada 2026 sampai dengan 2028 menyelesaikan pembangunan infrastruktur processing plan di ASA ini," kata Iwan dalam paparan kinerja online, Senin (7/9).
Perseroan hingga kini masih menyelesaikan sejumlah perizinan, termasuk studi kelayakan dan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Proses tersebut diharapkan rampung tahun ini.
Setelahnya, NTR akan melanjutkan desain teknis fasilitas pengolahan yang akan dibangun di ASA dilanjutkan dengan pembebasan lahan secara bertahap di area konsesi yang akan menjadi lokasi kegiatan penambangan.
"Prosesnya sedang berlangsung. Kami harapkan tambangnya bisa mulai berproduksi, menghasilkan dan menjual emas di tahun 2029 nanti," ujarnya.
UNTR mengakuisisi ASA melalui anak usahanya yakni PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energi Prima Nusantara. Pengembangan tambang tersebut ditargetkan menambah eksposur di sektor mineral sekaligus memperluas bisnis di luar batubara termal
Sementara itu, penjualan setara emas dari anak usaha UNTR, PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya, mencapai 32.000 ons hingga Juli 2026. Realisasi tersebut turun 78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, salah satunya akibat penghentian sementara operasional tambang emas Martabe.
Dari sisi kinerja keuangan, laba bersih UNTR tidak termasuk pos non-recurring tercatat anjlok 48 persen menjadi Rp4,3 triliun per semester I 2026. Sementara itu pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp58,0 triliun atau turun 15 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025.


















