MRT Jakarta Perluas Bisnis Konsultasi: Jangkau Bangladesh & Filipina

- MRT Jakarta memperluas bisnis konsultasi dan pelatihan hingga Bangladesh serta Filipina, sembari melayani benchmark dan konsultasi dari sejumlah kota di Indonesia.
- Di dalam negeri, MRT Jakarta menangani konsultasi LRT Palembang, kajian MRT Surabaya, serta supervisi pengadaan KRL dari Cina dan pelatihan bidang perkeretaapian.
- Segmen non-farebox menyumbang 30% pendapatan perusahaan; konsultasi dan pelatihan berkontribusi 2–3%, sementara pendapatan 2025 mencapai Rp1,49 triliun dan laba Rp15,92 miliar.
Jakarta, FORTUNE - PT MRT Jakarta (Perseroda) terus mendorong pengembangan bisnis non-farebox atau di luar pendapatan tiket. Salah satunya, melalui bisnis konsultasi dan pelatihan.
Division Head Business Planning and Expansion Division, R Samuel Ryan Pradipta Pranowo, mengatakan, cakupan bisnis konsultasi dan pelatihan MRT Jakarta tak hanya menjangkau klien dalam negeri, tapi juga luar negeri.
"Kami sekarang sedang membantu Bangladesh dan Filipina [untuk pengembangan MRT/metro di sana]," kata Samuel kepada Fortune Indonesia, Rabu (9/9). "Sudah ada beberapa kota di Indonesia yang melakukan benchmark dan konsultasi ke kami."
Di dalam negeri, MRT Jakarta telah memberikan konsultasi untuk sejumlah proyek. Contohnya, pengembangan bisnis kereta (farebox) dan di luar kereta (non-farebox) LRT Palembang, serta studi kajian dalam wacana pembangunan MRT di Surabaya.
Selain itu, MRT Jakarta juga berperan sebagai konsultan dalam proses pengadaan rangkaian kereta rel listrik dari Cina.
"Yang supervisi di Cina adalah tim MRT. Kami yang tes di sana sampai akhirnya dibawa ke sini. Jadi kami ada konsultasi di bidang perkeretaan. Kami juga memberikan pelatihan-pelatihan," jelas Samuel.
Bisnis konsultasi merupakan bagian dari segmen non-farebox atau di luar transportasi. Segmen itu berkontribusi sebesar 30 persen terhadap pendapatan perusahaan, sedangkan pendapatan transportasi menyumbang sebesar 20 persen. Lini bisnis itu mencakup aset fisik (periklanan, ritel dan merchant, dan hak penamaan); aset non-fisik (konsultasi dan pelatihan); aset digital; dan Intellectual Property (IP).
Khusus bisnis konsultasi dan pelatihan, yang didorong sejak tahun lalu, kontribusinya terhadap pendapatan telah mencapai 2-3 persen.
Pada 2025, MRT Jakarta membukukan pendapatan senilai Rp1,49 triliun, meningkat sekitar 7,36 persen (YoY). Sejalan dengan itu, laba tahun berjalan perusahaan mencapai Rp15,92 miliar, meningkat 75,22 persen (YoY).





















