Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Bahlil Yakin Kendaraan Hidrogen Bakal Saingi Kendaraan Listrik (EV)

Bahlil Yakin Kendaraan Hidrogen Bakal Saingi Kendaraan Listrik (EV)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (ketiga kanan) berbincang bersama Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi (kedua kiri), Dirut PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo (kanan), Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian (kedua kanan), Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza (kiri) usai meluncurkan bus bertenaga hydrogen pada acara Global Hydrogen Ecosystem 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (21/7). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Intinya Sih
  • Bahlil Lahadalia meyakini kendaraan hidrogen akan menyaingi kendaraan listrik dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan karena potensinya menghasilkan energi bersih dari sumber terbarukan.
  • Pemerintah tengah mengembangkan PLTS berkapasitas 100 GW sebagai fondasi produksi hidrogen hijau untuk mendukung target emisi nol bersih Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.
  • Bahlil menegaskan Indonesia tidak berpihak pada teknologi tertentu dan fokus pada energi bersih, efisien, serta berasal dari dalam negeri sambil menyiapkan regulasi guna mempercepat ekosistem hidrogen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, meyakini kendaraan berbasis hidrogen akan menjadi pesaing kendaraan listrik berbasis baterai (electric vehicle/EV). Menurutnya, meningkatnya perhatian dunia terhadap isu lingkungan akan mendorong adopsi teknologi hidrogen sebagai alternatif transportasi rendah emisi.

Pernyataan tersebut dia sampaikan saat membuka ajang Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026. Ia menilai hidrogen berprospek besar karena mampu menghasilkan energi bersih, terutama jika diproduksi menggunakan listrik yang berasal dari energi terbarukan.

"Keyakinan saya, paling lambat lima sampai sepuluh tahun ke depan hidrogen ini akan menyaingi kendaraan listrik yang berbasis baterai," kata Bahlil seperti disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian ESDM, Selasa (21/7).

Pemerintah saat ini tengah mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas hingga 100 gigawatt (GW). Infrastruktur tersebut dipandang dapat menjadi fondasi bagi produksi hidrogen hijau (green hydrogen), yakni hidrogen yang dihasilkan menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan.

Dengan konsep tersebut, proses produksi hingga hasil akhirnya sama-sama rendah emisi.

"Produknya bersih, prosesnya, instrumennya, listriknya juga bersih. Jadi, bersih plus bersih, hasilnya bersih kuadrat," kata Bahlil.

Menurut dia, pemanfaatan hidrogen akan membantu Indonesia menekan emisi karbon sekaligus mendukung pencapaian target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.

"Kalau ini mampu kita lakukan, maka kita bisa menurunkan CO2. Target Indonesia menuju emisi nol bersih bisa betul-betul kita lakukan," ujarnya.

Persaingan teknologi hidrogen dan EV

Bahlil mengakui perkembangan kendaraan hidrogen dan kendaraan listrik berbasis baterai selama ini diwarnai persaingan teknologi di tingkat global. Ia menyebut Jepang sebagai salah satu negara yang sejak awal mendorong pengembangan hidrogen, sementara Cina lebih agresif mengembangkan kendaraan listrik berbasis baterai.

Meski demikian, Bahlil menegaskan pemerintah Indonesia tidak ingin berpihak pada salah satu kubu teknologi. Baginya, kebijakan energi nasional harus didasarkan pada kepentingan Indonesia, bukan mengikuti preferensi negara tertentu.

"Bagi saya, keberpihakan negara ditentukan dari yang pertama tetap memakai energi bersih, yang kedua energi yang efisien, dan yang ketiga energi itu bisa dihasilkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan hidrogen juga menjadi salah satu instrumen penting memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

Meski optimistis terhadap masa depan hidrogen, Bahlil mengakui percepatan pengembangan ekosistem hidrogen masih menghadapi sejumlah tantangan.

Menurutnya, terdapat empat faktor utama yang harus dipenuhi, yakni kesiapan teknologi, terbentuknya pasar, masuknya investasi, serta dukungan regulasi yang memadai.

Karena itu, Kementerian ESDM membuka ruang diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun regulasi yang dapat mempercepat pengembangan industri hidrogen di Indonesia.

"Kami di Kementerian ESDM sangat terbuka untuk berdiskusi mengenai regulasi apa yang dibutuhkan agar percepatannya bisa lebih efisien," ujar Bahlil.

 

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More