Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

ExxonMobil Ungkap Permintaan Pelumas Terkontraksi Akibat Pemangkasan RKAB

ExxonMobil Ungkap Permintaan Pelumas Terkontraksi Akibat Pemangkasan RKAB
ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI) kembali hadir dalam helatan Mining Indonesia 2026 yang diselenggarakan pada 09–12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran, Jakarta. (Eko Wahyudi/Fortune Indonesia)
  • Permintaan pelumas industri ExxonMobil pada 2026 tertekan karena kontraksi aktivitas pertambangan batu bara dan nikel.
  • Pertambangan tetap menjadi kontributor terbesar bisnis pelumas industri, diikuti sektor manufaktur.
  • ExxonMobil mengandalkan diversifikasi pengguna, layanan teknis, dan produksi lokal di Cilegon untuk menjaga operasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - PT ExxonMobil Lubricants Indonesia mengungkapkan permintaan pelumas dari sektor industri mengalami tekanan pada 2026, terutama akibat kontraksi pada aktivitas pertambangan menyusul penataan dan pemangkasan target produksi batu bara dan nikel.

Presiden Direktur PT ExxonMobil Lubricants Indonesia, Syah Reza, mengatakan secara umum tren kebutuhan pelumas masih meningkat. Namun, kontraksi pada sejumlah sektor membuat permintaan tidak tumbuh merata, terutama dari industri pertambangan.

“Pasti berpengaruh juga terhadap permintaan kebutuhan terhadap pelumasnya,” kata Syah Reza saat bincang media di Jakarta, Rabu (9/9)

Dia mengatakan kondisi tersebut terutama terasa pada semester I-2026. Kontraksi aktivitas pertambangan turut dipengaruhi kebijakan pemerintah menata produksi batu bara dan nikel guna menjaga keseimbangan pasokan, stabilitas harga, serta keberlanjutan cadangan komoditas.

Meski permintaan dari pertambangan tertekan, ExxonMobil tetap melihat sektor tersebut sebagai kontributor terbesar bagi bisnis pelumas industri. Selain pertambangan, perseroan mengandalkan sektor manufaktur yang membutuhkan pelumas untuk berbagai mesin produksi, seperti mesin hidrolik, gearbox, kompresor, hingga sistem circulation oil di pabrik kertas dan industri plastik.

“Kalau untuk industri, pelumas industri yang paling besar adalah dari sektor pertambangan dan manufaktur. Yang pertama adalah pertambangan,” kata Syah.

Selain dua sektor tersebut, ExxonMobil Lubricants Indonesia memasok pelumas untuk kendaraan roda dua dan roda empat, armada transportasi, hingga pembangkit listrik. Perseroan menilai diversifikasi pengguna menjadi penting demi menjaga kesinambungan bisnis ketika aktivitas salah satu sektor mengalami tekanan.

Syah mengatakan perseroan juga berupaya membantu pelanggan mempertahankan efisiensi operasional di tengah kondisi industri yang menantang. Dukungan tersebut dilakukan melalui teknologi pelumasan dan layanan teknis terintegrasi, terutama bagi pelanggan pertambangan yang mengejar keandalan, performa, dan total cost of ownership.

Di sisi pasokan, ExxonMobil mengandalkan fasilitas produksi lokal di Cilegon, Banten. Syah mengatakan sebagian besar produk pelumas yang dipasarkan di Indonesia telah diproduksi di dalam negeri, meski sejumlah produk tertentu masih didatangkan dari luar negeri.

“Khususnya pelumas-pelumas sintetik dan grease. Selain dari itu, kami sudah produksi lokal di sini,” kata dia.

Menurutnya, produk sintetik digunakan untuk kebutuhan operasional dengan kondisi ekstrem, beban tinggi, maupun temperatur tinggi. Pelumas tersebut dapat membantu memperpanjang interval perawatan sekaligus umur komponen, baik untuk kebutuhan manufaktur, heavy duty, maupun otomotif.

Syah juga mengungkapkan gangguan pasokan minyak akibat konflik Iran-Amerika sempat memberikan tekanan terhadap rantai pasok bahan baku di kawasan Asia Pasifik. Kilang-kilang di kawasan tersebut banyak mengandalkan minyak dari Timur Tengah sehingga diperlukan penyesuaian ketika pasokan terganggu.

“Memang pada waktu itu sempat terganggu pasokannya, tapi butuh waktu untuk mencari sumber-sumber yang lain, menyesuaikan juga parameter-parameter di kilang untuk bisa mengolah minyak-minyak yang lain,” ujarnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in Business

    See More