Pabrik BYD di Subang Diresmikan, Investasi Rp11,7 Triliun

BYD resmi mengoperasikan pabrik kendaraan energi baru di Subang dengan investasi Rp11,7 triliun, luas 126 hektare, dan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun.
Fasilitas ini menjalankan seluruh tahapan produksi serta mempekerjakan 5.000 tenaga kerja lokal yang diproyeksikan melebihi 20.000.
Pemerintah mendorong pemasok lokal, rantai pasok domestik, serta kenaikan target TKDN hingga 80 persen pada 2030.
Jakarta, FORTUNE — PT BYD Motor Indonesia resmi mengoperasikan pabrik kendaraan energi baru di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat, Kamis (3/9). Pabrik ini menjadi basis manufaktur BYD setelah sebelumnya penjualan kendaraan di Indonesia mengandalkan unit impor utuh atau Completely Built Up (CBU).
Pabrik BYD dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp11,7 triliun di atas lahan 126 hektare. apasitas produksinya mencapai 150.000 unit per tahun dengan proses manufaktur meliputi stamping, welding, painting, dan assembly.
Table of Content
Pabrik BYD Subang serap 5.000 pekerja
Fasilitas produksi BYD di Subang telah mempekerjakan sekitar 5.000 tenaga kerja lokal. Jumlah tersebut diproyeksikan bertambah hingga lebih dari 20.000 orang ketika pabrik beroperasi dengan kapasitas maksimal.
Vice President BYD Co Ltd sekaligus General Manager BYD Asia Pacific Auto Sales Division Liu Xueliang mengatakan fasilitas itu merupakan bagian dari perjalanan BYD membangun basis produksi kendaraan energi baru di Indonesia.
"Hari ini sangat penting, peresmian pabrik BYD di Indonesia. Ini tidak hanya penting bagi kami, tapi juga pemerintah Indonesia karena mendukung transformasi kendaraan," ujar Liu dalam sambutannya di Subang, Kamis (3/9).
Pabrik BYD tidak hanya ditujukan untuk produksi kendaraan listrik berbasis baterai. Fasilitas BYD direncanakan untuk memproduksi kendaraan dengan teknologi Dual Mode (DM) yang mengombinasikan tenaga listrik dan bensin.
Produksi mencakup empat tahapan utama
BYD mengintegrasikan proses utama manufaktur kendaraan di fasilitas Subang. Mulai dari pembentukan komponen melalui stamping, penyambungan atau welding, pengecatan, hingga perakitan akhir dilakukan di Indonesia.
"100 persen proses produksi mobil sudah dipindah ke Indonesia, dari stamping, welding, painting, dan assembly," tutur Liu.
Model yang pertama diproduksi di fasilitas tersebut adalah BYD M6 DM. Kendaraan itu telah memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 40 persen.
Sebelum pabrik beroperasi, BYD telah memasarkan sejumlah kendaraan listrik di Indonesia melalui impor utuh. Produk yang dijual di dalam negeri antara lain Seal, M6, Dolphin, Atto 3, Sealion 7, dan Atto 1.
Baca Juga: 10 Mobil Terlaris di Indonesia Juli 2026, BYD Atto 1 Curi Perhatian
BYD bidik penjualan 200.000 unit
Pengoperasian fasilitas produksi lokal berlangsung ketika penjualan BYD di Indonesia terus bertambah. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan BYD sepanjang 2024 hingga semester I 2026 telah mendekati 94.000 unit.
Liu menyebut total penjualan BYD di Indonesia kini sudah mendekati 100.000 unit. Perusahaan kemudian memasang target penjualan 200.000 unit pada tahun depan.
"Jumlah penjualan BYD di Indonesia sudah hampir 100.000 unit. Kami punya target di tahun depan menjadi 200.000 unit," ujarnya.
Kapasitas produksi 150.000 unit per tahun menjadi salah satu fasilitas yang disiapkan BYD untuk mendukung kegiatan manufaktur di Indonesia. Perusahaan juga menyatakan komitmen untuk mengembangkan kendaraan energi baru di pasar domestik.
Pemerintah dorong rantai pasok lokal
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai Jawa Barat memiliki basis industri yang mendukung pengembangan manufaktur kendaraan listrik. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,73 persen dan menyumbang 12,88 persen terhadap produk domestik bruto nasional.
Dari sisi industri, Jawa Barat berkontribusi 27,32 persen terhadap industri pengolahan nasional. Nilai tambah industri pengolahan di provinsi tersebut mencapai Rp331,16 triliun.
Pemerintah mendorong investasi BYD tidak hanya berfokus pada produksi kendaraan, tetapi juga melibatkan industri pendukung di dalam negeri. Pengembangan pemasok komponen menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut.
"Bagi kami pemerintah, keberhasilan di pasar domestik harus juga berjalan beriringan dengan penguatan basis manufaktur di dalam negeri," ujar Agus.
Dorongan tersebut sejalan dengan peta jalan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) yang menetapkan peningkatan minimum TKDN secara bertahap. Target TKDN ditetapkan sebesar 40 persen pada 2026, 60 persen pada 2027–2029, dan 80 persen mulai 2030.
Selain komponen kendaraan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mendorong BYD bekerja sama dengan perusahaan Indonesia dan mengembangkan industri baterai beserta fasilitas daur ulangnya.
FAQ seputar peresmian pabrik BYD
Di mana pabrik BYD di Indonesia berada? Pabrik BYD berada di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat.
Berapa kapasitas produksi pabrik BYD Subang? Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun.
Berapa tenaga kerja yang sudah diserap pabrik BYD? Pabrik telah menyerap sekitar 5.000 pekerja lokal dan berpotensi mencapai lebih dari 20.000 orang.
Apa model pertama yang diproduksi di pabrik Subang? Model pertama yang diproduksi adalah BYD M6 DM dengan TKDN lebih dari 40 persen.




















