Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Dari Modal Dengkul ke 40 Gerai, PetShop Indonesia Bidik Pet Mall

Dari Modal Dengkul ke 40 Gerai, PetShop Indonesia Bidik Pet Mall
Rizkitha Aswinda Putri, Founder dan CEO PetShop Indonesia/Dok. PetShop Indonesia
  • Industri pet care Indonesia diproyeksikan terus tumbuh, meski estimasi nilai pasar dan laju pertumbuhannya berbeda-beda, terutama terkait penetrasi di luar kota besar.
  • PetShop Indonesia dirintis Rizkitha Aswinda Putri pada 2011 dari garasi rumah tanpa investor atau pinjaman, lalu berkembang melalui penjualan online, pengelolaan laba, dan layanan offline.
  • Kini memiliki 40 gerai dan pertumbuhan tahunan sekitar 30 persen, PetShop Indonesia mengandalkan jasa serta membidik investor untuk membangun pet mall dan memperluas ekosistem pet care.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Proyeksi pertumbuhan industri pet care di Indonesia menunjukkan tren yang menjanjikan. Vyansa Intelligence memproyeksikan nilai pasar pet care Indonesia mencapai US$605 juta pada 2025 dan meningkat menjadi US$700 juta pada 2030, dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 2,46 persen. Sementara itu, Business Software Help memperkirakan pasar yang jauh lebih besar, yakni US$2,5 miliar pada 2025 dan tumbuh menjadi US$4,45 miliar pada 2032 dengan CAGR 8,59 persen.

Proyeksi paling optimistis datang dari Jakarta Pet Expo bersama tim riset yang menganalisis ekonomi pet parent di Indonesia. Mereka memperkirakan pasar pet care tumbuh dengan CAGR 9,5 persen, dari US$2,2984 miliar pada 2023 menjadi lebih dari US$5,8832 miliar pada 2033. Perbedaan proyeksi tersebut mencerminkan optimisme terhadap prospek industri sekaligus ketidakpastian mengenai seberapa cepat penetrasi pasar pet care akan berkembang di Indonesia, terutama di luar kota-kota besar.

Salah satu pelaku yang telah membidik peluang tersebut sejak awal adalah PetShop Indonesia. Fortune Indonesia berkesempatan berbincang dengan Rizkitha Aswinda Putri, Founder dan CEO PetShop Indonesia, pada akhir Juli 2026.

Berbekal latar belakang pendidikan teknik jaringan multimedia serta pengalaman di bidang manajemen produksi dan e-commerce, ia mantap membangun perusahaan dengan pendekatan yang berorientasi pada inovasi dan pertumbuhan berkelanjutan. Sebelum mendirikan PetShop Indonesia, ia berkarier di Lazada Indonesia sebagai Lead of Production untuk kategori mainan dan bayi. Pengalaman tersebut membentuk kemampuannya dalam mengelola rantai produksi, menyusun strategi produk, serta memahami dinamika bisnis digital yang bergerak cepat. Nilai-nilai seperti kerja keras, inovasi, dan perhatian terhadap detail pun terus ia pegang dalam memimpin perusahaan.

Ide mendirikan PetShop Indonesia bukan berawal dari analisis pasar, melainkan dari pengalaman pribadinya sebagai pemilik hewan peliharaan. Pada akhir 2011, ia merasakan akses terhadap kebutuhan hewan peliharaan masih sangat terbatas. Jumlah pet shop belum banyak dan pilihan produknya pun belum lengkap. Bahkan, untuk mendapatkan perlengkapan tertentu, ia harus mencarinya hingga ke Bandung.

Di saat yang sama, pengalamannya bekerja di industri e-commerce membuat Rizkitha melihat peluang menghadirkan pet shop berbasis digital yang dapat menjangkau pelanggan di seluruh Indonesia. Ia membayangkan sebuah platform yang menjadi one stop solution, menyediakan seluruh kebutuhan hewan peliharaan dalam satu tempat, mulai dari makanan, obat-obatan, perlengkapan grooming, pakaian, hingga berbagai aksesori.

Berangkat dari kebutuhan pribadi itulah lahir PetShopIndonesia.com Saat itu, marketplace belum berkembang seperti sekarang sehingga platform tersebut mampu menjangkau pelanggan dari berbagai daerah yang kesulitan memperoleh kebutuhan hewan peliharaan. Rizkitha pun mulai merintis bisnis tersebut dengan membangun situs web yang dibantu seorang teman. Sementara itu, seluruh operasional usaha, mulai dari mencari pemasok, mengelola produk, hingga menjalankan bisnis sehari-hari, ia tangani sendiri. Persiapan dimulai pada akhir 2011, tetapi ia baru benar-benar fokus menjalankan usaha pada 2012 dengan membuka mini petshop di garasi rumah di Jalan Kalimantan, Beji, Depok.

“Bisnis ini mulai berjalan pada akhir 2011 dan tumbuh secara organik, tanpa investor maupun pinjaman bank. Modal awalnya pun nyaris tanpa uang tunai. Saya saat itu masih reseller,” ujarnya, kepada Fortune Indonesia, medio Juli 2026.

“Dari nol lah kalau bisa dibilang modal dengkul,” katanya, menambahkan.
Barang dagangan diperoleh dengan sistem tempo dari toko atau pemasok, kemudian dibayar setelah produk terjual. Dari margin penjualan yang terkumpul, sedikit demi sedikit stok mulai bisa disimpan sendiri.

Seiring waktu, penghasilan bulanan mulai terbentuk. Ruang usaha yang semula sederhana ikut menjadi bagian dari modal untuk memperbesar bisnis. Keuntungan yang diperoleh tidak ditarik seluruhnya, melainkan kembali diputar untuk menambah stok dan memperluas usaha.

“Jadi memang kita murninya gulung profit aja,” katanya.

Keputusan untuk meninggalkan pekerjaannya diambil setelah melihat potensi bisnis yang terus berkembang. Setelah PetShopIndonesia.com diluncurkan, pesanan berdatangan dari berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali. Respons pasar yang positif semakin menguatkan keyakinannya bahwa industri pet care memiliki prospek jangka panjang karena kebutuhan masyarakat untuk memelihara hewan akan selalu ada.

Seiring meningkatnya jumlah pesanan dan stok barang, garasi rumah tidak lagi mencukupi. Ia kemudian memberanikan diri menyewa sebuah ruko kecil di Jalan Bungur Raya, Kukusan, Depok, sebagai toko offline pertama PetShop Indonesia. Keputusan tersebut sempat membuatnya khawatir karena harus menanggung biaya sewa. Namun, setelah melihat pendapatan dari penjualan online yang mulai stabil, ia bersama suaminya mantap mengambil langkah tersebut. Saat itu, penjualan telah mencapai sekitar 50 hingga 200 paket per hari dengan dukungan seorang karyawan.

 

  1. Ekspansi dan investasi

    Foto Pet Hotel.jpeg
    Dok. Petshop Indonesia

    Kehadiran toko juga menjadi titik awal diversifikasi bisnis. PetShop Indonesia mulai menghadirkan layanan grooming—yang pada masa-masa awal bahkan ditangani langsung oleh Rizkitha. Seiring pertumbuhan bisnis, perusahaan terus memperluas layanannya hingga mencakup klinik hewan, pet hotel, dan lini bisnis lainnya.

    Membesarnya jaringan Petshop Indonesia membawa konsekuensi lain: menjaga kualitas layanan agar tetap konsisten di setiap gerai. Semakin banyak cabang berarti semakin banyak pula karyawan, pelanggan, dan hewan yang harus ditangani dengan standar yang sama.

    Bagi bisnis yang bergerak di jasa perawatan dan penitipan hewan, tantangan itu tidak sederhana. Pemilik hewan memiliki ekspektasi tinggi terhadap perlakuan yang diterima peliharaannya. Bahkan, dalam periode ramai seperti Lebaran, permintaan pelanggan bisa sangat spesifik. Ada yang meminta hewan peliharaannya hanya diberi merek air tertentu, hingga meminta video call setiap beberapa menit.

    Situasi semacam itu menjadi pengingat bahwa hewan peliharaan kini diperlakukan layaknya bagian dari keluarga. Bagi Petshop Indonesia, ekspektasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi standar pelayanan yang harus terus dievaluasi.

    “Setiap pemilik usaha yang terutama berkecimpung di jasa itu nggak mungkin ya, nggak pernah ada yang memiliki komplain. Cuman gimana caranya kita bisa mengandalkan komplain itu dengan baik,” ujarnya.

    Keluhan pelanggan menjadi bahan untuk mengevaluasi SOP dan kinerja karyawan. Perusahaan pun membangun training center serta memperkuat sistem agar standar layanan tidak bergantung pada masing-masing cabang.

    “Jadi kita berinvestasi pada sistem dan SDM supaya gimana caranya pelayanan kita itu di setiap cabangnya bisa sama,” katanya.

    Saat ini, jaringan Petshop Indonesia mencapai 40 gerai. Sebanyak 30 gerai dikelola sendiri, sedangkan 10 lainnya menggunakan skema waralaba. Seluruh gerai masih menempati lahan sewa. Namun, model waralaba tetap memungkinkan mitra yang sudah memiliki ruko atau lahan untuk bergabung, selama lokasi memenuhi standar perusahaan.

    Setiap calon lokasi terlebih dahulu melalui proses survei dan penilaian. Lokasi tidak sekadar dipilih berdasarkan ketersediaan tempat, tetapi dinilai berdasarkan skor tertentu untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar Petshop Indonesia.

    Dari sisi pendapatan, kinerja setiap gerai tidak seragam. Namun secara keseluruhan, jasa menjadi kontributor terbesar, diikuti aksesori dan produk non-food. Layanan jasa mencakup grooming dan hotel hewan, meski kontribusi hotel bersifat musiman.

    Komposisi tersebut membuat bisnis Petshop Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan produk ritel. Unsur jasa menjadi salah satu penopang utama kinerja sekaligus pembeda dibanding bisnis ritel yang hanya mengandalkan penjualan barang.

    Secara nasional, Petshop Indonesia masih membukukan pertumbuhan sekitar 30 persen secara year-on-year, meski pertumbuhan tersebut terjadi tanpa penambahan jumlah cabang. Performa masing-masing gerai tetap berbeda; sebagian tumbuh, sementara lainnya stagnan atau mengalami penurunan.

    Model bisnis yang memadukan produk dan jasa juga ikut menopang margin. Gross margin secara mix berada di kisaran 30–35 persen, meski margin bersih setiap gerai berbeda karena kebutuhan operasional masing-masing lokasi tidak sama.

    “Yang lebih berpengaruh kita tuh jasa. Kalau jasanya agak turun sedikit, itu udah mempengaruhi banget,” ujarnya.

    Di tengah pertumbuhan tersebut, Petshop Indonesia mulai membuka pintu bagi investor. Namun, tambahan modal tidak semata-mata dipandang sebagai cara memperbanyak jumlah cabang. Ada ambisi yang lebih besar untuk membangun ekosistem bisnis hewan peliharaan.

    Perusahaan membidik konsep pet mall yang dapat menjadi pusat berbagai kebutuhan hewan peliharaan. Kehadiran investor diharapkan dapat membantu merealisasikan visi tersebut sekaligus memperluas jangkauan Petshop Indonesia di pasar domestik.

    “Mudah-mudahan kalau ada investor yang masuk ya. Pengen punya pet mall di Indonesia,” katanya.

    Meski ekspansi menjadi bagian dari agenda berikutnya, jumlah cabang bukanlah target utama. Petshop Indonesia ingin pertumbuhan berjalan beriringan dengan kualitas layanan. Prinsipnya, semakin luas jaringan, semakin besar pula tuntutan untuk menjaga pengalaman pelanggan tetap konsisten.

    Target akhirnya adalah menjangkau lebih banyak pet owner, menghadirkan produk dan layanan yang lebih lengkap, serta memperluas edukasi mengenai perawatan hewan. Di saat yang sama, perusahaan juga tengah mengembangkan bisnis kurir hewan sebagai bagian dari langkah berikutnya dalam memperluas ekosistem.

    Dengan begitu, ekspansi bagi Petshop Indonesia bukan sekadar soal menambah titik penjualan. Tantangannya justru bagaimana memperbesar bisnis tanpa kehilangan standar layanan yang menjadi fondasinya, serta bagaimana investasi nantinya dapat mempercepat langkah menuju ekosistem pet care yang lebih luas.

     

Share Article
Editorial Team

Latest in Business

See More