Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Harga Beras Naik, Pemerintah Gelontorkan Beras SPHP 1 Juta Ton

Harga Beras Naik, Pemerintah Gelontorkan Beras SPHP 1 Juta Ton
ilustrasi beras (freepik.com/Zirconicusso)
  • Pemerintah menambah 1 juta ton beras SPHP medium untuk Oktober-Desember 2026 setelah sisa kuota sebelumnya 828 ribu ton tinggal sekitar 80 ribu ton.

  • Tambahan pasokan disiapkan merespons kenaikan harga saat paceklik dan kemarau panjang. Beras subsidi ditargetkan dijual Rp12.000-Rp12.500 per kilogram melalui 10 kanal Bulog.

  • Mulai 20 Oktober 2026, kemasan SPHP berganti menjadi Beras Kita Medium tanpa menghapus identitas program.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Pemerintah menambah pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium sebanyak 1 juta ton untuk periode Oktober hingga Desember 2026. Kebijakan ini diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas antara Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, dan Perum Bulog pada Senin (7/9).

Tambahan tersebut disiapkan saat harga beras mulai bergerak naik di tengah kemarau panjang. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan harga beras di pasar telah meningkat sekitar Rp100-Rp200 per kilogram akibat terbatasnya produksi pada periode paceklik.

  1. Stok SPHP awal tinggal 80 ribu ton

    Tambahan 1 juta ton tersebut diberikan setelah alokasi SPHP sebelumnya hampir tersalurkan. Pemerintah menetapkan kuota 828 ribu ton, dan menurut Zulhas, stok yang tersisa sekitar 80 ribu ton.

    "Itu yang kita dulu putuskan 828 ribu sudah tinggal 80 ribu lagi, medium, SPHP itu. Kita tambah lagi tadi 1 juta (ton) SPHP medium. Jadi beras yang disubsidi yang dijual di pasar kira-kira harganya Rp12 ribu, Rp12.500 paling mahal," ujar Zulhas dalam konferensi pers, Senin (7/9).

    Artinya, tambahan kuota akan menjadi pasokan berikutnya setelah stok dari alokasi sebelumnya disalurkan. Pemerintah menargetkan beras subsidi tersebut tersedia di pasar dengan harga sekitar Rp12.000-Rp12.500 per kilogram.

  2. Bulog salurkan lewat berbagai kanal

    Perum Bulog menjadi pelaksana penyaluran tambahan beras tersebut. Distribusinya dilakukan melalui sejumlah kanal yang menjangkau konsumen, termasuk Rumah Pangan Kita (RPK), Gerakan Pangan Murah, hingga Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

    Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan jaringan distribusi tersebut akan digunakan untuk memperluas penyaluran beras pemerintah.

    "Pokoknya 10 saluran, sampai ke RPK dan KDKMP masuk itu semua," ujar Rizal.

    Dengan skema tersebut, beras SPHP tidak hanya disalurkan melalui satu jaringan penjualan. Bulog akan menggunakan kanal distribusi yang telah disiapkan pemerintah untuk menjangkau pasar.

  3. Harga beras pasar mulai naik

    Kenaikan harga juga terlihat dalam data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) pada Senin (7/9). Harga beras medium I tercatat naik 0,35 persen menjadi Rp16.600 per kilogram, sedangkan beras medium II meningkat 0,31 persen menjadi Rp16.350 per kilogram.

    Harga beras super I dan II atau premium juga naik 0,28 persen menjadi Rp17.900 per kilogram. Pergerakan tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menambah pasokan beras subsidi.

    Zulhas mengatakan kenaikan sekitar Rp100-Rp200 per kilogram terjadi ketika produksi padi menurun.

    "Jadi nggak ada produksi. Oleh karena itu karena supply and demand, ya, tidak ada produksi pasti harganya naik. Ada naik Rp100, ada yang Rp200," kata Zulhas.

    Pemerintah kemudian menggunakan tambahan SPHP untuk menambah pasokan di pasar selama periode tanpa panen.

  4. SPHP berganti nama menjadi Beras Kita

    Di tengah penambahan pasokan, pemerintah juga menyiapkan perubahan identitas produk. Mulai 20 Oktober 2026, kemasan beras SPHP akan menggunakan nama Beras Kita Medium dengan desain dominan biru dan putih.

    Nama SPHP tetap dicantumkan pada kemasan sebagai keterangan bahwa produk tersebut merupakan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan. Perubahan nama tidak menghilangkan identitas program subsidi pemerintah.

    Rizal menjelaskan nama Beras Kita dipilih mengikuti sejumlah produk pangan pemerintah lainnya, seperti MinyaKita dan Gula ManisKita. Bulog juga menyiapkan Beras Kita Premium, tetapi subsidi pemerintah tetap diberikan untuk beras medium melalui skema SPHP.

  5. Kemasan lama tetap disalurkan

    Bulog tidak akan menarik kemasan SPHP lama dari pasar ketika kemasan baru mulai diperkenalkan. Stok lama akan tetap disalurkan sampai habis.

    "Masih. Makanya harus dihabiskan secepat mungkin untuk disalurkan. Sehingga nanti kita mulai membuat kemasan yang baru seperti ini," ujar Rizal.

    Perubahan kemasan juga ditujukan agar produk beras pemerintah dapat bersaing dengan produk swasta. Bulog menyatakan peningkatan tidak hanya dilakukan pada tampilan kemasan, tetapi juga mutu beras dan pelayanan kepada masyarakat.

    Pemerintah menyiapkan tambahan pasokan tersebut untuk melewati periode Oktober-Desember 2026, sementara penyaluran stok lama tetap berjalan hingga kemasan SPHP sebelumnya terserap.

    terserap. FAQ seputar pemerintah gelontorkan beras SPHP

    Berapa tambahan beras SPHP yang disiapkan pemerintah?

    Pemerintah menambah 1 juta ton beras SPHP medium untuk Oktober-Desember 2026.

    Berapa harga beras SPHP yang ditargetkan di pasar?

    Harga beras subsidi tersebut diperkirakan sekitar Rp12.000-Rp12.500 per kilogram.

    Siapa yang menyalurkan beras SPHP?

    Perum Bulog menjadi pelaksana penyaluran melalui 10 kanal distribusi.

    Apa nama baru beras SPHP?

    Mulai 20 Oktober 2026, kemasan baru menggunakan nama Beras Kita Medium.

Share Article
Editorial Team

Latest in News

See More