Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Logistik Terganggu Akibat Letusan Gunung Anak Krakatau

Logistik Terganggu Akibat Letusan Gunung Anak Krakatau
Gunung Krakatau Meletus, sumber by andersen_oystein from Getty Images Signature
  • Sebaran abu vulkanik Gunungapi Anak Krakatau mengganggu penerbangan dan jalur pengiriman kargo melalui Bandara Soekarno-Hatta.
  • SCI memperkirakan arus ekspor-impor hingga US$168 juta dapat tertunda bila gangguan penerbangan berlangsung 48 jam.
  • Pemerintah masih memantau dampak ekonomi, sementara nilai tertunda tersebut bukan kerugian langsung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Aktivitas logistik mulai terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Gangguan terutama terjadi pada sektor penerbangan yang turut menjadi jalur penting pengiriman kargo, sehingga berpotensi menahan arus ekspor-impor melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengakui aktivitas masyarakat di wilayah terdampak erupsi mulai mengalami penurunan. Pemerintah masih memantau dampak gangguan tersebut terhadap berbagai program dan aktivitas ekonomi di sejumlah provinsi.

"Di daerah yang terdampak pasti terjadi kontraksi. Kami masih pantau program-program apa yang terkena dan di berbagai provinsi tersebut," kata Airlangga dalam acara konferensi pers usai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto yang disiarkan secara virtual, Senin (7/9).

Menurut dia, pemerintah tengah memantau dampak erupsi sejumlah gunung api di Indonesia terhadap aktivitas perekonomian. Salah satu sektor yang mulai terdampak adalah penerbangan.

"Logistik sudah pasti. Di sektor penerbangan sudah terjadi gangguan, karena sektor penerbangan juga ada kaitannya dengan kargo," ujarnya.

Airlangga mengatakan pemerintah masih menghitung dampak gangguan tersebut, termasuk berapa lama pengoperasian penerbangan harus ditutup atau dibatasi.

Gangguan penerbangan di Bandara Soetta akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berpotensi menunda arus perdagangan ekspor-impor bernilai hingga sekitar US$168 juta jika gangguan berlangsung selama 48 jam.

Perkiraan tersebut disampaikan Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi. Nilai yang berpotensi tertunda terdiri atas ekspor senilai US$54,23 juta dan impor US$113,83 juta, termasuk sekitar 960 ton barang impor.

Namun, Setijadi menegaskan angka tersebut bukan merupakan nilai kerugian langsung, melainkan estimasi nilai arus perdagangan yang berpotensi mengalami penundaan akibat terganggunya operasionalisasi penerbangan.

SCI menghitung estimasi tersebut khusus untuk perdagangan internasional melalui Bandara Soetta. Nilai ekspor menggunakan basis Free on Board (FOB), sementara impor menggunakan basis Cost, Insurance and Freight (CIF).

Besarnya kerugian aktual nantinya akan sangat bergantung pada kondisi di lapangan. Faktor tersebut, antara lain, pembatalan penerbangan, pengalihan kargo ke bandara lain, karakteristik komoditas yang dikirim, hingga seberapa cepat operasionalisasi Bandara Soetta kembali normal.

SCI juga membuat simulasi jika gangguan penerbangan berlangsung selama delapan jam. Dalam skenario tersebut, arus ekspor-impor senilai sekitar US$28 juta berpotensi tertunda.

Perinciannya terdiri dari ekspor sekitar US$9,04 juta dan impor US$18,97 juta, termasuk hampir 160 ton barang impor.

Artinya, makin lama gangguan berlangsung, makin besar pula potensi nilai perdagangan yang tertahan. Penutupan ruang udara, pembatalan maupun pengalihan penerbangan, perubahan jadwal, hingga penumpukan kargo dapat merembet ke aktivitas produksi dan perdagangan.

Dampak paling besar berpotensi dirasakan perusahaan yang mengandalkan Bandara Soetta sebagai salah satu pintu utama pengiriman barang bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai ekspor nonmigas melalui Soetta pada 2025 mencapai US$9,90 miliar, sementara nilai impor mencapai US$20,77 miliar.

Dengan demikian, total arus perdagangan melalui Bandara Soetta mencapai sekitar US$30,67 miliar per tahun, atau rata-rata US$84,03 juta per hari.

Dari sisi volume, impor melalui bandara tersebut mencapai 174,9 ribu ton per tahun atau sekitar 479 ton per hari. Angka tersebut mengacu pada data BPS dan Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, dengan data ekspor 2025 berstatus revisi.

Karena itu, Setijadi meminta pemerintah menyusun protokol logistik kebencanaan lintas-instansi agar gangguan penerbangan akibat erupsi tidak berkembang menjadi gangguan rantai pasok dan produksi lebih luas.

Dalam jangka panjang, menurut dia, perusahaan juga perlu membangun rencana kontinuitas bisnis berdasarkan beberapa skenario durasi gangguan. Ini termasuk menetapkan bandara dan moda alternatif, serta memiliki kontrak kapasitas cadangan dengan penyedia jasa logistik.

"Importir perlu menyesuaikan persediaan pengaman untuk bahan baku kritis, sedangkan eksportir perlu menyiapkan gudang dan fasilitas rantai dingin alternatif," ujar dia.

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in Business

    See More