Kementerian ESDM Resmikan Bus Hidrogen dan Koridor Hijau Jakarta-Patimban

- Kementerian ESDM meluncurkan Pilot Bus Hydrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) dan membangun Green Hydrogen Corridor sepanjang 194 km dari Jakarta hingga Patimban untuk mendorong transisi energi nasional.
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pengembangan hidrogen penting bagi kemandirian energi, menarik investasi, serta membuka lapangan kerja meski biaya produksinya masih lebih tinggi dibanding bahan bakar fosil.
- Bus H2 DDF hasil kolaborasi ESDM, PLN, DAMRI, SUCOFINDO, dan Tritunggal Prakarsa Global terbukti menurunkan emisi hingga 57% opasitas dan 39% karbon dioksida berdasarkan uji SUCOFINDO.
Jakarta, FORTUNE - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengimplementasikan pengembangan hydrogen dengan meluncurkan Pilot Bus Hydrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) serta pembangunan Green Hydrogen Corridor sepanjang 194 kilometer yang membentang dari Jakarta, Karawang, hingga Patimban.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan hidrogen tidak hanya berperan dalam transisi energi, tetapi juga memperkuat kemandirian dan swasembada energi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global yang memicu kelangkaan pasokan minyak. Di sisi lain, pengembangan energi tersebut dapat menarik investasi, dan membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas.
Meski demikian, Bahlil mengakui biaya pengembangan hidrogen masih menjadi tantangan karena belum mampu bersaing dengan bahan bakar lain, termasuk B50.
"Tetapi keyakinan saya dengan perang terus terjadi, dengan geopolitik yang tidak menentu dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru, maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya," ujar Bahlil," ujar Bahlil, Selasa (21/7).
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menambahkan, pengembangan hidrogen diarahkan untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
"Saat ini kami mempunyai 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya tersebar di seluruh Indonesia dan melahirkan investasi sebesar Rp32 triliun," ujar Eniya.
Pemerintah juga mendorong pemanfaatan hidrogen dalam program dedieselisasi di sejumlah daerah, di antaranya Sumba yang ditargetkan mencapai commercial operation date (COD) pada 2028 serta Pulau Rote melalui kerja sama dengan PLN. Program tersebut diproyeksikan mampu menekan biaya produksi listrik dari sekitar US$1 menjadi US$0,25 per kilowatt hour.
Pengembangan hidrogen diwujudkan melalui Pilot Bus H2 DDF. Bus milik Perum DAMRI itu menggunakan mesin diesel yang dimodifikasi agar dapat beroperasi dengan campuran solar dan gas hidrogen, sehingga mampu mengurangi konsumsi solar dan emisi tanpa perlu mengganti armada yang telah beroperasi.
Proyek percontohan itu dikembangkan melalui kolaborasi Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), Perum DAMRI, dan didukung PT SUCOFINDO (Persero) sebagai lembaga pengujian, inspeksi, dan sertifikasi independent, serta PT Tritunggal Prakarsa Global sebagai pelaksana proyek percontohan bus.
Bus H2 DDF dilengkapi 16 tabung penyimpanan hidrogen berkapasitas masing-masing 50 liter. Tabung itu memiliki tekanan nominal 200 bar dan tekanan kerja 150 bar, sementara sistem hidrogen dipasang pada bus Hino bermesin diesel enam silinder berkapasitas 7.684 cc.
Berdasarkan pengujian PT SUCOFINDO (Persero), sistem H2 DDF mampu menurunkan emisi opasitas sebesar 57,66 persen, karbon monoksida 45,45 persen, karbon dioksida 39,37 persen, dan nitrogen oksida 21,16 persen.




















